Investor global 'cecar' Gubernur BI soal rupiah, simak jawabannya
Kamis, 11 Juni 2026
JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Selasa (9/6/26) mengadakan Investor Conference Call yang diikuti oleh investor dari Amerika dan Eropa. Sehari kemudian pada Rabu (10/6/26) pagi, diselenggarakan acara yang sama untuk investor dari Asia.
Pada kesempatan itu Perry menjelaskan berbagai langkah yang telah dilakukan Bank Indonesia dalam rangka stabilisasi rupiah, antara lain adalah pemberian diskon swap hedging sebesar 10% maupun pembukaan kembali fasilitas repurchasing order atau repo.
“Ini memang sudah malam di Indonesia, tapi saya akan sediakan waktu sampai jam berapapun, kalau perlu hingga di atas jam 12 malam ini, jika masih ada hal-hal yang perlu dijelaskan,” ujar Perry.
Berikut petikan dialog antara investor dan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada sesi tersebut:
Investor Amerika dan Eropa (Selasa malam pukul 21-22 WIB)
1. Michael Wan: Apakah ada persyaratan dari Bank Indonesia bagi perbankan untuk meneruskan diskon biaya swap sebesar 10% ini kepada nasabah akhir? Atau hal itu diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank?
Gubernur Bank Indonesia: Bank sentral telah menyediakan fasilitas swap hedging (lindung nilai) bagi investor asing yang berinvestasi di Indonesia, khususnya mereka yang memiliki investasi portofolio di obligasi pemerintah (SBN), SRBI, dan saham.
Investor dapat mengakses fasilitas ini melalui bank mereka, yang kemudian meneruskan transaksi tersebut ke Bank Indonesia.
Meskipun fasilitas swap reguler tetap berbasis pasar, Bank Indonesia memperkenalkan pengurangan sebesar 10% pada tingkat suku bunga swap hedging untuk investor asing. Langkah ini dimaksudkan untuk mengompensasi kewajiban pajak dan biaya transaksi lainnya yang terkait dengan lindung nilai, sehingga meningkatkan daya tarik investasi portofolio di Indonesia.
2. Simon Tremblay: Mengenai kesepakatan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk mendongkrak imbal hasil (yield) aset, apakah ini mengacu pada tenor jangka pendek saja atau tenor lainnya pada kurva obligasi pemerintah?
Gubernur Bank Indonesia: Kesepakatan ini berlaku di seluruh struktur tenor. Pemerintah terutama menerbitkan obligasi negara, khususnya untuk tenor 10 tahun ke atas, sementara surat perbendaharaan negara jangka pendek atau SPN hanya porsinya kecil.
Penentuan imbal hasil (yield) akan terus mengikuti mekanisme pasar, mencerminkan suku bunga global serta daya tarik obligasi pemerintah Indonesia bagi investor asing.
Pemerintah tidak akan melakukan operasi dana stabilisasi obligasi (bond stabilization fund) atau pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah guna memengaruhi yield pasar.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia akan mengurangi penekanan pada pembelian obligasi pemerintah jangka panjang, sehingga memungkinkan yield pada tenor yang lebih panjang menyesuaikan diri dengan kondisi pasar.
Di ujung kurva yang lebih pendek, Bank Indonesia mungkin akan terus menjual obligasi pemerintah, yang juga akan mendukung penyesuaian yield sesuai dengan mekanisme pasar.
Hasilnya, struktur tenor dari yield SRBI maupun obligasi pemerintah akan semakin mencerminkan kondisi pasar, dengan tujuan menarik aliran modal asing masuk (portfolio inflows) dan mendukung stabilitas rupiah.
3. Gabriel Tay: Maaf, tadi saya kurang menangkap dengan jelas. Apakah Anda menyebutkan bahwa BI akan mengurangi pembelian obligasi pemerintah Indonesia di pasar sekunder?
Gubernur Bank Indonesia: Ya. Bank Indonesia melakukan operasi sterilisasi untuk memastikan kecukupan pasokan uang moneter domestik serta likuiditas di pasar uang dan sistem perbankan.
Ketika Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan menjual valas, likuiditas rupiah akan berkurang.
Oleh karena itu, sterilisasi dilakukan untuk memastikan bahwa likuiditas domestik tetap memadai dan pertumbuhan uang inti (base money) tetap berada di angka dua digit.
Selama ini, sterilisasi sebagian dilakukan melalui pembelian obligasi pemerintah, khususnya untuk tenor 10 tahun ke atas.
