Ikuti arahan Jardine, Astra siapkan buyback jumbo Rp8 triliun

Rabu, 10 Juni 2026

image

JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai jumbo hingga Rp8 triliun mulai 20 Juli 2026.

Namun, holding Grup Astra ini harus terlebih dahulu mengantongi restu Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan digelar pada 17 Juli 2026.

Pasalnya, agenda buyback ini bukan dilakukan dalam rangka stabilisasi harga di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan.

Dalam keterangan resminya, manajemen mengungkap bahwa aksi korporasi Rp8 triliun ini dilakukan sebagai bagian dari dari komitmen ASII untuk meningkatkan total shareholder return (TSR) jangka panjang melalui kerangka alokasi modal yang lebih disiplin.

Sebagai catatan, peningkatan TSR ini sejalan dengan guideline yang ditetapkan entitas pengendalinya, Jardine Matheson, untuk tahun 2026.

Dalam pernyataan di Annual Report 2025, CEO Jardine Matheson Lincoln Pan menyatakan akan melancarkan strategi alokasi modal yang lebih aktif ke depannya.

Ia menyatakan membuka peluang Grup Jardine Matheson untuk mencabut investasi dari aset yang tak mencapai target return (hurdle rate) yang diharapkan, dan tak lagi memiliki prospek usaha yang menjanjikan.

Pada tahun 2025, ASII mencatatkan penurunan laba hingga 3% secara tahunan menjadi Rp32,8 triliun. Namun, TSR Astra dalam lima tahun terakhir hingga 2025 tercatat menyentuh 9,8% — masih di atas target Jardine Matheson.

Selain itu, entitas induk ini juga mengungkapkan optimisme dan keyakinannya pada prospek Grup Astra dengan mendukung program buyback yang digelar Astra tiga kali berturut-turut sejak akhir Oktober 2025 lalu.

“Jardine Matheson tetap berkomitmen jangka panjang untuk berinvestasi di Indonesia, dan mendukung upaya capital recycling yang dilakukan Astra untuk mendorong pertumbuhan di masa depan,” tulis manajemen Jardine Matheson dalam laporannya.

Sebagai catatan, ASII masih berada dalam periode buyback keduanya tahun ini senilai Rp2 triliun yang digelar sejak Maret hingga 15 Juni 2026 mendatang.

Namun, seiring IHSG yang ambles 32,5% sejak awal tahun, harga saham ASII juga terpantau merosot signifikan hingga 19,7% sejak buyback tersebut dimulai – atau tertekan 30,9% sejak awal tahun.

Pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (10/6), harga saham ASII mendarat di level Rp4.700 per lembar, naik tipis 0,64%.

Meski demikian, ASII meyakini bahwa aksi buyback ini tidak akan berdampak negatif pada kinerja operasional dan pendapatannya.

Sebaliknya, buyback dinilai sebagai salah satu cara mengoptimalkan alokasi modal dan imbal hasil bagi investor, sembari menjaga fleksibilitas untuk mendanai peluang pertumbuhan dengan posisi keuangan yang kuat.

“Perseroan pada saat ini memiliki modal dan arus kas yang cukup untuk membiayai Pembelian Kembali Saham dan membiayai kegiatan usaha Perseroan,” tegas manajemen.

Hingga akhir kuartal I 2026, total aset ASII mencapai Rp517,8 triliun, dengan kas dan setara kas Rp49,05 triliun, serta ekuitas senilai Rp293,12 triliun.

Meski tak menyebutkan angka, ASII menegaskan bahwa jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 10% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor Perseroan, dan tetap memperhatikan ketentuan free float 15%.

Hingga akhir Mei 2026, Jardine Cycle & Carriage – lengan investasi Jardine di Asia Tenggara – masih mengendalikan 50,11% saham ASII. Porsi free float sebesar 43,76%, sedangkan saham treasury sebesar 1,17%.

Jika aksi korporasi ini disetujui pemegang saham, Perseroan memproyeksikan bahwa buyback akan berjalan selama satu tahun ke depan, mulai 20 Juli 2026 sampai 16 Juli 2027. (ZH)