Dana asing keluar US$26,6 miliar dari emerging markets pada Mei 2026

Kamis, 11 Juni 2026

image

SEOUL - Investor asing menarik dana bersih hampir US$27 miliar dari portofolio pasar negara berkembang (emerging markets/EM) pada Mei 2026.

Sebagian membalikkan pemulihan pada April, karena aksi jual saham di Asia lebih besar daripada arus masuk ke instrumen utang, menurut data kelompok industri perbankan yang dirilis pada Rabu.

Seperti dikutip Reuters, investor non-residen mencatat arus keluar bersih sebesar US$26,6 miliar dari obligasi dan saham negara berkembang pada Mei, menurut data Institute of International Finance (IIF). Angka tersebut berbalik dari arus masuk bersih sebesar US$70,6 miliar pada April.

Pembalikan tren itu hampir seluruhnya disebabkan oleh pasar saham. 

Investor asing menarik dana sebesar US$37 miliar dari saham negara berkembang selama bulan tersebut, sementara pasar obligasi masih mencatat arus masuk bersih US$10,4 miliar.

“Perubahan dari bulan ke bulan sangat besar, mencapai US$97,2 miliar, dan menunjukkan bahwa pemulihan pada April tidak berlanjut menjadi normalisasi arus modal secara konsisten,” kata Ekonom Senior IIF Jonathan Fortun.

Laporan tersebut juga memperingatkan aksi jual pasar pada awal Juni setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. 

Dikombinasikan dengan kenaikan harga energi dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, kondisi ini membuat investasi di pasar negara berkembang menjadi kurang menarik.

“Data tenaga kerja AS yang lebih kuat, harga energi yang tetap tinggi, dan meningkatnya risiko inflasi menaikkan ambang risiko bagi investasi obligasi dan saham negara berkembang, terutama di negara-negara yang keseimbangan eksternal atau kredibilitas kebijakannya sudah dipertanyakan,” ujar IIF.

Aksi jual saham pada Mei terkonsentrasi di Korea Selatan, India, dan dalam skala lebih kecil di Brasil—tiga pasar besar dengan likuiditas tinggi.

Asia negara berkembang mencatat arus keluar portofolio bersih sebesar US$31,6 miliar, lebih besar daripada total arus keluar seluruh pasar negara berkembang. 

Sementara itu, Amerika Latin, Eropa negara berkembang, serta kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara masih mencatat arus masuk positif.

Saham China bergerak berlawanan dengan tren Asia secara umum. 

Pasar saham China mencatat arus masuk bersih US$8,1 miliar, sementara pasar obligasinya mengalami arus keluar sebesar US$4,3 miliar. Di luar China, saham negara berkembang mengalami arus keluar lebih dari US$113 miliar selama periode Maret hingga Mei.

Namun, saham-saham teknologi Korea Selatan yang sering menjadi barometer sentimen investor terhadap tema kecerdasan buatan (AI) menjadi sumber tekanan terbesar pada Mei.

Investor menarik dana sebesar US$27,9 miliar dari pasar saham Korea Selatan. Sementara itu, pasar saham India mencatat arus keluar US$4,9 miliar dan Brasil US$2,9 miliar.

Pasar obligasi terbukti lebih tangguh, dengan negara berkembang di luar China mencatat arus masuk sebesar US$14,7 miliar.

Secara keseluruhan, saham dan obligasi negara berkembang masih membukukan arus masuk bersih US$132,5 miliar sejak awal tahun, atau hampir setengah dari total arus masuk sepanjang tahun lalu, dengan instrumen utang menjadi penyumbang terbesar.

Investor tetap menyukai negara-negara yang menawarkan imbal hasil riil tinggi dan kerangka kebijakan yang kredibel. 

Namun, IIF menilai kondisi pasar kini semakin menantang akibat kenaikan harga minyak, meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan kembali munculnya kekhawatiran inflasi yang menekan minat terhadap aset berisiko.

“Data pasar obligasi pada Mei menunjukkan bahwa situasi ini tidak bisa sekadar disebut sebagai periode penghindaran risiko (risk-off). Akses pasar masih terbuka dan strategi mencari imbal hasil (carry trade) tetap relevan. 

Obligasi mata uang lokal masih didukung oleh suku bunga riil yang tinggi dan kredibilitas kebijakan yang kuat. 

Sementara obligasi mata uang keras (hard currency credit) tetap menarik berkat pendapatan kupon dan tingginya permintaan terhadap imbal hasil,” tulis Fortun. (DK)