Yield US treasury melonjak, pasar desak The Fed naikkan suku bunga
Rabu, 10 Juni 2026
NEW YORK - Pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat senilai US$31 triliun mengirimkan pesan tegas kepada Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh: suku bunga saat ini dinilai belum cukup tinggi.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun setelah serangkaian data ekonomi mendorong pelaku pasar memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober mendatang.
Seperti dikutip YahooFinance, yield obligasi dua tahun saat ini berada di sekitar 4,15%, jauh di atas kisaran suku bunga acuan Federal Reserve yang berada pada 3,5%-3,75%.
Kesenjangan tersebut mulai terlihat sejak Maret dan semakin melebar dalam beberapa pekan terakhir.
Perubahan ekspektasi pasar semakin menguat setelah data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang melampaui seluruh perkiraan analis.
Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa suku bunga perlu dinaikkan untuk meredam tekanan inflasi dan mencegah ekonomi mengalami overheating akibat ledakan investasi kecerdasan buatan (AI).
"Perlihatkan kepada saya di mana suku bunga saat ini benar-benar bersifat menekan ekonomi," kata Manajer Portofolio Brandywine Global Investment Management, Jack McIntyre.
"Yield Treasury akan cenderung terus naik sampai ada sesuatu yang benar-benar bermasalah."
Kenaikan yield tidak hanya terjadi pada obligasi jangka pendek, tetapi juga di seluruh kurva imbal hasil Treasury.
Hal ini menciptakan tantangan bagi Warsh yang akan memimpin rapat dan konferensi pers pertamanya sebagai ketua The Fed pekan depan.
Sebelumnya, Warsh pernah mendukung pelonggaran kebijakan moneter dengan alasan suku bunga sudah cukup ketat.
Namun kini ia menghadapi pasar obligasi yang justru khawatir The Fed tertinggal dalam merespons inflasi.
Kepala Pendapatan Tetap AS BlueBay di RBC Global Asset Management, Andrzej Skiba, mengatakan untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir terdapat kemungkinan ekonomi AS mulai terlalu panas.
Menurutnya, lonjakan investasi AI yang masuk ke ekonomi yang sudah kuat berpotensi mempercepat pertumbuhan secara berlebihan dan meningkatkan tekanan inflasi.
Perdebatan kini juga bergeser ke tingkat suku bunga netral (neutral rate), yaitu level suku bunga yang tidak mendorong maupun menghambat pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah pelaku pasar menilai suku bunga netral saat ini lebih tinggi dibanding perkiraan The Fed.
Pada Maret lalu, pejabat The Fed memperkirakan suku bunga netral jangka panjang berada di level 3,1%.
Namun sebagian analis menilai angka tersebut terlalu rendah mengingat kuatnya belanja investasi terkait AI dan ketahanan ekonomi AS.
Di sisi lain, kenaikan yield Treasury juga membantu memperketat kondisi keuangan tanpa harus menaikkan suku bunga acuan.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di sekitar 4,5% telah meningkatkan biaya kredit perumahan dan pinjaman korporasi.
Bloomberg Economics memperkirakan kenaikan yield belakangan ini setara dengan tambahan pengetatan moneter sekitar 75 basis poin.
Pasar kini menantikan data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis Rabu.
Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai dampak kenaikan harga minyak akibat konflik Iran terhadap inflasi yang lebih luas.
Apabila inflasi tidak menunjukkan percepatan yang signifikan, tekanan jual di pasar obligasi berpotensi mereda.
Namun selama inflasi masih berada di atas target The Fed, ekspektasi suku bunga tinggi diperkirakan tetap bertahan.
Pada perdagangan pagi di New York, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat berada di level 4,55%. (DK)