STT GDC Indonesia kebut ekspansi dengan empat data centre baru
Rabu, 10 Juni 2026
JAKARTA – ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) Indonesia mengumumkan aksi ekspansi besar-besaran Kampus STT Jakarta melalui tiga tonggak pencapaian baru dalam konstruksi fasilitas data centre-nya.
Ketiga aksi ekspansi kampus ini diresmikan di kawasan Greenland International Industrial Center, Cikarang, Bekasi, dalam satu hari yang sama, Rabu (10/6). STT GDC Indonesia melangsungkan:
STT Jakarta 2, fasilitas terbaru yang siap beroperasi, memiliki kapasitas 24 MW, sedangkan STT Jakarta 3 diproyeksikan siap beroperasi pada akhir tahun 2026, dengan kapasitas 24 MW.
Selanjutnya, Hendrikus Gozali, Country Head STT GDC Indonesia, mengungkapkan bahwa STT Jakarta 5 dan 6 – yang memiliki kapasitas masing-masing 40 MW – baru akan beroperasi akhir tahun 2027 mendatang.
Sebagai catatan, pembangunan STT Jakarta 3 akan menggunakan pinjaman yang diraih STT GDC melalui amandemen fasilitas dual-currency berdenominasi dolar AS dan rupiah senilai total Rp8,8 triliun pada 3 Juni 2026 lalu.
Fasilitas tersebut merupakan tranche pinjaman hijau pertama STT GDC di Indonesia, yang diberikan oleh sindikasi perbankan yang terdiri dari PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT Bank HSBC Indonesia, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Melansir laman resminya, STT GDC tak berhenti di tiga unit data centre. Perusahaan ini juga memiliki rencana pembangunan STT Jakarta 4 berkapasitas 48 MW, serta STT Jakarta 7-9 berkapasitas masing-masing 60 MW.
Nantinya, STT GDC Indonesia akan mengoperasikan Kampus STT Jakarta yang terdiri dari total 9 data centre dan berkapasitas 360 MW secara kolektif, dan dapat mengakomodasi kebutuhan AI.
Ekspansi kampus berkesinambungan ini, menurut Hendrikus, merupakan cerminan keyakinan STT GDC Indonesia kepada potensi pasar digital Indonesia.
Ia memperkirakan bahwa kebutuhan kapasitas data centre Indonesia – terutama yang mampu mengakomodasi AI – dapat mencapai 1 GW pada tahun 2026. Padahal, proyeksi kapasitas data center di Indonesia baru menyentuh 2,7 GW di tahun 2030.
“Itu studi 2 tahun yang lalu. Sekarang mungkin akan meningkat … pasti akan tinggi sekali,” ujarnya saat ditemui setelah Seremoni Ekspansi Kampus STT Jakarta, Rabu (10/6).
Ia optimistis bahwa permintaan data centre akan selalu ada dan terus berkembang seiring adopsi teknologi dan AI yang semakin meluas. “Ini hanya permulaan, dan akan sangat menjanjikan di masa depan,” katanya.
Untuk menggaet pasar Indonesia, Hendrikus menyoroti keunggulan STT GDC sebagai data centre provider dengan platform global yang memiliki standar internasional. “Ini bukan hanya tentang bangunan (data centre), melainkan juga siapa operatornya,” imbuhnya.
STT GDC diketahui merupakan perusahaan berbasis di Singapura, dan kini telah beroperasi di berbagai negara, termasuk Inggris, Jerman, India, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Filipina, Malaysia, dan Vietnam.
STT GDC pertama kali masuk ke pasar data centre Indonesia pada Mei 2021 dan memulai pembangunan Kampus STT Jakarta di GIIC melalui usaha patungan (joint venture) antara Temasek dan Triputra Group milik taipan veteran TP Rachmat. (ZH)