Ke depan, Bank Indonesia akan menahan diri dari tindakan tersebut, dan akan menggantinya dengan operasi moneter melalui pembukaan lelang mingguan repurchase agreement (repo) dengan tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan.
Bank yang membutuhkan likuiditas dapat datang ke Bank Indonesia dengan membawa surat berharga yang memenuhi syarat, baik obligasi pemerintah maupun SRBI, sebagai aset dasar (underlying assets).
Bank Indonesia akan menyediakan transaksi repo sesuai kebutuhan untuk memastikan likuiditas domestik yang melimpah dan menjaga pertumbuhan uang inti tetap dua digit.
4. Pranjul Bhandari: Setelah langkah-langkah terbaru yang mendorong kenaikan yield Indonesia selama beberapa hari terakhir, apakah selisih imbal hasil (yield differential) Indonesia dengan AS sudah melebar secara memadai atau masih diperlukan tindakan lebih lanjut?
Gubernur Bank Indonesia: Bank Indonesia akan terus menilai perkembangan dari bulan ke bulan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan.
Dinamika pasar global tetap sangat tinggi dan terus berubah dengan cepat. Bank Indonesia akan terus menilai perkembangan pasar global, termasuk yield 10 tahun, yield 2 tahun, Fed Funds Rate, serta selisih imbal hasil dibandingkan dengan negara-negara sejawat (peer countries).
Bank Indonesia akan terus menyesuaikan respons kebijakannya untuk memastikan selisih imbal hasil Indonesia tetap menarik.
Selain itu, kami juga akan menyediakan swap hedging dengan diskon 10%. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa investasi portofolio di Indonesia dapat dilindungi nilai dengan biaya yang lebih rendah, serta selisih imbal hasil yang lebih tinggi.
Keputusan hari ini telah memperhitungkan perkembangan terbaru serta penilaian berbasis prospek masa depan (forward-looking) kami, guna memperkuat rupiah, menjaga inflasi tetap terkendali, dan menarik kembali aliran modal portofolio ke Indonesia.
5. Aayushi Chaudhary: Gubernur yang terhormat, apa yang terjadi dengan rencana Kemenkeu untuk menggunakan dana SAL (Saldo Anggaran Lebih) guna menstabilkan SBN (yang diumumkan pada bulan Mei? Apakah program itu juga ditunda?
Gubernur Bank Indonesia: Ini adalah bagian dari kesepakatan. Kementerian Keuangan sudah mulai memindahkan dana secara bertahap dari bank kembali ke Bank Indonesia.
Hal ini dilakukan secara bertahap untuk menjaga likuiditas di pasar uang dan sistem perbankan.
Pemindahan dana pemerintah kembali ke BI, bersama dengan penyediaan likuiditas oleh BI, dimaksudkan untuk memperkuat operasi moneter dan fiskal dalam mendukung stabilisasi nilai tukar dan aliran masuk investasi asing.
6. Joanna Woods: Terima kasih Gubernur Perry atas panggilan ini. Anda menyebutkan adanya koordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membiarkan yield mencerminkan tingkat pasar. Sejauh yang Anda ketahui: apakah ada langkah lain yang dapat kita harapkan dari Kementerian Keuangan untuk mendukung aliran masuk asing / mengurangi aliran keluar?
Gubernur Bank Indonesia: Setiap langkah di sisi fiskal berada di bawah kewenangan Menteri Keuangan.
Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan masing-masing menjalankan kebijakan sesuai dengan mandat kami masing-masing, sembari memperkuat koordinasi kebijakan.
Sejauh ini, pemahaman bersama kami adalah untuk bergerak bersama dengan membiarkan penentuan yield obligasi pemerintah di pasar mencerminkan mekanisme pasar.
Bahkan, Anda telah melihat kenaikan yield obligasi pemerintah minggu ini, dan Anda akan terus melihat penyesuaian ini.
Akan ada penyesuaian pada yield obligasi pemerintah, terutama untuk tenor 10 tahun ke atas, sementara Bank Indonesia juga menyesuaikan yield SRBI.
Baik yield obligasi pemerintah maupun yield SRBI dimaksudkan untuk memberikan selisih imbal hasil yang menarik guna menarik aliran masuk modal portofolio.
7. Anil Kumar: Halo Pak, kami melihat warga domestik membeli dolar lebih banyak dari biasanya. Mengapa hal ini terjadi secara tiba-tiba?
Selain itu, komponen investasi lainnya dalam neraca pembayaran terus mencatat defisit yang sangat besar.
