Iran dan AS buntu, kapal komersial mulai lintasi Selat Hormuz
Selasa, 09 Juni 2026
JAKARTA - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait masa depan jalur pelayaran strategis tersebut masih menemui jalan buntu.
Sejumlah lembaga pemantau maritim melaporkan ratusan kapal komersial telah berhasil keluar dari Teluk Persia dalam beberapa pekan terakhir. Sebagian kapal menempuh perjalanan tanpa mengaktifkan sistem pelacakan (dark transit), sementara lainnya melintas melalui jalur yang disetujui Iran atau mendapat pendampingan dari militer AS.
Pergerakan kapal masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang, ketika sekitar 140 kapal komersial melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, data terbaru menunjukkan aktivitas pelayaran mulai kembali berlangsung.
Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat lebih dari 80 kapal komersial telah melintasi Selat Hormuz dan keluar dari Teluk Persia dalam lima pekan terakhir. Kapal-kapal tersebut memperoleh akses melalui negosiasi dengan Iran atau dukungan pasukan Amerika Serikat.
"Kami percaya bahwa sebagian besar, tetapi tidak semua, transit gelap yang telah terjadi telah terjadi dengan sepengetahuan dan izin Iran melalui negosiasi tingkat diplomatik," kata analis Windward Michelle Bockmann, seperti dikutip Abc.net.
Windward juga mencatat hampir 40 perjalanan tanpa pelacakan terjadi antara 1 Maret hingga 7 Mei, tidak lama setelah pecahnya konflik di kawasan.
Data dari Lloyd's List menunjukkan sekitar 40 kapal non-Iran yang sebelumnya terjebak berhasil keluar dari Teluk Persia dalam tiga pekan hingga 3 Juni. Sejak Maret, total kapal yang berhasil keluar mencapai 142 unit.
Sementara itu, perusahaan intelijen maritim Kpler mencatat jumlah yang lebih tinggi. Sejak gencatan senjata diumumkan hingga awal Juni, sebanyak 264 kapal dilaporkan keluar dari Teluk Persia, termasuk 22 kapal berbendera Iran.
Selain kapal yang keluar, sejumlah kapal tanker kosong milik Iran juga dilaporkan berhasil memasuki perairan Iran meski armada laut AS masih melakukan patroli di Teluk Oman untuk menegakkan blokade terhadap ekspor minyak Iran.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian sejak Iran memperketat kontrol terhadap jalur yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia serta sepertiga pasokan pupuk global.
Analis International Crisis Group Christopher Newton menilai jalur tersebut pada dasarnya tidak pernah benar-benar tertutup sepenuhnya selama konflik berlangsung.
"Selat itu sebagian terbuka karena, pada dasarnya, kondisinya memang sudah seperti itu sepanjang perang," ujarnya.
"Baik Iran maupun AS menginginkan lalu lintas tertentu yang mereka setujui dengan syarat mereka sendiri, lebih dari keinginan salah satu dari mereka untuk menutupnya sepenuhnya."
Menurut Newton, Iran dan Amerika Serikat sama-sama mengizinkan lalu lintas kapal tertentu berdasarkan kepentingan masing-masing.
Sebagian besar kapal yang melintas mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) untuk alasan keamanan, menghindari sanksi, atau menghindari keterkaitan dengan sistem perizinan yang diterapkan Iran.
Iran kini mengoperasikan jalur pelayaran khusus yang dikenal sebagai "tollbooth route" di sisi utara Selat Hormuz. Kapal yang menggunakan jalur tersebut diduga memperoleh persetujuan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk melintas.
Di sisi lain, sejumlah kapal memilih jalur selatan yang lebih dekat ke pantai Oman. Jalur ini dinilai lebih aman karena risiko ranjau laut lebih rendah dan pernah menjadi bagian dari rencana operasi Amerika Serikat untuk mengawal kapal komersial keluar dari kawasan.
Meski lalu lintas mulai bergerak, masa depan Selat Hormuz masih menjadi salah satu isu utama dalam negosiasi antara Washington dan Teheran.
Iran juga terus mendorong pembentukan mekanisme baru bersama Oman untuk mengatur lalu lintas pelayaran dan layanan di Selat Hormuz. Pemerintah Iran bahkan tengah mengkaji regulasi yang akan memperkuat kontrol negara terhadap jalur strategis tersebut.
Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, mengatakan Selat Hormuz akan tetap dibuka dengan aturan baru yang disepakati Iran dan Oman. "Tentu saja selat ini akan dibuka, tetapi dengan syarat-syarat baru yang akan ditentukan oleh pihak berwenang Iran dan Oman."
Menurut para analis, tujuan utama Iran bukan sekadar memperoleh pendapatan dari biaya pelayaran, melainkan memperkuat pengaruh geopolitik dan posisi tawarnya dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.
"Iran memegang kekuasaan itu karena Iranlah yang telah mengganggu pelayaran dan AS adalah pihak yang gagal mencegah gangguan tersebut," kata Newton.
Meski sejumlah kapal telah menemukan cara untuk melintas, negosiasi resmi terkait masa depan Selat Hormuz masih belum menunjukkan titik terang. Para analis menilai kedua pihak masih terjebak dalam kebuntuan yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.(DH)