Bank UEA tawarkan bunga hingga 6,6% untuk hadapi rival digital
Kamis, 11 Juni 2026
JAKARTA - Bank-bank di Uni Emirat Arab (UEA) mulai menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi dan berbagai insentif bagi nasabah baru di tengah meningkatnya persaingan dari bank digital serta ketidakpastian ekonomi akibat konflik Iran.
Seperti dikutip Reuters, sejumlah bank terbesar di negara tersebut berlomba menarik dana pihak ketiga dengan menawarkan imbal hasil simpanan yang jauh di atas suku bunga acuan bank sentral UEA sebesar 3,65%.
Langkah tersebut muncul ketika industri perbankan menghadapi tekanan dari pemain digital yang memiliki biaya operasional lebih rendah.
Di saat yang sama, perang yang melibatkan Iran dan penutupan Selat Hormuz turut menekan aktivitas ekonomi kawasan, mendorong regulator mengambil langkah untuk menjaga likuiditas perbankan.
Bank Sentral UEA menyebut berbagai program promosi simpanan yang diluncurkan perbankan merupakan bagian dari aktivitas pasar yang normal untuk menarik dana ritel dan mendukung penyaluran kredit.
"Waktunya memang patut diperhatikan, tetapi saya tidak akan menyebut ini sebagai perebutan deposito mendadak yang dipicu oleh perang," kata Fadi Zoghby, Partner McKinsey yang berbasis di Dubai.
Menurutnya, konflik di kawasan memang meningkatkan nilai strategis dana ritel yang stabil bagi perbankan, namun tren persaingan dalam menghimpun dana telah berlangsung sebelum ketegangan geopolitik meningkat.
Emirates NBD, bank terbesar di Dubai, menawarkan bunga hingga 5% per tahun bagi nasabah yang menempatkan dana baru dalam produk Saver Plus.
Sementara Dubai Islamic Bank menawarkan imbal hasil hingga 6,6% per tahun bagi nasabah yang membuka rekening baru dan mentransfer gaji bulanan minimal 10.000 dirham.
National Bank of Fujairah juga menawarkan bunga hingga 6,25% per tahun untuk rekening tabungan baru yang menerima setoran gaji secara rutin.
Seluruh penawaran tersebut berada di atas suku bunga acuan bank sentral. Mata uang dirham UEA sendiri dipatok terhadap dolar AS sehingga kebijakan suku bunga negara tersebut umumnya mengikuti arah kebijakan Federal Reserve.
Zoghby menilai strategi bank-bank UEA saat ini bukan sekadar mengejar pertumbuhan simpanan, melainkan upaya menjadikan nasabah sebagai pelanggan utama melalui produk yang lebih spesifik dan kompetitif.
"Bagian dari tren persaingan yang sudah ada," ujarnya.
Dari sisi kinerja, sejumlah bank besar seperti Emirates NBD, First Abu Dhabi Bank (FAB), dan Abu Dhabi Commercial Bank (ADCB) masih mencatat pertumbuhan simpanan pada kuartal pertama 2026.
Namun investor kini menyoroti kinerja kuartal kedua untuk mengukur dampak ekonomi yang lebih nyata dari konflik regional.
Analis Bank of America sebelumnya mencatat indikator likuiditas perbankan UEA sempat melemah pada periode Maret hingga awal Mei. Meski demikian, mereka tidak melihat adanya tanda-tanda tekanan serius terhadap sistem perbankan.
Data bank sentral menunjukkan sebagian besar pertumbuhan dana pihak ketiga masih berasal dari pemerintah, entitas terkait pemerintah, dan sektor publik yang menyumbang hampir 70% dari total arus masuk simpanan pada kuartal pertama.
Simpanan pemerintah tumbuh 14,7% secara tahunan menjadi 446,8 miliar dirham pada April 2026. Sementara simpanan entitas terkait pemerintah melonjak lebih dari 32% menjadi 339,3 miliar dirham.
Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, Bank Sentral UEA telah memperluas akses perbankan terhadap cadangan likuiditas dan fasilitas pendanaan dalam mata uang dirham maupun dolar AS.
Meski demikian, Zoghby menegaskan dukungan likuiditas dari regulator tidak menghilangkan kebutuhan setiap bank untuk membangun basis pendanaan yang kuat dan berkelanjutan.
"Pengamanan di tingkat sistem mendukung kepercayaan dan ketahanan, tetapi hal itu tidak menggantikan kebutuhan setiap bank untuk mempertahankan basis pendanaan yang berkelanjutan," katanya.
Bank Sentral UEA menyatakan sektor perbankan tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah kondisi yang tidak biasa. Hingga 9 Juni 2026, surplus likuiditas yang ditempatkan perbankan di bank sentral tercatat mencapai 181 miliar dirham atau sekitar US$49,3 miliar.(DH)