Bisakah Anda memberikan tanggapan mengapa investasi lainnya terus mencatat defisit besar dan apa yang dilakukan Bank Indonesia untuk memperlambat defisit tersebut?
Apakah Anda memiliki analisis sensitivitas terhadap suku bunga tinggi, seberapa besar perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat suku bunga yang lebih tinggi?
Gubernur Bank Indonesia: Bank Indonesia mengamati bahwa meningkatnya ekspektasi depresiasi rupiah di kalangan rumah tangga dan korporasi telah berkontribusi pada peningkatan permintaan valuta asing, sebuah fenomena yang disebut sebagai substitusi mata uang (currency substitution).
BI telah menilai perilaku ini secara cermat dan menurunkan ambang batas (threshold) untuk pembelian valuta asing perorangan.
Itulah mengapa kami menurunkan ambang batas pembelian valuta asing, khususnya dolar, menjadi US$25.000 per bulan per orang.
Berlaku efektif pada bulan Juni, kami juga akan memperkuatnya lebih lanjut dari US$25.000 menjadi US$10.000 per bulan.
Selama Anda menyediakan dokumen dasar (underlying), rumah tangga masih dapat membeli valuta asing.
Tujuannya bukan untuk membatasi kebutuhan riil, melainkan untuk mencegah motif spekulatif.
Namun kami cukup yakin bahwa, dengan penguatan stabilisasi rupiah, ekspektasi yang perlu kita tangani tersebut akan berkurang. Dan substitusi mata uang tersebut juga akan teratasi.
Tentu saja, beberapa korporasi memiliki permintaan yang riil. Mereka masuk ke pasar spot serta melakukan lindung nilai (hedging).
Inilah alasan mengapa Bank Indonesia menyediakan swap valas dan forward untuk memenuhi kebutuhan lindung nilai korporasi, guna memastikan bisnis mereka di masa depan terlindungi dari risiko nilai tukar melalui lindung nilai, baik dengan swap maupun domestic non-deliverable forward (DNDF).
8. Markus Schneider: Gubernur yang terhormat, terima kasih atas panggilan Anda. Pertanyaan saya adalah sebagai berikut, apakah kita harus menganggap langkah hari ini sebagai bagian dari siklus pengetatan yang berkelanjutan, dan perkembangan apa, khususnya di pasar valas atau aliran modal, yang akan mendorong BI untuk terus menaikkan suku bunga?
Gubernur Bank Indonesia: Bank Indonesia tidak akan mengategorikan langkah ini sebagai bagian dari siklus pengetatan domestik, karena pengetatan biasanya dikaitkan dengan pengurangan likuiditas domestik.
Prospek fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, dengan inflasi yang rendah, pertumbuhan yang tinggi, dan kesenjangan output (output gap) yang masih negatif, yang menunjukkan adanya ruang untuk pertumbuhan lebih lanjut tanpa menciptakan tekanan inflasi yang berlebihan.
Stabilitas keuangan juga tetap terjaga dengan baik, dengan ruang lebih lanjut untuk mendukung penyaluran kredit perbankan.
Fokus kebijakan Bank Indonesia tetap pada memastikan kecukupan likuiditas rupiah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun, Indonesia saat ini menghadapi dampak rambatan (spillover) global yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah memengaruhi aliran portofolio dan berkontribusi pada tekanan depresiasi nilai tukar.
Oleh karena itu, kebijakan moneter difokuskan pada penguatan ketahanan eksternal dan menjaga stabilitas nilai tukar, sembari menghindari kelangkaan likuiditas domestik.
Hal ini mencerminkan keseimbangan antara menstabilkan rupiah melalui intervensi valas, penyesuaian BI Rate dan yield SRBI, serta insentif untuk mendorong aliran masuk portofolio, sembari terus menyediakan likuiditas rupiah domestik yang memadai.
Bank Indonesia juga akan memastikan pertumbuhan uang inti tetap berada di angka dua digit.
Untuk mendukung hal ini, BI akan menahan diri dari pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder dan sebaliknya akan membuka kembali operasi repurchase agreement (repo) mingguan dengan tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan, yang memungkinkan bank untuk mengakses likuiditas sesuai kebutuhan.
9. Mark Ledger-Evans: Terima kasih Gubernur. Pertama, mengapa Anda tidak menghapus pajak investasi pada obligasi pemerintah saja, daripada memberikan potongan harga (rebate) 10% untuk biaya lindung nilai valas ini?
