Ketua OJK: Unsur trust fondasi utama masa depan industri kripto RI
Selasa, 09 Juni 2026
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat (trust) merupakan fondasi utama dalam pengembangan industri aset kripto dan keuangan digital di Indonesia.Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi atau yang akrab disapa Kiki, mengatakan masa depan aset keuangan digital Indonesia harus dibangun di atas tiga fondasi utama, yakni regulasi yang jelas, tata kelola yang kuat, dan pelindungan konsumen."Kepercayaan adalah aset utama dalam industri keuangan. Tanpa kepercayaan, teknologi sehebat apa pun tidak akan cukup dan inovasi tidak akan berubah menjadi adopsi," ujar Kiki dalam acara CFX Crypto Conference (CCC) 2026, di Jakarta, 8/6/26/Menurutnya, Indonesia telah mencatat kemajuan signifikan dalam industri aset kripto. Saat ini Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia dalam adopsi aset kripto dengan jumlah investor mencapai 21,7 juta orang, meningkat sekitar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.Selain pertumbuhan jumlah investor, nilai transaksi aset kripto juga terus meningkat dan diharapkan dapat mendukung pendalaman pasar keuangan nasional guna mempercepat pertumbuhan ekonomi."Untuk mempercepat pertumbuhan nasional dibutuhkan berbagai upaya pendalaman pasar, inovasi lokal dan regional, serta peningkatan manfaat dan nilai tambah dari industri aset digital," katanya.Kiki menjelaskan OJK terus mendorong inovasi melalui program Regulatory Sandbox sebagai ruang uji coba inovasi keuangan digital yang aman dan terukur.Hingga saat ini, OJK telah menerima 33 permohonan sandbox dan empat peserta telah menyelesaikan tahap pengujian untuk masuk ke ekosistem yang lebih luas.
Berbagai inovasi yang tengah diuji antara lain tokenisasi emas, tokenisasi manfaat kepemilikan properti, dan berbagai model bisnis berbasis teknologi lainnya.Meski mendukung inovasi, OJK tetap menekankan prinsip bahwa aktivitas yang sama dengan risiko yang sama harus diatur dengan regulasi yang sama.
Karena itu, pengembangan industri harus berlangsung secara adil, transparan, tertib, dan tangguh.
Kiki juga menegaskan bahwa pengembangan ekosistem aset digital harus memberikan dampak nyata bagi perekonomian, mulai dari memperluas pembiayaan produktif dan inklusi keuangan hingga menarik investasi asing dan menciptakan lapangan kerja.
"Kita harus memastikan nilai ekonomi yang tercipta dari aset digital dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional," ujarnya.
Di sisi lain, OJK mengingatkan adanya risiko penipuan dan kejahatan digital yang perlu diantisipasi bersama.
Menurut Kiki, sejumlah kasus penipuan belakangan juga ditemukan memanfaatkan ekosistem aset digital sehingga pengawasan dan mitigasi risiko harus terus diperkuat.
"OJK mendukung inovasi yang bertanggung jawab dan pertumbuhan yang sehat dengan tata kelola yang kuat. Inovasi harus berjalan dalam kerangka yang aman dengan kepercayaan sebagai fondasi," katanya.
Menutup sambutannya, Kiki mengingatkan bahwa masa depan industri aset digital tidak ditentukan oleh siapa yang berinovasi paling cepat, melainkan oleh siapa yang mampu berinovasi secara bertanggung jawab dan memperoleh kepercayaan publik.
"Masa depan bukan milik mereka yang berinovasi paling cepat, melainkan mereka yang berinovasi secara bertanggung jawab dan mampu meraih kepercayaan masyarakat."
"Jika industri kripto ingin melangkah lebih jauh, yang harus dijaga bukan hanya teknologinya, tetapi juga kepercayaan investor dan masyarakat," ujarnya.
Pengusaha sekaligus investor CFX, Hashim Sujono Djojohadikusumo, menilai aset kripto memiliki potensi besar untuk mempercepat transaksi keuangan dan meningkatkan perputaran ekonomi.
Namun, ia mengingatkan bahwa industri kripto harus diawasi secara ketat agar tidak dimanfaatkan untuk pencucian uang, judi online, maupun penghindaran pajak.
Dalam sambutannya pada perayaan hari jadi ketiga PT Central Finansial X (CFX), Hashim mengaku awalnya bersikap skeptis terhadap aset kripto.
Keraguannya saat itu sejalan dengan pandangan sejumlah tokoh keuangan dunia seperti Warren Buffett, Jamie Dimon, dan Lloyd Blankfein yang pernah mempertanyakan prospek aset digital."Saya waktu itu mulai tidak terlalu nyaman. Saya ini mungkin generasi lama sebelum era digital, sehingga tidak begitu memahami kripto. Saya seperti Warren Buffett. Kalau orang-orang yang lebih pintar dari saya saja masih ragu, apalagi saya," ujar Hashim.Namun setelah mempelajari lebih dalam, ia melihat manfaat nyata teknologi kripto, terutama dalam mempercepat transaksi pembayaran lintas negara. (DK)