Peluang IHSG tembus 6.000 dibatasi sentimen global

Kamis, 11 Juni 2026

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (11/6), setelah ditutup menguat 7,57% pada Selasa dan 2,71% pada Rabu.

Sejumlah analis menilai IHSG tetap mendapat dukungan sentimen positif dari dalam negeri, namun dibatasi oleh sentimen eksternal dari pasar global.

Analis Phintraco Sekuritas menilai koreksi harga minyak mentah dunia, telah mendorong IHSG rebound dalam dua hari terakhir. Namun hingga pembukaan sesi Asia hari ini, harga minyak mentah WTI dan Brent kembali naik menyusul konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) yang kembali memanas.

Secara teknikal, analis Phintraco menilai IHSG telah bertahan di atas level MA5 dan MA10. Indikator Stochastic RSI juga disebut melanjutkan penguatan di area pivot, serta didukung penyempitan histogram negatif pada MACD.

“Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang menguji level psikologis di level 6.000. Namun perlu diwaspadai potensi profit taking akibat sentimen negatif dari eksternal,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor pada Kamis.

Senada dengan hal tersebut, analis CGS International Sekuritas Indonesia menilai kondisi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas, berpotensi jadi sentimen negatif bagi pasar. Namun penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dinilai jadi sentimen positif bagi IHSG.

“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 5.760/5.620 dan resist 6.045/6.190,” jelas analis CGS International.

Sementara itu analis BRI Danareksa Sekuritas menilai kepercayaan investor terhadap aset domestik kembali meningkat, terutama setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50% lewat Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pekan ini.

Dalam riset yang disampaikan hari ini, analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji level resistance pentingnya pada 5.960-6.000, serta berpotensi melaju hingga 6.200-an jika area resistance tersebut bisa ditembus.

“Pasar akan sama-sama mencermati efek dari kebijakan pemerintah untuk rupiah yang terus menguat dan juga rilis data ekonomi domestik yaitu retail sales Indonesia yang menjadi sentimen pasar selanjutnya,” ungkap analis BRI Danareksa.

Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah menguat 0,63% ke Rp17.944 pada perdagangan Rabu. Namun sejak awal tahun, rupiah telah melemah 7,58% terhadap dolar AS. (KR)