Kedua, apakah potongan harga tersebut hanya berlaku untuk transaksi ke depan? Maaf, satu pertanyaan lanjutan lagi. Apakah Anda menyesuaikan perkiraan pertumbuhan ekonomi Anda untuk tahun 2026?
Gubernur Bank Indonesia: Pertama, Bank Indonesia menyadari bahwa para investor telah menyarankan untuk mengurangi atau menghapus pajak atas investasi portofolio guna meningkatkan daya tarik aset-asset Indonesia.
Meskipun langkah-langkah tersebut memungkinkan, hal itu akan memerlukan kebijakan tambahan dan proses administratif. Insentif lindung nilai valas adalah cara yang lebih cepat dan praktis untuk mengompensasi biaya-biaya tersebut.
With mengurangi biaya swap hedging valas sebesar 10%, Bank Indonesia secara efektif memberikan kompensasi kepada investor atas biaya pajak dan biaya transaksi lainnya yang terkait dengan investasi pada aset keuangan Indonesia.
Kedua, meskipun fasilitas ini ditujukan terutama untuk mendukung investasi baru, fasilitas ini juga tersedia untuk kepemilikan aset yang sudah ada yang memenuhi syarat.
Investor yang memegang SRBI, obligasi pemerintah, atau saham dapat mengakses fasilitas ini melalui bank peserta, asalkan mereka dapat menunjukkan bukti kepemilikan dari aset dasar (underlying assets) tersebut.
Fasilitas ini berlaku untuk transaksi swap valas dengan tenor hingga 12 bulan. Untuk aset jangka panjang, seperti obligasi pemerintah tenor 5 atau 10 tahun, investor masih dapat memanfaatkan fasilitas ini asalkan sisa masa jatuh tempo dari aset dasar tersebut melebihi tenor transaksi swap valas yang dilakukan.
Ketiga, Bank Indonesia terus mempertahankan prospek pertumbuhan ekonominya, didukung oleh koordinasi kebijakan yang kuat antara otoritas moneter dan fiskal.
Kebijakan fiskal tetap difokuskan pada mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara Bank Indonesia berkonsentrasi pada menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar.
Bank Indonesia mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9%–5,7% untuk tahun 2026.
Ke depan, Bank Indonesia juga telah memberikan perkiraan pertumbuhan indikatif sebesar 5,1%–5,9% untuk tahun 2027 sebagai bagian dari diskusi mengenai RAPBN 2027.
10. Kaimin Khaw: Terima kasih Gubernur. Berapa perkiraan biaya fiskal bagi Kementerian Keuangan akibat membiarkan suku bunga yang lebih tinggi di seluruh kurva obligasi Pemerintah Indonesia?
Gubernur Bank Indonesia: Perkiraan biaya fiskal tersebut akan lebih tepat jika ditujukan kepada Kementerian Keuangan. Namun, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah mencapai pemahaman bersama mengenai perlunya memperkuat nilai tukar rupiah dengan menarik aliran masuk portofolio.
Hal ini akan didukung melalui penyesuaian pada yield obligasi pemerintah, yield SRBI, dan penyediaan fasilitas lindung nilai valas dengan biaya yang lebih rendah.
Bank Indonesia akan terus berkoordinasi erat dengan Kementerian Keuangan, termasuk mengenai implikasi fiskal dari langkah-langkah ini.
11. Hosianna Situmorang: Dengan CAD (Current Account Deficit/Defisit Transaksi Berjalan) Indonesia berada di 1,1% dari PDB, yang berada dalam kisaran target setahun penuh BI sebesar 0,5% hingga 1,3%, bagaimana BI mengevaluasi potensi pelebaran defisit ini?
Bagaimana mereka akan mengelola kesenjangan USD, dan apakah BI akan terus menaikkan BI Rate untuk menjaga stabilitas?
Gubernur Bank Indonesia: Bank Indonesia memandang defisit transaksi berjalan sebesar 1,1% dari PDB masih dapat dikelola dan tidak berlebihan untuk ukuran ekonomi negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia.
Sebagai negara berkembang, defisit transaksi berjalan yang moderat adalah hal yang wajar dan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.
Prioritas utamanya adalah memastikan perolehan surplus yang lebih tinggi pada neraca modal dengan menarik investasi asing langsung (FDI), termasuk melalui hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam, serta langkah-langkah untuk mengoptimalkan hasil devisa ekspor dari sumber daya alam, demi mendukung ketahanan eksternal.
Aliran masuk portofolio juga akan tetap penting.
