Dolar AS melemah, pasar cermati Timur Tengah dan inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026

image

NEW YORK - Dolar Amerika Serikat melemah tipis terhadap mata uang utama lainnya pada Selasa (10/6) seiring rapuhnya gencatan senjata di Timur Tengah dan meningkatnya fokus investor terhadap data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini.

Sentimen pasar sempat terguncang setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran menembak jatuh helikopter Apache milik AS di Selat Hormuz dan berjanji akan memberikan respons. 

Seperti dikutip Reuters, pernyataan tersebut memicu keraguan baru terhadap prospek perdamaian antara kedua negara.

Peristiwa itu terjadi sehari setelah Israel dan Iran menghentikan serangan langsung satu sama lain menyusul seruan Trump. 

Namun, serangan Israel ke kota pelabuhan bersejarah Tyre di Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya delapan orang kembali meningkatkan ketegangan dan memperumit upaya perundingan damai yang lebih luas.

Meski demikian, dolar memangkas sebagian pelemahannya setelah komentar Trump.

Mata uang AS cenderung melemah ketika ketegangan Timur Tengah mereda karena prospek perdamaian biasanya menekan harga minyak.

Direktur Eksekutif Klarity FX, Amo Sahota, menilai pasar menunjukkan ketenangan yang tidak biasa terkait konflik Iran. 

Menurutnya, kedua pihak berupaya menghindari eskalasi besar, sementara Trump juga berada di bawah tekanan untuk mencegah lonjakan tajam harga minyak.

Di pasar valuta asing, euro menguat 0,07% menjadi US$1,15435 per dolar AS setelah sempat menyentuh level terendah dua bulan pada sesi sebelumnya. 

Sementara itu, dolar naik 0,07% terhadap franc Swiss menjadi 0,79825 franc.

Fokus investor kini tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis Rabu waktu setempat. 

Data tersebut dipandang penting untuk memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Sebelumnya, data ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan lapangan kerja pada Mei jauh lebih kuat dari perkiraan. 

Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.

Berdasarkan indikator CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk euro dan yen, turun 0,09% menjadi 99,95 setelah sehari sebelumnya mencapai 100,21, level tertinggi sejak 6 April.

Sementara itu, perhatian pasar juga mengarah ke pertemuan kebijakan moneter European Central Bank. 

Pelaku pasar secara luas memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini.

Di Asia, yen Jepang melemah 0,12% ke level 160,37 per dolar AS, mendekati ambang 160 yang selama ini dianggap pasar sebagai batas yang dapat memicu intervensi otoritas Jepang.

Dolar Australia turun 0,26% menjadi US$0,7027, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,09% menjadi US$0,5812. (DK)