Amankan pasokan bahan baku, India incar aset batu bara Rusia

Rabu, 10 Juni 2026

image

NEW DELHI - Perusahaan baja milik negara India, Steel Authority of India (SAIL) dan NMDC Ltd, sedang menjajaki akuisisi aset batu bara kokas (coking coal) di Rusia seiring upaya New Delhi mengamankan pasokan bahan baku strategis, menurut sejumlah sumber India.

Sebagai produsen baja mentah terbesar kedua di dunia setelah China, India mengirim delegasi ke Russia bulan lalu untuk melakukan pembicaraan awal dengan pejabat pemerintah dan pelaku industri setempat, kata tiga sumber yang mengetahui proses tersebut.

Seperti dikutip Reuters, mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena pembahasan masih bersifat tertutup.

"Baik SAIL maupun NMDC sedang menjajaki sumber pasokan bahan baku dan melakukan pembicaraan dengan Rusia," kata salah satu sumber.

Ia menambahkan bahwa SAIL telah membentuk panel internal untuk mengkaji peluang tersebut.

India juga tengah mempertimbangkan peningkatan impor nikel dari Rusia, menurut dua sumber India dan satu sumber Rusia. Pembicaraan awal antara kedua negara telah berlangsung di New Delhi pada April lalu.

Kementerian Baja India, SAIL, dan NMDC belum menanggapi permintaan komentar dari Reuters terkait pembicaraan mengenai aset mineral dan bahan baku di Rusia. 

Kementerian Energi Rusia juga belum memberikan tanggapan.

Saat ini India mengimpor nikel dari sejumlah negara seperti China, Jepang, Norwegia, dan Amerika Serikat, sementara impor dari Rusia masih sangat kecil.

Nikel merupakan komponen penting dalam rantai pasok kendaraan listrik India, khususnya untuk produksi baterai. 

Pemerintah India menargetkan kendaraan listrik menyumbang 30% penjualan mobil dan 80% kendaraan roda dua pada 2030, meningkat dari sekitar 6% dan 9% saat ini.

Selain itu, nikel juga digunakan dalam produksi baja tahan karat (stainless steel).

India berupaya mengamankan pasokan bahan baku utama seiring peningkatan produksi baja dan percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih.

Pada Januari lalu, pemerintah India menetapkan batu bara kokas sebagai mineral kritis dan strategis karena tingginya ketergantungan negara tersebut terhadap impor.

Pemerintah juga menyatakan ingin menjamin pasokan stabil untuk bahan baku penting lainnya seperti litium, kobalt, dan logam tanah jarang (rare earths).

Saat ini lebih dari separuh kebutuhan batu bara kokas India dipenuhi dari Australia, sementara sisanya berasal dari negara-negara seperti Rusia dan Amerika Serikat.

NMDC sendiri telah lama mengevaluasi peluang akuisisi aset batu bara kokas di luar negeri.

Tahun lalu, pimpinan perusahaan menyatakan bahwa NMDC juga menjajaki peluang investasi di Australia dan Indonesia. (DK)