CEO Microsoft Satya Nadella: Pemimpin kini harus harus selalu belajar
Senin, 08 Desember 2025

WASHINGTON - Microsoft CEO Satya Nadella mengaku menghabiskan akhir pekannya untuk mempelajari bagaimana startup membangun produk.Menurutnya, sebuah langkah ini penting karena ukuran raksasa Microsoft kini justru menjadi kelemahan besar dalam perlombaan mengembangkan AI.Dalam podcast "MD MEETS" bersama CEO Axel Springer, Mathias Döpfner, Nadella mengatakan ia mencurahkan satu akhir pekan penuh untuk memahami bagaimana perusahaan rintisan dapat menciptakan produk dengan kecepatan yang sulit disaingi Microsoft.Ia menegaskan, skala Microsoft kini menjadi “kerugian besar.”Di startup, tim pengembangan produk bekerja dalam satu meja, ilmuwan, insinyur, hingga spesialis infrastruktur berkolaborasi dan bereksperimen secara cepat.Sebaliknya, di Microsoft fungsi-fungsi itu berada di bawah tiga kepala divisi berbeda, menciptakan lapisan birokrasi yang memperlambat pengambilan keputusan.Seperti dikutip timesofindia.indiatimes.com, upaya Nadella ini mencerminkan perubahan mendesak di seluruh industri teknologi.Meta, Google, dan Amazon juga memangkas lapisan manajemen menengah, karena hierarki tebal dianggap menghambat inovasi dan eksperimen AI.Microsoft pun mulai merombak struktur internalnya. Dokumen bocor menunjukkan Nadella kini memiliki 16 bawahan langsung, para eksekutif pilihan yang ditugaskan menghapus silo organisasi dan mempercepat transformasi AI perusahaan.Namun, menurut Nadella, tantangan terbesar bukan hanya struktur, melainkan pola pikir.Pemimpin harus meninggalkan sikap “serba tahu” yang dulu membawa kesuksesan, dan beralih ke pendekatan “selalu belajar.” Bagian tersulit adalah melepaskan kebiasaan lama untuk mempelajari hal baru.Ia memperingatkan bahwa banyak proyek AI perusahaan gagal karena diperlakukan seperti upgrade IT biasa.Keberhasilan membutuhkan empat perubahan fundamental: merancang ulang alur kerja, mengadopsi alat AI modern, melatih karyawan secara memadai, dan membebaskan data dari sistem lama.Untuk memimpin transformasi ini, Nadella menunjuk Rolf Harms, tokoh di balik white paper “Economics of the Cloud” yang dulu membantu Microsoft beralih ke cloud, guna merumuskan ulang model bisnis Microsoft di era AI.Akhir pekan yang ia gunakan sebagai “PR” ini menegaskan satu hal: bahkan perusahaan teknologi paling sukses pun harus berani bertransformasi secara fundamental agar tidak kehilangan relevansi. (DK)