Dolar AS perkasa, mata uang Asia tertekan serentak
Selasa, 09 Juni 2026
SINGAPURA - Sejumlah mata uang Asia mengalami tekanan dalam sepekan terakhir akibat menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Beberapa mata uang bahkan jatuh ke level terendah baru terhadap dolar AS maupun dolar Singapura.
Seperti dikutip TheBusinessTimes, tekanan tersebut muncul di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada Jumat (5/6) menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan.
Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan. Dalam sepekan terakhir, rupiah beberapa kali mencetak rekor terendah baru sepanjang sejarah.
Mata uang Indonesia itu menembus level Rp14.000 per dolar Singapura pada Rabu lalu dan pada Senin kembali melemah ke rekor terendah terhadap dolar AS setelah sebelumnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Analis menilai rupiah, yen Jepang, dan won Korea Selatan menghadapi tekanan depresiasi yang signifikan akibat sikap hawkish The Fed serta semakin lebarnya selisih suku bunga dengan AS.
Bagi Indonesia, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah serta derasnya arus keluar modal dari pasar saham dan obligasi domestik.
Sementara itu, yen terus berada di dekat level terendah dalam beberapa tahun terakhir meskipun pemerintah Jepang telah melakukan intervensi pasar. Kondisi tersebut terjadi karena perbedaan suku bunga antara Bank of Japan (BOJ) dan The Fed masih sangat lebar.
Di tengah pelemahan mata uang regional, dolar Singapura justru menunjukkan kinerja yang lebih kuat.
Investor cenderung memilih dolar Singapura karena dianggap sebagai aset aman (safe haven) di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Dalam sebulan terakhir, dolar Singapura menguat sekitar 3% terhadap rupiah dan 0,5% terhadap yen. Sepanjang tahun ini,, penguatannya masing-masing mencapai 8,7% dan 1,9%.
Sementara itu, Indonesia hanya lima bulan setelah mencetak rekor tertinggi pada Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah anjlok sekitar 38% dan mendekati level terendah dalam hampir enam tahun terakhir.
Rencana evaluasi status kelayakan investasi Indonesia oleh MSCI serta kekhawatiran terhadap campur tangan pemerintah dalam ekspor komoditas turut memperburuk sentimen pasar.
Kenaikan harga minyak juga menambah tekanan terhadap posisi fiskal Indonesia.
Surplus perdagangan Indonesia pada April menyusut menjadi hanya US$89 juta dari US$3,3 miliar pada Maret, sekaligus menjadi yang terendah dalam hampir enam tahun terakhir.
Penurunan tersebut terjadi setelah impor minyak mentah dan bahan bakar olahan meningkat tajam.
Inflasi tahunan Indonesia pada Mei juga bergerak mendekati batas atas target Bank Indonesia.
Analis UOB Kay Hian, Suryaputra Wijaksana, menilai perang antara AS dan Iran kini mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian Indonesia dan keseimbangan eksternal negara.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut sepanjang 2026.
Bank Indonesia pada 29 Me 2026 menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah.
Analis DBS mencatat Bank Indonesia telah berupaya menarik arus modal masuk dengan mempertahankan suku bunga jangka pendek pada level tinggi, termasuk melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada bulan lalu.
Meski demikian, Wijaksana menilai intervensi di pasar spot maupun pasar non-deliverable forward (NDF) hanya akan memperlambat pelemahan rupiah dan belum cukup untuk membalikkan tren yang terjadi.
Ancaman Tarif AS
Selain faktor suku bunga dan harga energi, usulan tarif baru Amerika Serikat berdasarkan ketentuan Section 301 juga menambah tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia yang bergantung pada perdagangan internasional.
Kepala Riset Valas Maybank, Saktiandi Supaat, mengatakan retorika tarif dari AS mulai memengaruhi pergerakan nilai tukar di kawasan meskipun fundamental sejumlah negara masih relatif kuat.
Menurutnya, dolar Singapura diperkirakan tetap lebih kuat dibandingkan mata uang regional lainnya karena paparan langsung Singapura terhadap tarif tersebut relatif lebih rendah.
Terhadap ringgit Malaysia, dolar Singapura menguat sekitar 1,9% dalam sebulan terakhir dan berada di level 3,15 pada Senin.
Sementara terhadap won Korea Selatan, dolar Singapura menguat sekitar 3% dalam periode yang sama dan bahkan mencapai rekor tertinggi baru di level 1.206.
Saktiandi menilai dampak tarif baru AS akan lebih terasa bagi won karena sentimen negatif yang sudah lebih dulu membebani mata uang tersebut.
Tekanan tersebut diperparah oleh tingginya biaya impor energi dan aksi jual di pasar saham Korea Selatan.
Di Thailand, baht juga menghadapi tantangan jangka panjang akibat perlambatan ekonomi domestik, potensi guncangan harga energi, serta risiko perubahan neraca transaksi berjalan menjadi defisit yang dapat menambah tekanan terhadap mata uang tersebut. (ARF)