Laju penyaluran kredit masih lambat, apa kata Bank Mandiri?
Senin, 08 Desember 2025

JAKARTA - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), memaparkan sejumlah faktor yang masih menahan laju penyaluran kredit meski kondisi likuiditas perbankan mulai pulih.Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, dalam Macro Economic Outlook Q4 2025 menjelaskan bahwa pelaku usaha masih bersikap wait and see akibat ketidakpastian ekonomi global dan domestik.Selain itu, porsi kredit yang sudah disetujui namun belum dicairkan (undisbursed loan) masih tinggi di kisaran 25–29%.Menurut laporan Office of Chief Economist Bank Mandiri, kredit modal kerja, yang mencakup 53% portofolio kredit, mengalami perlambatan karena dunia usaha menunda ekspansi di tengah prospek ekonomi yang belum kuat.Suku bunga kredit yang tidak turun secepat BI Rate juga menjaga minat kredit tetap rendah.Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat perbankan lebih selektif, cenderung memilih debitur berisiko rendah.Sektor UMKM pun masih tertekan sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan kredit belum maksimal.Banyak perusahaan memilih menggunakan pembiayaan internal ketimbang mengambil kredit baru.Meski demikian, Andry optimistis prospek kredit akan membaik. Ia menilai stabilitas geopolitik, pelemahan dolar AS, dan pelonggaran kebijakan moneter dapat mendorong arus modal serta permintaan kredit.Perbaikan belanja pemerintah dan inflasi yang terjaga dalam target BI turut memperkuat daya beli dan kredit konsumsi."Arah kebijakan pemerintah untuk 2026 semakin jelas, setelah sepanjang semester II 2025 langkah kebijakan mulai konsisten," mengutip dari Antara, Kamis (4/12).Ia berharap konsistensi kebijakan fiskal dapat memperkuat ekspansi kredit ke depan.
Data Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit Oktober 2025 melambat menjadi 7,36% (year-on-year/yoy), turun dari 7,70% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara tahun berjalan, pertumbuhan mencapai 4,96% (year-to-date/ytd), lebih rendah dibanding 7,04% pada periode sama tahun lalu. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,48% yoy, ditopang oleh likuiditas sektor swasta serta insentif pemerintah dan Bank Indonesia.
Stabilitas likuiditas perbankan tetap terjaga, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 84,26%.
Data Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit Oktober 2025 melambat menjadi 7,36% yoy, turun dari 7,70% sebelumnya.
Secara tahun berjalan, pertumbuhan mencapai 4,96% ytd, lebih rendah dibanding 7,04% ytd pada periode sama tahun lalu. (DK)