Presiden Emirates Tim Clark buka strategi hadapi situasi Timur Tengah

Rabu, 10 Juni 2026

image

DUBAI - Maskapai penerbangan Timur Tengah, Emirates, akan meluncurkan berbagai insentif untuk menarik kembali pelanggan yang khawatir terhadap perang berkepanjangan dengan Iran.

Seperti dikutip Reuters, fokus utama maskapai bukan pada penurunan harga tiket, melainkan pada jaminan keselamatan dan keandalan konektivitas perjalanan.

Presiden Emirates, Tim Clark, mengatakan kepada Reuters pada Selasa bahwa maskapai milik negara Dubai tersebut akan tetap mempertahankan jadwal penerbangan meskipun biaya operasional meningkat akibat konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari dan menekan industri penerbangan Timur Tengah.

Dalam wawancara pertamanya dengan media internasional sejak konflik dimulai, Clark menegaskan Emirates akan menawarkan "berbagai insentif selain harga" untuk mendorong penumpang kembali bepergian, di tengah mandeknya upaya perdamaian dan meningkatnya serangan di kawasan Teluk dalam beberapa hari terakhir.

Clark mengatakan salah satu insentif yang ditawarkan adalah peningkatan jaminan keselamatan operasional bagi penumpang.

"Itu bisa berupa cara-cara baru untuk memastikan keselamatan operasi penerbangan mereka," ujarnya dalam sebuah konferensi industri di Berlin.

Emirates juga berjanji mengatasi kekhawatiran terkait pembatalan penerbangan dan risiko penumpang terlantar akibat gangguan operasional.

"Kami akan menangani semuanya, termasuk menerbangkan mereka dengan maskapai lain jika diperlukan agar mereka bisa pulang atau memastikan anak-anak dapat kembali bersekolah," kata Clark.

Clark mengungkapkan Emirates sedang berdiskusi dengan pemerintah dan regulator untuk melonggarkan pembatasan ruang udara di Timur Tengah yang terdampak konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Sebelumnya, European Union Aviation Safety Agency (EASA) telah mengeluarkan peringatan zona konflik yang menyarankan maskapai menghindari sejumlah wilayah udara di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

"Kami sedang berbicara dengan mereka," kata Clark merujuk pada pemerintah di kawasan tersebut. 

Namun ia mengakui regulator memiliki tanggung jawab untuk melindungi keselamatan penumpang.

"Kami berharap pemerintah dapat sedikit mengurangi pembatasan dalam peringatan perjalanan yang mereka keluarkan terkait penerbangan melintasi Timur Tengah," tambahnya.

Clark juga mengatakan Emirates menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah kawasan dan menerima pertukaran informasi intelijen secara luas guna memastikan operasi penerbangan tetap aman.

Meski ingin menarik kembali minat wisatawan ke Dubai, Emirates belum berencana memangkas harga tiket.

Menurut Clark, harga tiket sangat bergantung pada pergerakan harga minyak yang saat ini masih berfluktuasi.

"Harga tiket sangat dipengaruhi oleh harga minyak, dan saat ini harga minyak masih bergerak naik turun," ujarnya.

Meski demikian, Emirates tetap optimistis menghadapi musim liburan musim panas. Clark mengakui tingkat keterisian kabin kelas satu saat ini hanya sekitar setengah kapasitas akibat konflik.

Ia memperkirakan harga minyak pada akhirnya akan turun dari sekitar US$90 per barel menjadi mendekati US$70 per barel.

"Ketika itu terjadi, kami akan kembali pulih. Hanya saja pertanyaannya adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan," kata Clark. (DK)