Di tengah krisis, upaya lengserkan CEO Honda berujung gagal
Jumat, 26 Juni 2026
TOKYO - Sejumlah mantan petinggi Honda Motor dilaporkan berupaya menyingkirkan CEO Toshihiro Mibe di tengah berbagai tantangan yang dihadapi produsen otomotif Jepang tersebut.
Namun, upaya tersebut gagal setelah Mibe tetap mendapatkan dukungan dari dewan direksi perusahaan.
Dikutip dari Reuters, sekelompok eksekutif senior yang telah pensiun mulai menggelar pertemuan tertutup sejak akhir tahun lalu untuk membahas kondisi Honda dan kepemimpinan Mibe yang mereka nilai sebagai penyebab utama berbagai permasalahan yang terjadi di perusahaan.
Dalam serangkaian pertemuan dan diskusi yang berlangsung selama beberapa bulan, mereka menuding Mibe mengabaikan pasar Tiongkok yang merupakan pasar otomotif terbesar di dunia serta mengambil keputusan keliru terkait strategi kendaraan listrik.
Kelompok tersebut juga menilai fokus Honda terhadap kendaraan listrik berpotensi menyebabkan perusahaan mencatat kerugian tahunan pertama dalam hampir 70 tahun.
Pada April lalu, mantan CEO Honda Nobuhiko Kawamoto yang turut terlibat dalam diskusi tersebut bahkan mendatangi kantor pusat Honda di Tokyo dan meminta Mibe mengundurkan diri.
Namun, Mibe menolak permintaan tersebut dan tetap mempertahankan posisinya.
Tekanan Industri Otomotif
Perselisihan internal di Honda mencerminkan tantangan yang kini dihadapi banyak produsen otomotif konvensional di seluruh dunia.
Industri otomotif Jepang menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari tarif impor Amerika Serikat hingga meningkatnya persaingan dari produsen kendaraan listrik asal Tiongkok.
Di sisi lain, permintaan kendaraan listrik di Jepang masih relatif rendah sehingga produsen otomotif harus menanggung biaya besar untuk mempertahankan bisnis kendaraan konvensional sekaligus mengembangkan kendaraan listrik guna bersaing di pasar global.
Pada bulan lalu, Honda juga menarik kembali target untuk sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik pada 2040.
Perusahaan membukukan penghapusan nilai aset terkait kendaraan listrik senilai sekitar US$9 miliar setelah membatalkan pengembangan tiga model kendaraan listrik. Total dampak finansialnya diperkirakan dapat mencapai US$12 miliar.
Langkah tersebut mengikuti sejumlah produsen otomotif besar lainnya seperti Ford, General Motors, dan Nissan yang juga memangkas berbagai proyek kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir.
Kehilangan Pijakan di Tiongkok
Salah satu kritik terbesar terhadap Mibe adalah menurunnya posisi Honda di pasar Tiongkok.
Para mantan petinggi Honda menilai Mibe terlalu jarang mengunjungi China dan kurang memahami kondisi pasar di lapangan.
Dalam budaya Honda, terdapat konsep "genba" yang merujuk pada lokasi nyata tempat bisnis dijalankan, seperti pabrik, ruang pamer, maupun pasar tempat produk digunakan konsumen.
Menurut para mantan eksekutif tersebut, manajemen puncak Honda telah kehilangan kedekatan dengan "genba", khususnya di Tiongkok.
Selama masa kepemimpinan Mibe, pangsa pasar Honda di Tiongkok turun tajam dari sekitar 8% pada 2020 menjadi kurang dari 3% pada tahun lalu.
Honda membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa fokus pada kondisi lapangan tetap menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.
Meski mendapat tekanan dari sejumlah mantan petinggi perusahaan, Mibe tetap memperoleh dukungan dari komite nominasi dewan direksi Honda.
Seperti banyak perusahaan Jepang lainnya, Honda dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan peran direktur independen sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola perusahaan.
Perubahan tersebut secara bertahap mengurangi pengaruh mantan eksekutif dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Mibe yang telah menjabat sebagai CEO sejak 2021 juga telah menyampaikan rencana pemulihan bisnis otomotif Honda, termasuk memangkas biaya pengembangan sistem hybrid generasi baru hingga 30%.
Namun, sejumlah pemasok Honda mengaku belum diajak berdiskusi mengenai langkah efisiensi tersebut.
Ketegangan internal juga dilaporkan meningkat karena divisi sepeda motor Honda yang mencatat laba rekor tahun lalu merasa harus menopang kinerja bisnis mobil yang tengah tertekan.
Meski demikian, Mibe masih mempertahankan dukungan dewan direksi dan untuk sementara berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin Honda di tengah salah satu periode paling menantang dalam sejarah perusahaan. (ARF)