Investor Asia tanya Perry Warjiyo: Likuiditas onshore atau yield SBN?

Rabu, 10 Juni 2026

image

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia , Rabu (10/6/26) pagi tadi mengadakan Investor Conference Call, untuk investor di pasar Asia, setelah sebelumnya, tadi malam, dengan investor dari Amerika dan Eropa.

Dalam acara tersebut ada 19 investor yang mengajukan pertanyaan dan dijawab langsung oleh Gubernur BI. Berikut petikan tanya jawab  dua di antara investor tersebut:

***

Ang Yang Yang:  Terima kasih Pak Perry. Apa yang menjadi prioritas utama Anda saat ini, memastikan kecukupan likuiditas IDR di dalam negeri (onshore) atau mendongkrak imbal hasil (yield) cukup tinggi untuk memikat investor luar negeri (offshore)?

Apa ukuran keberhasilan jangka pendek Anda? Apakah aliran modal masuk (inflows)? Pertumbuhan kredit domestik yang stabil atau obligasi asing?

Gubernur Bank Indonesia: Karena Bank Indonesia memiliki beberapa tujuan, kami juga menggunakan beberapa instrumen sekaligus.

Prioritas saat ini adalah untuk memulihkan kembali kekuatan nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal.

Hal ini dilakukan melalui beberapa langkah, termasuk meningkatkan selisih imbal hasil (yield differential) dan menyediakan lindung nilai (hedging) berbiaya lebih rendah, sehingga aliran modal masuk portofolio (portfolio inflows) dapat kembali.

Dengan aliran masuk portofolio yang lebih kuat, Bank Indonesia mengharapkan rupiah akan menguat.

Rupiah yang lebih kuat juga berdampak positif bagi Indonesia.

Hal ini membantu menjaga inflasi tetap rendah, mendukung pertumbuhan ekonomi melalui harga impor yang lebih murah, serta berkontribusi pada sentimen positif di dalam perekonomian domestik dan sistem perbankan.

Pada saat yang sama, untuk mendukung penyaluran kredit, Bank Indonesia memastikan likuiditas yang memadai di pasar uang dan sistem perbankan.

Ini adalah bagian dari pemrograman moneter standar.

Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan uang inti (base money) lebih dari 10%, yang berarti mempertahankan likuiditas yang cukup di dalam sistem.

Bank Indonesia menyesuaikan operasi moneternya dengan memperhitungkan dampak dari aset luar negeri bersih dan tagihan bersih kepada pemerintah.

Di masa lalu, suntikan likuiditas dilakukan melalui pembelian obligasi pemerintah.

Bank Indonesia kini menahan diri dari tindakan tersebut dan telah membuka kembali lelang repurchase agreement (repo) mingguan untuk memastikan bahwa target uang inti di atas 10% tetap dapat dicapai.

Oleh karena itu, bauran kebijakan (policy mix) dirancang untuk memenuhi kedua tujuan tersebut:

  • Menarik aliran masuk portofolio untuk mendukung stabilitas rupiah
  • Memastikan likuiditas domestik yang cukup untuk mendukung penyaluran kredit.

Pertumbuhan kredit saat ini berada di atas 10%, dan Bank Indonesia tetap optimistis bahwa pertumbuhan kredit akan tetap berada dalam kisaran perkiraan 8%–12%, bergerak menuju sekitar 10% atau lebih tinggi.

Perbankan tetap inovatif dalam mencari sektor-sektor prospektif dengan risiko yang dapat dikelola. Kredit bermasalah (NPL) tetap sangat rendah, kredit terus tumbuh, likuiditas melimpah, dan rasio kecukupan modal (CAR) juga kuat.

***

Michael Isprihanto - Terima kasih Pak Perry. Seiring dengan normalisasi kurva imbal hasil (yield curve), apakah BI masih melakukan operation twist atau hanya menjual obligasi jangka pendek saja?

Dan apakah Anda memiliki rencana untuk memperluas aktivitas tersebut ke tenor jangka panjang? Terima kasih.

Gubernur Bank Indonesia: Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah sepakat untuk memastikan kecukupan likuiditas sembari membiarkan selisih imbal hasil menyesuaikan diri. Terkait penyesuaian yield, Kementerian Keuangan menahan diri untuk tidak menjalankan dana stabilisasi obligasi (bond stabilization fund), sementara Bank Indonesia menahan diri dari membeli obligasi pemerintah, khususnya di tenor yang lebih panjang.

Bank Indonesia menegaskan kembali bahwa BI menahan diri dari membeli obligasi pemerintah jangka panjang, terutama obligasi dengan tenor 10 tahun ke atas.

Oleh karena itu, selisih imbal hasil untuk obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun ke atas akan menyesuaikan diri menurut mekanisme pasar.

Untuk tenor jangka pendek, Bank Indonesia akan terus menilai kondisi pasar. Mengingat kurva imbal hasil relatif datar (flat), beberapa penyesuaian di tenor jangka pendek mungkin juga diperlukan.

Pada saat yang sama, operasi moneter Bank Indonesia saat ini akan lebih bersandar pada suntikan likuiditas melalui repurchase agreement (repo).

Akibatnya, kebutuhan akan operasi obligasi pemerintah akan berkurang, sehingga memungkinkan penyesuaian yield berlangsung lebih lancar melalui mekanisme pasar. Bank Indonesia akan terus menilai langkah-langkah ini sejalan dengan dinamika pasar keuangan global dan kondisi pasar domestik. (MT)