Inflasi AS naik 4,2% pada Mei 2026, tertinggi sejak 2023
Rabu, 10 Juni 2026
NEW YORK - Inflasi Amerika Serikat meningkat pada Mei 2026, seiring dengan kenaikan harga bensin yang memperkuat tekanan harga akibat perang Iran.
Dikutip dari Investing.com, indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik ke level 4,2% secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dari 3,8% pada April 2026 dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2023.
Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,5%, melambat dari 0,6% pada April 2026 namun tetap sejalan dengan perkiraan ekonom.
Di luar komponen yang bergejolak seperti pangan dan energi, inflasi inti naik sebesar 2,9% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan sesuai dengan proyeksi pasar.
Sementara itu, inflasi inti secara bulanan melambat menjadi 0,2% dari 0,4% pada April. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 0,3%.
Pelaku pasar mencermati data inflasi di tengah berlanjutnya konflik Iran yang kini memasuki bulan keempat. Meski berbagai upaya diplomatik dilakukan, gencatan senjata yang tercapai masih dinilai rapuh.
Selat Hormuz juga masih belum kembali beroperasi normal bagi lalu lintas kapal tanker, sehingga mengganggu pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Pasar khawatir lonjakan harga energi akibat perang dapat memicu tekanan inflasi yang lebih besar. Di Amerika Serikat, dampak tersebut terutama dirasakan melalui kenaikan harga bensin.
Harga bensin melonjak 7% secara bulanan pada Mei 2026. Sementara secara tahunan, harga bensin meningkat sebesar 40,5%.
Kenaikan inflasi, ditambah kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, mendorong pelaku pasar untuk semakin yakin bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga tahun ini.
Sebaliknya, ekspektasi pasar pada awal 2026 bahwa The Fed akan memulai siklus penurunan suku bunga kini hampir sepenuhnya menghilang.
Chief Investment Officer Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli, mengatakan langkah The Fed berikutnya kemungkinan berupa kenaikan suku bunga, bukan penurunan seperti yang sebelumnya diperkirakan banyak pihak.
Menurut alat FedWatch milik CME Group, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan yang berlangsung selama dua hari pekan depan.
Meski demikian, Chief North America Economist Capital Economics Stephen Brown menilai rincian data inflasi Mei masih relatif positif bagi pejabat The Fed yang cenderung mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar.
Harga barang dalam komponen inflasi inti turun 0,1% secara bulanan, terutama karena penurunan harga pada sejumlah barang yang sebelumnya terdampak kenaikan tarif impor Presiden Donald Trump.
Harga produk kesehatan, kendaraan baru, dan layanan transportasi juga melemah, meski tarif penerbangan meningkat. (ARF)