UBS Group pangkas separuh tim ESG Asia, mengapa?

Selasa, 09 Juni 2026

image

JAKARTA - UBS Group memangkas hampir separuh tenaga kerja yang menangani aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di Asia sebagai bagian dari restrukturisasi global pasca-akuisisi Credit Suisse.

Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, UBS mengurangi jumlah staf di kantor keberlanjutan kawasan Asia dari tujuh orang menjadi tiga orang dalam beberapa bulan terakhir. Pemangkasan itu mencakup sejumlah pejabat senior dan menengah yang berbasis di Hong Kong dan Singapura.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya UBS merampingkan fungsi ESG di tingkat global setelah proses integrasi Credit Suisse. Jumlah pegawai di Chief Sustainability Office dilaporkan menyusut menjadi sekitar 35 orang dari lebih dari 100 orang pada pertengahan 2023.

UBS menolak mengomentari secara spesifik terkait pengurangan tenaga kerja tersebut. Namun, perusahaan menegaskan perubahan dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian pendekatan terhadap isu keberlanjutan.

"Ambisi kami untuk memposisikan UBS sebagai pemimpin dalam keberlanjutan tetap tidak berubah," kata juru bicara UBS, seperti dikutip Straitstimes.

"Kami menerapkan prinsip keberlanjutan di seluruh grup untuk memperkuat penyampaian layanan, meningkatkan produktivitas, menghindari duplikasi, dan mendukung klien serta bisnis kami dalam skala besar."

Pengurangan fungsi ESG di UBS terjadi di tengah tren serupa yang dilakukan sejumlah bank global. Perubahan arah kebijakan politik dan regulasi di Amerika Serikat mendorong banyak institusi keuangan mengurangi fokus pada program ESG yang sebelumnya menjadi prioritas.

Beberapa bank besar telah mengambil langkah serupa. Goldman Sachs menghapus target keberagaman dari dokumen regulasinya pada 2025. HSBC merevisi target penurunan emisi, sementara Standard Chartered mengakui tantangan dalam mencapai sejumlah sasaran iklim. UBS juga telah keluar dari Net-Zero Banking Alliance, mengikuti langkah sejumlah bank global lainnya.

Restrukturisasi UBS tidak hanya menyasar kantor keberlanjutan. Bank tersebut sebelumnya membubarkan tim Sustainability and Impact Institute pada Desember 2024 yang berfokus pada riset dan pengembangan pemikiran terkait keberlanjutan.

Selain itu, tim pengelolaan data ESG yang sebelumnya beranggotakan sekitar 10 orang kini praktis hanya menyisakan satu pegawai setelah sebagian besar staf dipindahkan ke unit lain.

Fungsi social impact dan filantropi juga mengalami perampingan. Jumlah tenaga kerja di unit tersebut turun menjadi sekitar 86 orang dari sebelumnya sekitar 150 orang sebelum integrasi Credit Suisse. Meski demikian, sedikitnya 40 pegawai dialihkan ke berbagai fungsi lain di dalam organisasi.

Di tengah langkah efisiensi tersebut, UBS mengklaim tetap mencatat kemajuan dalam pencapaian target keberlanjutan. Bank tersebut menyebut emisi operasional dan konsumsi listrik berhasil ditekan 48% pada 2025 dibandingkan level 2023.

UBS juga melaporkan telah melampaui target pendanaan filantropi sebesar US$1 miliar pada 2025 lebih cepat dari jadwal, dengan program yang menjangkau lebih dari 26,5 juta penerima manfaat di berbagai negara.(DH)