Emas pulih tipis, namun masih dekat level terendah Maret 2026

Rabu, 10 Juni 2026

image

NEW YORK - Harga emas bertahan di dekat level terendah sejak Maret 2026 meskipun sempat pulih pada awal pekan.

Ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama masih menjadi faktor utama yang membatasi penguatan logam mulia tersebut.

Pada perdagangan Senin (8/6), emas spot (XAU/USD) bergerak relatif datar di kisaran US$4.320 per ons troi setelah sempat menyentuh level intraday US$4.268, yang merupakan titik terendah sejak 23 Maret.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah setelah Iran dan Israel kembali terlibat aksi saling serang pada akhir pekan, untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diumumkan pada April lalu.

Ketegangan tersebut sempat meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat di kawasan tersebut.

Seperti dikutip FXStreet, presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya meredakan situasi dengan menyatakan bahwa Iran dan Israel tengah mengupayakan gencatan senjata secepat mungkin.

Trump juga menegaskan bahwa blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak.

Sementara itu, militer Iran mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel, namun memperingatkan akan memberikan respons yang lebih keras jika terjadi serangan baru terhadap Lebanon.

Perkembangan tersebut mendorong pelemahan indeks dolar AS (DXY) setelah sebelumnya menguat. Kondisi itu sempat memberikan dukungan bagi harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.

Meski demikian, kekhawatiran pasar terhadap dampak ekonomi perang masih membayangi.

Kenaikan harga minyak mentah meningkatkan risiko inflasi dan memperbesar peluang bank sentral utama dunia, terutama The Fed, untuk kembali menaikkan suku bunga.

Selain itu, data ekonomi Amerika Serikat yang tetap kuat, termasuk laporan ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls/NFP) yang dirilis lebih baik dari perkiraan pada Jumat lalu, semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September mencapai 38%, meningkat dari 22% sepekan sebelumnya.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik.

Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.

Pelaku pasar kini menantikan data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini sembari terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah. (ARF)