TBIG sebut Internet Rakyat untungkan industri menara telekomunikasi

Selasa, 09 Juni 2026

image

JAKARTA – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), emiten infrastruktur telekomunikasi di bawah naungan Grup Saratoga, mengaku bahwa Perseroan telah mendapat banyak pesanan dari proyek Internet Rakyat (IRA) besutan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).

“Tower Bersama, dari sejak tahun lalu, sudah bekerja sama dengan WIFI atau Internet Rakyat, dan sudah mendapatkan cukup banyak pesanan,” ungkap Herman Setya Budi, Presiden Direktur TBIG, dalam gelaran Paparan Publik TBIG, Selasa (9/6).

Selain itu, menurut Helmy Yusman Santoso, Direktur Keuangan TBIG, proyek IRA berteknologi FWA (Fixed Wireless Access) 5G ini merupakan “angin segar” bagi industri menara telekomunikasi.

Pasalnya, sebagian besar infrastruktur menggunakan skema collocation, yang memasangkan BTS (Base Transceiver Station) di menara-menara telekomunikasi eksisting, termasuk milik TBIG, sehingga meningkatkan tenancy menara.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa skema kolokasi ini juga menguntungkan Perseroan, karena TBIG tak perlu mengeluarkan capital expenditure (capex) untuk membangun menara baru.

“Jadi, kita bukan hanya dapet revenue dari tiga operator yang udah jadi anchor sekarang, tapi kita ada pemain baru ini. Nah, mereka butuh infrastruktur, dan kita juga kecipratan,” ujar Helmy saat ditemui kesempatan yang sama.

Peluang sumber pendapatan baru ini hadir di tengah tantangan industri, imbas konsolidasi operator telekomunikasi pada akhir 2024, yaitu PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), hasil merger XL Axiata dan Smartfren.

Pascamerger tersebut, Herman mengakui bahwa Perseroan harus membongkar beberapa menara dalam jumlah yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025.

“Pengurangan tenancy terjadi di tahun 2025, sekitar 100-an, namun pembangunan tower baru juga meningkat,” tegasnya. Sebagai catatan TBIG hanya membangun menara berdasarkan pesanan dari kliennya.

Manajemen juga menatap optimistis tingkat permintaan tower di tahun 2026, setelah melihat kinerja operasionalnya pada kuartal I.

Menurut data yang dipaparkan manajemen TBIG, Perseroan telah membangun 599 tower baru, serta 209 kolokasi, atau total 808 tenant hingga akhir kuartal I 2026.

Angka ini sudah setara dengan 63% total tenant sepanjang 2025 lalu, yaitu 797 site tower baru dan 483 kolokasi – atau total 1.280 tenant.

Lebih lanjut, Helmy meyakini bahwa kontraksi tingkat tenancy akibat konsolidasi tersebut hanya akan terasa dalam jangka pendek.

Menurutnya, wajar jika perusahaan hasil merger membutuhkan waktu mengonsolidasikan usaha. Ia memproyeksikan bahwa setelahnya, perusahaan akan mulai kembali berekspansi dengan giat.

Selain bisnis tower, TBIG diketahui juga mendapat sumber pendapatan dari segmen fiber optic, serta memfasilitasi rollout FTTH dan layanan internet berbagai operator telekomunikasi.

“Selain itu, juga kita juga masuk ke power-as-a-service, di mana kita sudah bekerja sama dengan EXCL, dan kita coba menambah kerja sama dengan IOH (PT Indosat Tbk atau ISAT), serta Telkomsel,” ujar Herman.

EXCL, ISAT, dan Telkomsel adalah tiga pelanggan utama TBIG dengan proporsi terhadap pendapatan yang tak jauh berbeda.

EXCL menyumbang 32,1% pendapatan Perseroan per kuartal I 2026, sedangkan ISAT 31%. Hanya Telkomsel yang sedikit lebih tinggi, yaitu 34,5%.

Tahun ini, TBIG telah menganggarkan capex sebesar Rp4 triliun, yang seluruhnya akan dialokasikan untuk mendukung pertumbuhan para operator tersebut, termasuk konstruksi tower baru dan fiber optic, sesuai pesanan. (ZH)