Short seller Jim Chanos: Valuasi SpaceX US$1,75 triliun tak masuk akal

Kamis, 11 Juni 2026

image

WASHINGTON - Investor short seller ternama, Jim Chanos, mengkritik IPO yang sangat dinantikan dari SpaceX, dengan memperingatkan bahwa penawaran saham perusahaan antariksa yang dipimpin Elon Musk itu didorong oleh “harapan dan impian” yang menurutnya tidak cukup untuk membenarkan valuasi yang sangat tinggi.

SpaceX dijadwalkan melantai di bursa New York pada Jumat melalui penawaran saham yang bertujuan menghimpun dana US$75 miliar dengan valuasi mencapai US$1,75 triliun. 

Jika terealisasi, IPO tersebut akan menjadi yang terbesar dalam sejarah, hampir tiga kali lebih besar dibandingkan pencatatan saham Saudi Aramco pada 2019, mengutip dari Reuters.

“Menurut saya, perusahaan ini tidak bernilai US$1,75 triliun berdasarkan asumsi yang masuk akal untuk lima tahun ke depan,” kata Chanos dalam konferensi iConnections di New York pada Rabu.

Keraguan terhadap target valuasi US$1,75 triliun, ditambah kekhawatiran terkait tata kelola perusahaan, membuat sebagian analis menilai saham ini layak untuk dipertaruhkan turun (short).

Meski demikian, sejumlah short seller memilih berhati-hati dan mengambil sikap menunggu.

Mereka khawatir karena reli terbaru saham-saham teknologi berkapitalisasi triliunan dolar—kelompok yang berpotensi dimasuki SpaceX—telah menyebabkan kerugian besar bagi para investor yang bertaruh pada penurunan harga saham.

Saat ditanya apakah ia akan melakukan short terhadap SpaceX, Chanos menyampaikan pandangan serupa.

“Kita bisa membangun cerita apa pun yang kita inginkan—koloni di Mars, terowongan pabrik, pusat data di luar angkasa—untuk membenarkan valuasi tersebut. Dalam pasar bullish, investor memberi premi pada janji-janji, sedangkan dalam pasar bearish, investor memberi diskon pada realitas,” ujarnya.

Melakukan short terhadap perusahaan lain milik Musk, yakni Tesla, selama ini terbukti menjadi taruhan yang merugikan. 

Menurut data S3 Partners, para short seller Tesla secara akumulatif kehilangan sekitar US$27 miliar sejak Juni 2021, termasuk dari posisi short langsung maupun lindung nilai indeks terkait masuknya Tesla ke indeks S&P 500. 

Dalam 10 tahun terakhir, saham Tesla telah melonjak lebih dari 2.500%.

Namun, Chanos menilai SpaceX adalah “hewan yang berbeda” dibanding Tesla.

Ia menyoroti bahwa SpaceX dihargai sekitar 90 kali penjualan (sales), jauh di atas Tesla yang diperdagangkan pada sekitar 14 kali penjualan.

Veteran short seller tersebut juga meragukan prospek ekonomi sektor pusat data (data center), yang ia sebut sebagai “bisnis buruk” dengan tingkat pengembalian modal hanya berada di kisaran satu digit rendah.

Chanos telah bersikap bearish terhadap operator pusat data sejak 2022. 

Menurutnya, operator tradisional maupun perusahaan neocloud yang sedang berkembang lebih mirip perusahaan properti investasi (REIT) atau penyewaan peralatan dibanding perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tinggi.

Ia menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut membeli chip canggih dari pemasok seperti Nvidia lalu menyewakannya kepada perusahaan hyperscaler. 

Model bisnis itu menghadapi risiko depresiasi yang besar dan memiliki daya tawar harga yang terbatas.

Chanos menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan semacam itu pada dasarnya hanya menerima harga pasar (price taker), sehingga tidak seharusnya memperoleh valuasi yang lebih tinggi dibanding produsen semikonduktor yang mengendalikan pasokan perangkat keras.

Jim Chanos adalah manajer investasi asal Amerika Serikat dan pendiri Kynikos Associates. Ia dikenal luas sebagai short seller yang berhasil memprediksi dan meraup keuntungan dari runtuhnya Enron pada 2001. (DK)