Bank Indonesia akan terus berkoordinasi erat dengan Kementerian Keuangan untuk menarik aliran masuk portofolio dan neraca modal, baik dari FDI maupun investasi lainnya.
Langkah-langkah kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat cadangan devisa guna mendukung stabilisasi nilai tukar. Langkah-langkah untuk menarik aliran masuk investasi portofolio dimaksudkan untuk memastikan surplus yang cukup besar pada neraca modal agar dapat lebih dari sekadar mengompensasi defisit transaksi berjalan.
12. Galvin Chia: Terima kasih Pak Perry atas waktu Anda. Berapa nilai wajar (fair value) untuk IDR menurut Anda?
Dan apakah BI akan berkomitmen untuk melakukan intervensi di pasar valas dengan intensitas yang lebih besar guna membantu menyelaraskan kembali IDR ke nilai wajarnya?
Gubernur Bank Indonesia: Bank Indonesia tidak memberikan angka nominal spesifik untuk nilai wajar rupiah.
Sebaliknya, BI secara teratur menyusun prakiraan makroekonomi, yang mencakup inflasi, pertumbuhan, neraca pembayaran, neraca keuangan, dan jalur nilai tukar yang konsisten dengan proyeksi makroekonomi tersebut.
Pada saat penilaian sebelumnya, Bank Indonesia menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 50 basis poin untuk mendukung stabilitas nilai tukar dan menjaga inflasi tetap dalam kisaran targetnya. Evaluasi berikutnya menunjukkan bahwa depresiasi rupiah telah terjadi lebih besar dari yang diproyeksikan sebelumnya.
Akibatnya, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin lagi dan memperkenalkan langkah-langkah tambahan, termasuk penyesuaian pada yield SRBI dan instrumen kebijakan lainnya, untuk memperkuat stabilitas rupiah.
Bank Indonesia menekankan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari kerangka kebijakan yang telah mapan dan mencerminkan komitmen berkelanjutannya dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan.
13. Adrian Karim Januar: Terima kasih Pak Perry atas panggilan ini. Anda mengatakan bahwa BI dan pemerintah sepakat bahwa manajemen kas pemerintah akan tetap berada di BI? Apakah ini berarti penempatan SAL di bank-bank BUMN akan kembali ke BI?
Gubernur Bank Indonesia: Ya, prosesnya sudah berjalan, namun akan dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus.
Kementerian Keuangan telah mulai memindahkan saldo kas pemerintah dari perbankan kembali to Bank Indonesia secara bertahap.
Hal ini selaras dengan tujuan yang lebih luas untuk menstabilkan nilai tukar, mendukung imbal hasil yang menarik, dan menjaga likuiditas domestik yang memadai.
Pada saat yang sama, Bank Indonesia akan menggantikan sebagian likuiditas yang ditarik dari bank dengan menyediakan likuiditas melalui operasi repurchase agreement (repo).
Mulai minggu ini, bank-bank yang membutuhkan likuiditas dapat mengakses fasilitas repo BI.
Likuiditas perbankan secara keseluruhan tetap melimpah, meskipun beberapa bank individual mungkin memerlukan likuiditas tambahan.
Bank Indonesia siap menyediakan likuiditas kepada perbankan sesuai kebutuhan.
Hal ini mencerminkan implementasi terkoordinasi dari langkah-langkah yang diumumkan pada tanggal 6 Juni oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.
14. Sean Kelly: Terima kasih Gubernur. Bagaimana cara menyeimbangkan stabilisasi valas IDR terhadap rencana untuk menyuntikkan likuiditas tanpa batas dengan operasi repo karena hal itu akan menyebabkan suku bunga semalam (overnight rate) menjadi jauh lebih rendah?
Apakah hal itu akan dikompensasi dengan pengurangan kepemilikan obligasi jangka panjang dari neraca BI? Artinya, tujuannya adalah untuk meningkatkan struktur tenor?
Gubernur Bank Indonesia: Bank Indonesia mengelola keseimbangan ini melalui kerangka pemrograman moneter, yang menargetkan pertumbuhan dua digit pada uang inti sembari menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan.
Beberapa faktor memengaruhi uang inti, termasuk intervensi valuta asing, saldo kas pemerintah, dan operasi moneter.
Ketika BI melakukan intervensi di pasar valas untuk mendukung rupiah, likuiditas rupiah ditarik dari sistem perbankan.
Untuk mengompensasi dampak ini dan menjaga likuiditas tetap memadai, BI melakukan operasi sterilisasi melalui fasilitas repo.
