Yield obligasi melonjak, pasar prediksi BI naikkan bunga 50 Bps

Kamis, 11 Juni 2026

image

JAKARTA - Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kembali meningkat pada Kamis seiring menguatnya ekspektasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan untuk menahan arus keluar modal dan menjaga stabilitas rupiah.

Seperti dikutip Bloomberg, Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak 12 basis poin ke level 7,46%, mendekati posisi tertinggi sejak 2022.

Yield obligasi tenor lima tahun juga naik hingga sembilan basis poin. Di saat yang sama, rupiah melemah 0,2% terhadap dolar AS, sementara indeks saham acuan turun 0,6% setelah sempat menguat sekitar 2% pada awal perdagangan.

Sepanjang tahun ini, aset Indonesia menghadapi tekanan akibat menurunnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto, terutama terkait agenda intervensi pemerintah dan peningkatan belanja fiskal di tengah tekanan neraca pembayaran yang dipicu kenaikan harga minyak dunia.

Untuk menopang rupiah yang terus mencatat pelemahan, Bank Indonesia sebelumnya menyatakan akan membiarkan yield obligasi bergerak lebih tinggi guna menarik kembali aliran modal asing.

Tekanan pasar muncul kembali setelah reli singkat pada Rabu, ketika pemerintah berupaya meyakinkan investor asing terkait prospek ekonomi Indonesia.

Sentimen negatif juga datang dari kenaikan yield obligasi pemerintah AS yang dipicu spekulasi bahwa Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

“Kami masih melihat ruang bagi yield obligasi untuk bergerak lebih tinggi hingga tekanan terhadap rupiah mereda,” kata Jessica Tasijawa, Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

“Kami melihat Bank Indonesia tampaknya masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga tambahan sebesar 25–50 basis poin.”

Saham sektor keuangan yang sensitif terhadap suku bunga menjadi salah satu penekan utama indeks saham domestik. Sepanjang tahun ini, indeks saham acuan Indonesia telah merosot lebih dari 30%, menjadi salah satu penurunan terdalam di antara indeks utama global.

Di pasar valuta asing, rupiah telah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan fokus utama bank sentral adalah menjaga stabilitas nilai tukar melalui peningkatan daya tarik instrumen domestik dan masuknya dana asing. Namun, kenaikan suku bunga lebih lanjut berpotensi menambah tekanan terhadap pasar saham.

Pelaku pasar memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan pekan depan, melanjutkan pengetatan moneter sebesar 75 basis poin yang telah dilakukan sejak Mei.

Prospek ekonomi Indonesia juga menghadapi tantangan tambahan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi tersebut berisiko memperlebar defisit perdagangan, meningkatkan inflasi, dan menambah tekanan terhadap peringkat kredit Indonesia.

“Kepercayaan adalah salah satu hal yang mudah hilang, tetapi butuh waktu sedikit lebih lama untuk mendapatkan kembali kepercayaan pasar,” kata Thu Ha Chow, Kepala Pendapatan Tetap untuk Asia di Robeco.

“Kita melihat awal dari kisah pemulihan mereka saat ini, tetapi belum sepenuhnya sampai di sana.”

Data menunjukkan investor asing telah mencatat penjualan bersih sekitar US$3,9 miliar di pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Di pasar obligasi, arus keluar modal asing mencapai US$597 juta.

Menurut Adra Wijasena, Senior Fixed Income Analyst PT Shinhan Sekuritas Indonesia, pelemahan rupiah masih menjadi faktor utama yang membebani pasar obligasi domestik. Investor juga menunggu hasil evaluasi terbaru dari S&P Global Ratings terhadap peringkat utang pemerintah Indonesia.(DH)