USCBC: Hampir tidak mungkin perusahaan AS dapat rare earth dari China
Kamis, 11 Juni 2026
JAKARTA - Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat masih menghadapi kesulitan memperoleh mineral kritis dari China meski kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan perdagangan.
Seperti dikutip Reuters, dalam laporan terbaru yang dirilis Rabu, U.S.-China Business Council (USCBC) menyebut sejumlah unsur tanah jarang (rare earth) masih "hampir tidak mungkin didapatkan" bagi perusahaan AS akibat pembatasan ekspor dan lambatnya proses perizinan dari Beijing.
Pembatasan tersebut mulai diberlakukan China pada April 2025 sebagai respons atas tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump. Kebijakan itu membatasi ekspor sejumlah mineral strategis yang menjadi bahan baku penting bagi industri manufaktur berteknologi tinggi.
Padahal, dalam kesepakatan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Oktober lalu, Gedung Putih menyatakan Beijing berkomitmen untuk “secara efektif menghilangkan” seluruh pembatasan ekspor mineral kritis yang berlaku maupun yang direncanakan.
"Meskipun ada beberapa kemajuan, kepercayaan terhadap akses jangka panjang tetap rendah," tulis USCBC berdasarkan survei terhadap anggotanya yang dilakukan pada Februari hingga Maret.
Dari 38 perusahaan yang terdampak pembatasan tersebut, sebanyak 29% menyatakan telah aktif beralih ke pemasok non-China. Sementara itu, 47% lainnya masih mencari alternatif pasokan di luar China namun belum menemukan sumber yang layak secara komersial.
"China memaksa diversifikasi ini menjauh dari China dan menciptakan minat yang kuat dari sektor korporasi untuk mencari alternatif," kata Presiden USCBC Sean Stein kepada Reuters.
Dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis menjadi salah satu isu utama dalam hubungan dagang kedua negara. Meski pemerintahan Trump mendorong pengembangan pasokan mineral dari AS dan negara mitra, Stein menilai gangguan pasokan tidak akan mudah diatasi dalam waktu dekat.
Ia menyebut magnet samarium-kobalt yang digunakan dalam industri dirgantara dan pertahanan, serta mineral yttrium dan kadmium, masih sangat sulit diperoleh perusahaan-perusahaan AS.
Wakil Presiden USCBC Kyle Sullivan mengatakan tantangan tidak hanya terletak pada pasokan mineral mentah, tetapi juga produk hilir seperti magnet tanah jarang karena China menguasai proses penambangan dan pemrosesan.
"Itulah kasus yang tepat untuk keterlibatan Kongres, karena masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintahan Trump saja," kata Stein.
Laporan USCBC juga menunjukkan ketidakpastian hubungan AS-China mulai menekan minat investasi perusahaan Amerika di China. Hanya 49% dari 134 perusahaan yang disurvei berencana menambah investasi di negara tersebut tahun ini.
"Lingkungan bisnis Tiongkok bagi perusahaan asing tidak membaik. Dukungan negara terhadap perusahaan domestik, termasuk melalui kebijakan industri dan perlakuan istimewa dalam pengadaan pemerintah, mengikis keuntungan dari pembukaan akses pasar formal," tulis USCBC dalam laporannya.(DH)