Seperti yang telah diumumkan, Bank Indonesia akan membuka kembali lelang repo mingguan dengan tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan.
Selain itu, BI akan terus menyediakan likuiditas jangka pendek melalui operasi dua minggu dan satu bulan yang dilakukan melalui pasar uang dan primary dealers.
Dengan adanya fasilitas likuiditas ini, kebutuhan suntikan likuiditas melalui pembelian obligasi pemerintah jangka panjang, khususnya untuk tenor 10 tahun ke atas, akan berkurang secara signifikan.
Hal ini mendukung penyesuaian kurva imbal hasil yang lebih berbasis pasar sekaligus memastikan likuiditas yang cukup dalam sistem perbankan.
Secara keseluruhan, langkah-langkah terkoordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia, menarik aliran masuk portofolio, memperkuat ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar, sembari menjaga likuiditas domestik, stabilitas makroekonomi, dan kredibilitas fiskal.
15. Lazuardin Thariq Hamzah: Bapak yang terhormat, dapatkah Anda memberikan informasi lebih lanjut mengenai rencana peningkatan remunerasi untuk cadangan kas pemerintah? Terima kasih atas waktu Anda.
Gubernur Bank Indonesia: Di bawah kerangka treasury single account (rekening tunggal perbendaharaan), saldo kas pemerintah ditempatkan di Bank Indonesia. Sebagai pemegang rekening, pemerintah menerima remunerasi atas saldo tersebut, serupa dengan bagaimana bank memberikan remunerasi kepada deposan.
Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan sedang berkoordinasi mengenai tingkat remunerasi yang tepat.
Seiring dengan penyesuaian yield obligasi pemerintah yang lebih tinggi untuk membantu menarik aliran masuk portofolio, Bank Indonesia juga dapat menyesuaikan remunerasi yang diberikan pada saldo kas pemerintah yang ditempatkan di BI.
Ini adalah bagian dari koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih luas. Tujuannya adalah untuk memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia, mendukung aliran masuk portofolio, dan membantu menstabilkan rupiah, sembari mempertahankan stabilitas makroekonomi dan kredibilitas fiskal.
16. Kefas Sidauruk: Gubernur yang terhormat, menyusul koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan pada tanggal 6 Juni 2026, dapatkah Anda menjelaskan rencana peningkatan suku bunga yang dibayarkan oleh BI atas penempatan kas pemerintah?
Gubernur Bank Indonesia: Saya harap jawaban saya sebelumnya sudah cukup untuk menjelaskan pertanyaan ini.
17. Handy Yunainto: Pak Perry, dengan imbal hasil obligasi yang meningkat signifikan selama dua hari terakhir, apakah Bank Indonesia telah melihat tanda-tanda kembalinya aliran masuk dana asing yang substansial ke pasar?
Gubernur Bank Indonesia: Ya. Baik Bank Indonesia maupun Kementerian Keuangan sedang berupaya memberikan selisih imbal hasil yang lebih menarik di seluruh instrumen obligasi pemerintah, SBN, dan SRBI.
Bank Indonesia juga telah memperkenalkan biaya lindung nilai (hedding) swap valas yang lebih rendah melalui pengurangan biaya lindung nilai sebesar 10%, yang dimaksudkan untuk membantu mengompensasi kewajiban pajak investor dan biaya transaksi lainnya.
Dengan adanya langkah-langkah ini, Bank Indonesia mendorong investor asing untuk terus berinvestasi di Indonesia dan mengharapkan aliran masuk portofolio akan menguat.
18. Anil Kumar: Gubernur, berapa perkiraan NPL (kredit bermasalah) perbankan yang diperkirakan BI akibat suku bunga yang lebih tinggi? Apa target pertumbuhan kredit baru dari Bank Indonesia? Apakah ada batas atas suku bunga di mana jika terlewati akan berdampak negatif alih-alih positif?
Gubernur Bank Indonesia: Industri perbankan Indonesia tetap sehat dan tangguh, dengan intermediasi yang kuat dan risiko kredit yang dapat dikelola.
Pertumbuhan kredit tetap kuat di atas 10%, saat ini mendekati 11%. Bank Indonesia mempertahankan perkiraan pertumbuhan kredit pada kisaran 8%–12%, dan memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini akan bergerak menuju batas atas kisaran tersebut, berpotensi mendekati 12%.
Likuiditas bank juga tetap melimpah, dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) di atas 25%.
