Baterai sodium-ion diproyeksikan mulai dujual September 2026

Rabu, 10 Juni 2026

image

TIONGKOK - Industri baterai sodium-ion diperkirakan akan memasuki fase komersialisasi besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan.

Para pelaku industri, termasuk CATL, menilai tahun 2026 akan menjadi titik balik penting, dengan baterai sodium-ion diproyeksikan mencapai kesetaraan harga dengan baterai lithium-ion pada akhir tahun tersebut.

Menurut laporan media China National Business Daily, Chief Technology Officer divisi solusi penyimpanan energi domestik CATL, Lin Jiubiao, mengungkapkan bahwa perusahaan akan mengirimkan batch pertama sistem penyimpanan energi berbasis baterai sodium-ion pada September mendatang. 

Seperti dikutip CarNewsChina, pengiriman tahunan diperkirakan mencapai skala gigawatt-hour (GWh).

“Baterai sodium-ion telah memasuki era komersialisasi produk secara menyeluruh,” kata Lin dalam sebuah forum industri.

Selama ini, hambatan utama adopsi baterai sodium-ion adalah kepadatan energinya yang lebih rendah dibandingkan baterai lithium-ion. Namun, berbagai terobosan teknologi kini membuka jalan menuju produksi massal.

CATL mengklaim telah berhasil mengatasi sejumlah tantangan manufaktur, seperti pengendalian kelembapan pada elektroda karbon keras (hard carbon) dan pembentukan gas selama proses produksi. 

Produk yang dihasilkan memiliki kemampuan beroperasi pada rentang suhu yang luas serta umur pakai sangat panjang hingga 15.000 siklus pengisian.

Di sisi lain, rantai pasok industri sodium-ion juga berkembang pesat. 

General Manager Divisi Baterai Sodium-ion di Ronbay Technology, Wang Zunzhi, mengatakan industri ini mulai mengikuti jejak pertumbuhan cepat baterai lithium iron phosphate (LFP) yang terjadi pada 2020.

Ronbay telah memproduksi material katoda sodium-ion secara massal dan berencana meningkatkan kapasitas hingga 2,8 juta ton pada 2026. 

Perusahaan juga menargetkan pembangunan lini produksi khusus berkapasitas 300.000 ton pada 2027.

Target Samai Harga Baterai Lithium

Daya saing harga menjadi faktor utama untuk memperluas penetrasi pasar. 

Pelaku industri berupaya memangkas biaya melalui optimalisasi desain produk, kolaborasi rantai pasok, serta pembangunan fasilitas produksi khusus yang lebih efisien.

Lin mengatakan CATL menargetkan biaya sel baterai sodium-ion dapat setara dengan baterai LFP pada akhir 2026. 

Dengan dukungan inovasi integrasi sistem, total biaya sistem penyimpanan energi berbasis sodium-ion diperkirakan menyamai standar LFP pada 2027.

Penurunan harga komponen utama juga mendukung target tersebut. 

General Manager divisi baterai Wanhua Chemical, Wei Dong, memperkirakan biaya anoda hard carbon turun dari 60.000–70.000 yuan per ton pada 2024 menjadi 35.000–40.000 yuan per ton pada 2026.

Dalam jangka panjang, biaya tersebut bahkan ditargetkan turun hingga di bawah 25.000 yuan per ton.

Para pakar menegaskan baterai sodium-ion tidak dimaksudkan untuk menggantikan baterai lithium-ion sepenuhnya, melainkan menjadi teknologi pelengkap.

General Manager Research Centre di China Chemical and Physical Power Industry Association, Zhou Bo, menilai baterai sodium-ion akan unggul pada segmen tertentu berkat performanya yang lebih baik di suhu rendah dan kemampuan pengisian cepat.

Aplikasi yang dinilai potensial antara lain sistem penyimpanan energi di wilayah dataran tinggi atau beriklim dingin, pengaturan frekuensi jaringan listrik, serta kendaraan listrik ringan (light electric vehicle/LEV).

Dengan berkembangnya ekosistem “dua bintang” sodium-lithium, firma riset SPIR memperkirakan pasar global baterai sodium untuk penyimpanan energi dapat mencapai 580 GWh pada 2030. 

Sementara itu, penggunaan di sektor otomotif berpotensi melampaui 410 GWh. (DK)