VinFast genjot ekspansi Asia meski rugi bersih membengkak 59%
Selasa, 09 Juni 2026
JAKARTA - Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, mencatatkan pendapatan sebesar 23,11 triliun dong Vietnam atau sekitar US$877,24 juta pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut naik 41,7% dibandingkan 16,31 triliun dong pada periode yang sama tahun lalu.
Mengutip Reuters, rugi bersih perusahaan meningkat 59% secara tahunan menjadi 28,11 triliun dong. Meski demikian, dibandingkan kuartal IV-2025, kerugian VinFast menyusut 25,1%.
Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh peningkatan permintaan kendaraan listrik di sejumlah pasar utama Asia Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, VinFast mengalihkan fokus ekspansi ke Asia Tenggara dan India yang dinilai memiliki basis konsumen besar serta potensi pertumbuhan kendaraan listrik yang lebih tinggi.
Sebaliknya, penjualan kendaraan listrik di Amerika Serikat dan sejumlah pasar internasional lainnya masih bergerak lambat, mendorong perusahaan untuk memperkuat penetrasi di pasar Asia. Meski mencatat pertumbuhan pendapatan yang solid, saham VinFast turun sekitar 5% pada perdagangan pra-pasar setelah perusahaan merilis laporan keuangannya.
Untuk memperluas jaringan distribusi, VinFast memperkuat kerja sama dengan GSM, perusahaan taksi yang didirikan Chairman VinFast, Pham Nhat Vuong. Berdasarkan perjanjian yang telah diteken, VinFast akan memasok sekitar 1 juta mobil listrik dan 4 juta skuter listrik kepada GSM sepanjang periode 2026-2030.
Pada kuartal pertama 2026, penjualan kepada GSM berkontribusi sebesar 13% terhadap total penjualan kendaraan roda empat dan 1% terhadap penjualan kendaraan roda dua.
Eksekutif Senior VinFast, Anne Pham mengatakan kontribusi GSM berpotensi meningkat menjadi 15% setelah program berjalan penuh. Selain itu, GSM berencana memperluas operasinya ke lima negara tambahan sebelum akhir tahun ini dari lima negara yang telah beroperasi saat ini.
Di tengah upaya memperkuat struktur keuangan, VinFast bulan lalu mengumumkan rencana penjualan fasilitas manufakturnya di Vietnam senilai 13,3 triliun dong. Dalam transaksi tersebut, kelompok pembeli juga akan mengambil alih utang perusahaan sekitar US$6,9 miliar.
Sementara itu, di Amerika Serikat, VinFast menghadapi gugatan dari negara bagian North Carolina terkait dugaan kegagalan memenuhi komitmen pembangunan pabrik kendaraan listrik dan baterai. Meski demikian, perusahaan menegaskan tetap melanjutkan proyek tersebut dengan target operasional pada 2028 dan mempertahankan komitmennya di pasar AS.(DH)