AI ubah cara kerja konsultan di McKinsey
Rabu, 10 Juni 2026
NEW YORK - Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara kerja konsultan di McKinsey & Company. Teknologi tersebut membantu mengurangi ketergantungan perusahaan konsultan global tersebut terhadap PowerPoint yang selama ini menjadi alat utama dalam penyusunan dan pengelolaan proyek.
Dikutip dari Business Insider, Global Leader for Technology and AI di McKinsey, Kate Smaje, mengatakan bahwa penggunaan PowerPoint di perusahaan menurun drastis selama beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya pemanfaatan berbagai perangkat AI oleh para konsultan.
Penurunan tersebut dapat terlihat dari jumlah presentasi yang dibuat maupun waktu yang dihabiskan karyawan menggunakan perangkat lunak tersebut.
Selama bertahun-tahun, PowerPoint tidak hanya digunakan untuk presentasi kepada klien, tetapi juga berfungsi sebagai pusat dokumentasi proyek yang berisi hasil riset, perkembangan pekerjaan, serta rencana tindak lanjut yang diperbarui secara berkala.
Namun, salah satu konsultan McKinsey, Louis-Charles Généreux, mengembangkan pendekatan baru berupa situs berbasis AI yang berfungsi sebagai pusat informasi proyek bagi tim internal dan klien.
Généreux membangun platform yang disebut "client visualization hub" untuk proyek yang melibatkan sekitar 70 orang di sebuah perusahaan kabel di Amerika Utara.
Menurutnya, pendekatan lama yang mengandalkan slide presentasi sering menimbulkan kebingungan akibat beredarnya berbagai versi dokumen.Setelah materi dibagikan melalui email, pembaruan sering menghasilkan beberapa versi presentasi yang beredar secara bersamaan sehingga tidak semua anggota tim mengacu pada satu dokumen yang sama.
Selain itu, menelusuri ratusan slide PowerPoint dinilai tidak efisien untuk mendapatkan informasi terbaru.
Melalui situs berbasis AI tersebut, seluruh informasi proyek dapat diakses dalam satu tempat, lebih mudah dicari, tersusun rapi, dan diperbarui secara real time.
Généreux mengatakan sistem itu membantu menghemat waktu sekaligus mengurangi kesenjangan informasi antara tim teknik, pemilik produk, dan jajaran eksekutif.
Untuk membangun situs tersebut, ia memanfaatkan Platform McKinsey, yaitu platform internal perusahaan yang menyediakan berbagai produk dan layanan teknologi yang telah disetujui.
Tim proyek kemudian menggunakan AI untuk mengolah puluhan file HTML yang berisi analisis, visualisasi data, tabel, dan dokumen lainnya menjadi halaman web interaktif.
AI juga membantu memperbarui informasi di situs secara otomatis. Seiring perkembangan pengerjaan proyek, situs akan diperbarui secara otomatis, Pada akhir pekan, sistem secara otomatis menghasilkan ringkasan dalam format audio ala podcast serta memo tertulis yang merangkum perkembangan proyek
Meski demikian, PowerPoint belum sepenuhnya ditinggalkan. Menurut Généreux, perangkat lunak tersebut kini lebih banyak digunakan sebagai format akhir untuk presentasi, email, atau memo,dan bukan lagi sebagai alat utama untuk bekerja sehari-hari.
Ia menambahkan bahwa proses analisis, pengujian ide, hingga penyusunan rekomendasi kini semakin banyak dilakukan melalui berbagai perangkat AI sebelum hasil akhirnya disajikan dalam format yang dibutuhkan klien.
Industri konsultasi menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh perkembangan AI. Perusahaan besar seperti McKinsey, Boston Consulting Group (BCG), Deloitte, dan IBM tidak hanya membantu klien mengadopsi AI, tetapi juga menerapkan teknologi tersebut dalam operasional internal mereka.
Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan baru terkait model bisnis konsultasi, kebutuhan talenta, metode pelatihan, hingga cara menciptakan nilai tambah bagi klien ketika sebagian pekerjaan berbasis pengetahuan mulai ditangani oleh agen AI.
Awal tahun ini, CEO McKinsey Bob Sternfels mengatakan perusahaan memiliki sekitar 40.000 karyawan dan 25.000 agen AI. Namun, Menurut Smaje, jumlah agen AI di McKinsey kini telah meningkat jauh dibandingkan awal tahun dan semakin terintegrasi dalam proses kerja perusahaan.
Smaje menegaskan bahwa nilai utama konsultan tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan riset, tetapi juga dalam menganalisis berbagai informasi, mengidentifikasi pola, menyusun solusi, serta membantu klien mengambil keputusan yang tepat.
Menurutnya, AI kini mempercepat tahap awal analisis. Jika sebelumnya tim konsultan membutuhkan waktu hingga satu pekan untuk memperoleh gambaran awal dari suatu permasalahan, kini proses tersebut dapat dilakukan hanya dalam waktu hitungan jam.
Waktu yang dihemat tersebut dimanfaatkan untuk menggelar sesi eksperimen dan hackathon beberapa kali dalam sepekan guna menguji berbagai ide yang sebelumnya hanya berupa dugaan atau konsep awal. (ARF)