Kualitas aset tetap terjaga dengan baik, dengan NPL net di bawah 1% dan NPL gross juga berada pada tingkat yang rendah, didukung oleh pencadangan yang memadai.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia tetap optimistis bahwa bank dapat terus menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif sembari mempertahankan manajemen risiko yang pruden, didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid.
19. Saad Khan: Terima kasih, Gubernur. Mengenai IDR, apakah Anda lebih khawatir tentang laju depresi, atau tingkat nilainya?
Tingkat nilai IDR itu sendiri tampaknya sejalan dengan dinamika Neraca Pembayaran (BoP) dan guncangan eksternal—mengapa hal itu menjadi masalah? Terima kasih banyak atas waktu Anda.
Gubernur Bank Indonesia: Bank Indonesia menilai nilai tukar sebagai salah satu indikator utama dalam kerangka prakiraan makroekonomi secara keseluruhan. Setiap bulan, BI mengevaluasi inflasi, pertumbuhan ekonomi, neraca pembayaran, dan prospek nilai tukar sebagai bagian dari proyeksi makroekonominya.
Oleh karena itu, nilai tukar dinilai tidak secara terpisah, melainkan dalam kaitannya dengan dinamika dan prospek makroekonomi Indonesia yang lebih luas.
Penilaian ini dilakukan secara berkala melalui Rapat Dewan Gubernur bulanan BI, dengan perspektif ke depan (forward-looking) dalam kurun waktu dua tahun ke depan.
20. Yura Pradipta: Pak Perry yang terhormat, apakah ada angka yang bisa dibagikan mengenai kenaikan suku bunga yang bersedia dibayarkan BI kepada pemerintah sebagai imbalan atas pengelolaan kas kembali tersebut? (Catatan: Pertanyaan ini dijawab bersamaan dengan pertanyaan nomor 21)
21. Bayu Wiratama: Pak Gubernur yang terhormat. Jika pihak luar negeri (offshore) memenangkan lelang SRBI tenor 12 bulan, dapatkah mereka berpartisipasi dalam swap hedging BI untuk tenor swap 1 tahun? Mengingat tenor SRBI 12 bulan akan menjadi lebih pendek daripada swap 1 tahun, terutama pada saat penerbitan kembali (re-issuance).
Gubernur Bank Indonesia: Investor portofolio dapat membeli berbagai instrumen investasi di Indonesia, termasuk obligasi pemerintah, SRBI, dan saham. Anda juga dapat mendekati perbankan untuk mengatur transaksi swap untuk keperluan lindung nilai.
Tenor dari swap tidak boleh lebih panjang dari sisa masa jatuh tempo dari aset dasar (underlying asset), karena swap tersebut ditujukan untuk lindung nilai.
Sebagai contoh, jika Anda memegang obligasi pemerintah jangka waktu lima tahun, Anda dapat melakukan transaksi swap 12 bulan. Ketika swap tersebut jatuh tempo, Anda dapat terus memperpanjangnya selama sisa masa jatuh tempo pada aset dasar masih mencukupi.
Demikian pula, jika Anda membeli SRBI 12 bulan, Anda dapat melakukan swap 12 bulan. Ketika sisa masa jatuh tempo turun menjadi sembilan bulan, tenor swap juga akan menjadi sembilan bulan, dan seterusnya.
Oleh karena itu, jika Anda membeli SRBI 12 bulan, kami menyarankan untuk melakukan transaksi swap 12 bulan juga. Hal ini memungkinkan Anda untuk menghitung imbal hasil bersih (net return) setelah memperhitungkan biaya lindung nilai.
Imbal hasil pada SRBI 12 bulan telah meningkat dan baru-baru ini berada di sekitar 7,2%. Setelah mempertimbangkan biaya lindung nilai melalui swap, Anda dapat menghitung imbal hasil bersih yang akan Anda peroleh.
Hal inilah yang dipertimbangkan oleh Bank Indonesia, untuk memastikan daya tarik dan daya saing Indonesia relatif terhadap negara lain.
Oleh karena itu, sekali lagi, kami mendorong para investor untuk datang ke Indonesia, berinvestasi di Indonesia, dan memanfaatkan peluang investasi portofolio yang tersedia. Investor dapat memperoleh keuntungan dari imbal hasil yang menarik sekaligus melindungi investasi mereka melalui instrumen lindung nilai yang tepat.
