Rupiah mulai pulih, analis MUFG ingatkan tekanan belum usai

Rabu, 10 Juni 2026

image

JAKARTA – Rupiah menguat pada perdagangan Rabu setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 14.06 WIB, rupiah berada di level Rp17.937,5 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,67%. Sebelumnya pada Selasa, rupiah bertahan di level Rp18.058 per dolar AS.

Senior Currency Analyst Global Market Division MUFG Bank untuk Asia, Lloyd Chan, menilai tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.

Kenaikan suku bunga dan langkah BI menstabilkan nilai tukar rupiah, kata Chan, memang menunjukkan fokus kebijakan BI yang semakin agresif dalam menopang stabilitas nilai tukar.

“Namun sejumlah faktor penghambat yang masih bertahan, seperti konflik Timur Tengah yang berlanjut, tingginya imbal hasil obligasi AS, ketatnya likuiditas dolar di pasar domestik, serta melemahnya bantalan eksternal,” kata Chan, dalam riset yang disampaikan kepada investor.

Sejumlah risiko itu, imbuh Chan, berpotensi membuka peluang bank sentral untuk menambah suku bunga acuan setidaknya hingga 25 basis poin pada kuartal ketiga tahun ini.

Sementara terkait kebijakan bank sentral lainnya, Chan menilai peningkatan imbal hasil aset rupiah dan penurunan biaya lindung nilai, diyakini membantu menarik minat investor asing ke pasar domestik.

Ke depan, MUFG memperkirakan USD/IDR akan bergerak di kisaran Rp17.500-17.800 dalam jangka pendek. Namun risiko pelemahan masih terbuka apabila gejolak geopolitik global terus berlanjut di kuartal ketiga.

“Risikonya adalah konflik berlanjut hingga kuartal III, membuat USD/IDR berpotensi naik bertahap ke Rp18.200,” tulis Chan, dengan menekankan lonjakan nilai tukar tetap mungkin terjadi saat ketidakpastian global meningkat. (KR)