AS selidiki dugaan drone Iran tembak jatuh helikopter Apache
Kamis, 11 Juni 2026
NEW YORK - Sebuah helikopter serang Angkatan Darat Amerika Serikat, Apache, dilaporkan terkena hantaman drone Shahed Iran sebelum jatuh di dekat Selat Hormuz.
Namun, seperti dikutip arsTECHNICA, masih belum jelas apakah drone bunuh diri tersebut memang sengaja diarahkan ke helikopter atau hanya mengenai sasaran secara kebetulan.
Koresponden Axios, Barak Ravid, pertama kali melaporkan pernyataan seorang pejabat pemerintah AS yang tidak disebutkan namanya bahwa sebuah drone Iran menghantam helikopter AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS sebelum jatuh pada 8 Juni.
The New York Times kemudian mengonfirmasi laporan tersebut melalui sejumlah pejabat AS lainnya yang juga meminta anonimitas.
Salah satu pejabat mengatakan penyelidik militer AS masih mengevaluasi apakah serangan drone Iran terhadap helikopter itu disengaja atau tidak.
Iran telah meluncurkan ribuan drone Shahed ke berbagai target militer dan sipil di kawasan Teluk sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel memulai perang dengan menyerang Iran menggunakan rentetan bom dan rudal.
Namun, drone Shahed selama ini lebih sering menghantam target statis seperti pusat data Amazon dan fasilitas energi, serta sesekali menyerang kapal dagang yang bergerak lambat di Selat Hormuz.
Model dasar drone Shahed mengandalkan panduan satelit GPS dan koordinat yang telah diprogram sebelumnya untuk menyerang target statis dari jarak jauh.
Drone ini umumnya tidak dirancang untuk melacak dan menghantam target yang bergerak, kata Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), kepada The New York Times.
Meski demikian, Cancian menduga Iran mungkin telah memperoleh versi Shahed yang dimodifikasi Rusia dan dapat dikendalikan dari jarak jauh untuk menyerang sasaran bergerak.
Apa pun penyebabnya, hasil akhirnya cukup mencolok.
Drone Iran yang biasanya berharga sekitar US$35.000 berhasil menjatuhkan helikopter Apache milik AS yang nilainya mencapai US$25 juta.
Satu-satunya kabar baik bagi militer AS adalah keberhasilan penyelamatan kedua awak helikopter dari laut berkat penggunaan kapal nirawak (drone boat) yang disebut belum pernah dilakukan sebelumnya.
Insiden ini menjadi helikopter Apache pertama Angkatan Darat AS yang jatuh selama konflik berlangsung, sekaligus kemungkinan menjadi Apache pertama yang ditembak jatuh oleh drone.
Sebelumnya, Uni Emirat Arab dan Israel menggunakan helikopter Apache buatan AS untuk memburu dan menembak jatuh drone Shahed Iran.
Namun Iran sebelumnya juga berhasil menembak jatuh jet tempur F-15E Strike Eagle pada 5 April dan pesawat serang darat A-10 Thunderbolt pada 6 April menggunakan rudal darat-ke-udara.
Seluruh awak berhasil diselamatkan, meski militer AS harus menjalankan operasi pencarian dan penyelamatan tempur berisiko tinggi untuk mengevakuasi perwira sistem senjata F-15 yang jatuh di Pegunungan Zagros, Iran.
Iran juga telah menembak jatuh puluhan drone pengintai MQ-9 Reaper milik AS yang masing-masing bernilai lebih dari US$30 juta.
Selain itu, sejumlah pesawat militer AS mengalami kerusakan selama operasi tempur di wilayah Iran maupun saat berada di pangkalan udara yang menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran.
Berdasarkan data Congressional Research Service per 13 Mei, enam awak udara AS juga tewas setelah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker yang mereka tumpangi jatuh akibat tabrakan dengan pesawat tanker lain pada 12 Maret.
Militer AS awalnya sangat tertutup terkait penyebab jatuhnya helikopter Apache tersebut.
Namun dalam unggahan media sosial pada 9 Juni, Presiden AS Donald Trump menjadi pejabat pertama yang secara terbuka menyalahkan Iran atas jatuhnya Apache tersebut.
Trump juga memperingatkan bahwa “Amerika Serikat harus merespons serangan ini.”
Komando Pusat AS (CENTCOM), yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah, kemudian meluncurkan serangan balasan yang dalam pernyataannya disebut sebagai “serangan bela diri terhadap Iran” atas perintah Presiden sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache sehari sebelumnya.
Menurut The Wall Street Journal, Trump awalnya cenderung menganggap insiden jatuhnya Apache tidak terlalu serius setelah kedua pilot berhasil diselamatkan.
Namun sikapnya berubah dalam pengarahan di Gedung Putih setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine merekomendasikan aksi militer serta memaparkan rincian lebih lanjut mengenai serangan drone Shahed terhadap helikopter tersebut.
Serangan balasan jet tempur AS menargetkan sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan radar pengawasan Iran di sekitar Selat Hormuz.
Di sisi lain, media pemerintah Iran mengklaim serangan AS juga merusak tangki air dan memutus pasokan air bagi sedikitnya 20.000 warga di Provinsi Hormozgan.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan gelombang baru serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk seperti Bahrain dan Kuwait, serta Yordania.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menargetkan pangkalan-pangkalan AS di kawasan, termasuk markas Armada Kelima AS di Bahrain, dan juga mengaku kembali menembak jatuh sebuah drone MQ-9 Reaper milik AS.
Aksi saling serang terbaru ini mengancam sepenuhnya menghancurkan sisa-sisa harapan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang disebut mulai berlaku pada 8 April.
Masa gencatan senjata tersebut terus diwarnai bentrokan sporadis dan blokade saling balas di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang kini terganggu akibat konflik. (DK)