Harga emas masuk bear market pertama sejak 2022, apa pemicunya?

Kamis, 11 Juni 2026

image

NEW YORK - Kontrak berjangka emas ditutup pada Rabu di level terendah tahun ini, yang secara resmi menandai masuknya logam mulia tersebut ke dalam fase bear market untuk pertama kalinya dalam empat tahun. 

Seperti dikutip MarketWatch, kondisi ini terjadi meskipun investor masih mencari aset aman di tengah ketidakpastian yang meningkat terkait perang di Timur Tengah.

Menurut Chris Gaffney, Presiden World Markets di EverBank, penurunan harga emas pada Rabu terutama dipicu oleh faktor suku bunga. 

Data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan membuat investor percaya bahwa langkah berikutnya dari suku bunga AS kemungkinan adalah kenaikan.

Inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2% pada Mei dari 3,8% pada bulan sebelumnya, mencapai level tertinggi sejak Mei 2023. 

Kondisi ini membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat semakin kecil. 

Bahkan, pasar kini menilai peluang kenaikan suku bunga tahun ini lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Kepala Investasi Zaye Capital Markets, Naeem Aslam, mengatakan ketegangan geopolitik yang berlanjut masih mendorong harga minyak tetap tinggi. Akibatnya, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama.

“Hal itu juga berarti The Fed tidak bisa dengan mudah menurunkan suku bunga,” ujarnya.

Karena emas tidak memberikan imbal hasil (yield), biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih tinggi ketika suku bunga meningkat. 

Dalam kondisi seperti itu, investor cenderung beralih ke obligasi pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil tanpa risiko.

Di pasar Comex, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus turun 3,6% atau US$153,10 menjadi US$4.133,30 per ons troi.

Ini merupakan penurunan hari keempat berturut-turut dan level penutupan terendah sejak November 2025.

Dengan penutupan tersebut, emas resmi masuk ke wilayah bear market, yang berarti harganya telah turun lebih dari 20% dari puncak terbarunya pada Maret. 

Hanya membutuhkan waktu 91 hari untuk mencapai kondisi tersebut, menjadikannya transisi tercepat menuju bear market sejak krisis keuangan global 2008.

Saat mencapai rekor tertinggi tahun ini di US$5.354,80 per ons pada 29 Januari, harga emas sempat mencatat kenaikan 23,4% sepanjang tahun. 

Kini, emas justru telah melemah hampir 4,8% sejak awal tahun.

“Emas tidak memberikan imbal hasil apa pun, sementara obligasi pemerintah dan surat utang memberikan pendapatan tanpa risiko,” kata Aslam.

Pada Rabu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun naik menjadi 5,016%, sedangkan obligasi tenor 10 tahun meningkat menjadi 4,535%.

Menariknya, ketidakpastian terkait perang Iran gagal memberikan dukungan berarti bagi harga emas, meskipun aset ini selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven.

Pada hari yang sama, indeks saham utama AS bergerak turun setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS berencana mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Iran.

Menurut Michael Armbruster, salah satu pendiri dan mitra pengelola perusahaan pialang berjangka Altavest, pergerakan emas belakangan justru sejalan dengan pasar saham.

Sejak awal Juni, koefisien korelasi antara kontrak berjangka emas dan indeks Nasdaq tercatat mencapai 0,91. 

Angka 1,00 berarti kedua aset bergerak hampir sepenuhnya searah.

Armbruster mengatakan kondisi ini mengingatkannya pada tahun 2008, ketika emas sempat jatuh bersama saham sebelum mencapai titik terendah pada November 2008 dan kemudian memasuki tren kenaikan panjang.

“Kami telah memperkirakan bahwa emas akan menghadapi tekanan sepanjang Juni, tetapi prospek makroekonomi untuk paruh kedua tahun ini jauh lebih bullish,” katanya.

Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa investor tidak bisa selalu mengandalkan risiko geopolitik untuk menopang harga emas. Hubungan antara ketegangan geopolitik dan harga emas tidak selalu konsisten.

Gaffney memperkirakan harga emas masih berpotensi melemah hingga terdapat kejelasan mengenai arah kebijakan suku bunga AS. Namun, ia menegaskan bahwa emas tetap layak menjadi bagian dari portofolio investasi karena berfungsi sebagai “asuransi terhadap bencana”. (DK)