Valuasi hingga US$3 miliar, Starbucks pertimbangkan IPO di Jepang
Rabu, 10 Juni 2026
JAKARTA – Starbucks Corp. dikabarkan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi untuk bisnisnya di Jepang, termasuk menjual sebagian kepemilikan saham, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.
Seperti dikutip Bloomberg, langkah ini menyusul pelepasan mayoritas saham operasional Starbucks di China.
Raksasa kopi asal Amerika Serikat itu disebut telah menggelar pembicaraan awal dengan sejumlah bank investasi untuk membantu menentukan strategi bagi bisnisnya di Jepang.
Sumber yang enggan disebutkan namanya karena pembahasan masih bersifat rahasia mengatakan Jepang merupakan salah satu pasar terbesar Starbucks dengan sekitar 2.100 gerai, yang sebagian besar dioperasikan secara langsung oleh perusahaan.
Penjualan sebagian saham di unit Jepang diperkirakan dapat bernilai antara ¥400 miliar hingga ¥500 miliar (sekitar US$2,5 miliar hingga US$3,1 miliar).
Opsi tersebut diyakini berpotensi menarik minat pelaku industri lain maupun perusahaan ekuitas swasta.
Selain itu, penawaran umum perdana saham (IPO) untuk bisnis Jepang juga menjadi salah satu alternatif yang sedang dipertimbangkan.
Meski demikian, pembahasan masih berada pada tahap awal dan belum ada keputusan final yang diambil.
Perwakilan Starbucks menolak memberikan komentar terkait kabar tersebut.
Starbucks tidak merinci kinerja gerainya di Jepang secara terpisah.
Namun, Chief Executive Officer (CEO) Starbucks, Brian Niccol, mengatakan pada April lalu bahwa hasil bisnis di Jepang pada kuartal sebelumnya "luar biasa", didukung oleh kuatnya penjualan selama periode Tahun Baru, tingginya arus wisatawan, dan peluncuran produk-produk baru.
Starbucks memiliki sejarah panjang di Jepang. Perusahaan mendirikan usaha patungan dengan Sazaby League Ltd. pada 1995 dan mencatatkan saham unit lokalnya melalui IPO pada 2001.
Pada 2014, Sazaby menjual kembali kepemilikannya kepada Starbucks, yang kemudian menghapus pencatatan (delisting) unit tersebut dari bursa saham Jepang setahun kemudian.
Kinerja Starbucks secara global juga menunjukkan perbaikan setelah sempat mengalami perlambatan.
Penjualan toko sejenis (comparable store sales) global pada kuartal kedua naik 6,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Saham Starbucks sendiri telah menguat sekitar 16% sejak awal tahun.
Di China, penjualan 60% saham bisnis ritelnya kepada Boyu Capital rampung pada April lalu. Starbucks menyebut transaksi tersebut sebagai tonggak penting dalam strategi jangka panjang perusahaan untuk membuka peluang pertumbuhan yang berkelanjutan dan disiplin di pasar China. (DK)