22. Rulio: Halo Pak Perry, jika boleh saya rangkum, investor mengkhawatirkan tentang:
1. Depresiasi mata uang lebih lanjut yang mengikis keuntungan investor asing
2. Kemungkinan besar penurunan peringkat oleh S&P
3. Kurva imbal hasil yang terbalik (inverted yield curve), dengan yield 1 tahun saat ini sudah mencapai 7,3%, tertinggi sejak 2018
4. Kerentanan fiskal yang melemahkan kemampuan pembayaran kembali dan pembiayaan kembali (refinancing)
5. Investasi masa lalu yang tidak benar-benar terwujud menjadi jumlah lapangan kerja yang signifikan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana tanggapan Anda mengenai hal tersebut?
Gubernur Bank Indonesia: Ini sebenarnya adalah apa yang telah kami coba tunjukkan: semua penilaian ini perlu dijelaskan dengan benar dan tepat.
Pertama, mengenai selisih imbal hasil, kami telah mengatasi masalah ini. Kami memahami bahwa ada kekhawatiran mengenai respons kebijakan dan perkembangan nilai tukar.
Kami telah menanggapi kekhawatiran ini. Bank Indonesia telah menggunakan semua instrumen yang tersedia untuk mendukung nilai tukar agar sejalan dengan tujuan makroekonomi kami.
Kami telah menerapkan sejumlah langkah kebijakan moneter untuk memperkuat nilai tukar.
Kami terus melakukan intervensi di pasar, dan kami memiliki cadangan devisa yang lebih dari cukup.
Kami menyesuaikan suku bunga kebijakan kami, BI Rate, jika diperlukan.
Kami memastikan likuiditas domestik memadai dan terus memperdalam pasar uang serta pasar keuangan kami.
Sekali lagi, hari ini kami juga telah mengambil keputusan kebijakan lebih lanjut untuk memastikan stabilitas rupiah, likuiditas yang memadai, dan penguatan nilai tukar yang sejalan dengan fundamental ekonomi.
Kami telah melakukan ini, kami sedang melakukan ini, dan kami akan terus melakukannya. Bank Indonesia akan terus menerapkan praktik kebijakan yang sehat dan sepenuhnya menggunakan kewenangannya untuk mendukung stabilitas dan penguatan rupiah.
Kami juga telah menanggapi kekhawatiran mengenai kecukupan cadangan devisa. Kerangka kerja manajemen cadangan devisa kami didasarkan pada metrik Assessing Reserve Adequacy (ARA) dari IMF.
Semua kebijakan kami dipandu oleh teori yang sehat, praktik terbaik internasional, dan kehati-hatian, dan kami akan terus mempertahankan pendekatan ini.
At the same time, kami terus memastikan koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter. Pada tanggal 6 Juni, kami menunjukkan koordinasi ini tidak hanya melalui pengumuman kami tetapi juga melalui tindakan kebijakan yang nyata.
Kementerian Keuangan telah mengambil langkah-langkah kebijakan, dan kami juga telah membuat keputusan kebijakan kami sendiri. Bersama-sama, tindakan-tindakan ini mencerminkan koordinasi yang erat antara otoritas fiskal dan moneter.
Seperti yang telah Anda dengar dari Menteri Keuangan, defisit fiskal tetap berada di bawah 3% dan bahkan lebih rendah dari yang diproyeksikan sebelumnya.
Pada saat yang sama, kebijakan fiskal terus mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial melalui efisiensi pengeluaran, realokasi anggaran, dan langkah-langkah kebijakan lainnya.
Tindakan-tindakan ini juga menjawab sejumlah isu yang telah disoroti oleh lembaga pemeringkat (rating agencies). Kami mengatasi semua kekhawatiran ini.
Namun, perkembangan ini juga perlu dikomunikasikan dengan baik untuk avoidance of salah persepsi dan sentimen negatif yang tidak perlu. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa saya menghargai kesempatan seperti Investor Conference Call ini.
Anda dapat mendengar langsung dari saya, sebagai Gubernur Bank Sentral, bahwa kami menerapkan semua kebijakan yang diperlukan untuk memastikan bahwa investasi asing di Indonesia didukung oleh fundamental yang kuat, manajemen kebijakan yang sehat, selisih imbal hasil yang menarik, dan fasilitas lindung nilai berbiaya rendah.
23. Pooja Bajaj: Gubernur yang terhormat, apa rencana terkait lelang DNDF? Jika tidak sepenuhnya diperpanjang (rolled over), hal itu menyebabkan lebih banyak permintaan US$?
Gubernur Bank Indonesia: Transaksi forward adalah bagian dari kerangka kerja lindung nilai kami.
Kami akan terus menyediakan dan mendukung fasilitas lindung nilai. Offshore Non-Deliverable Forward (NDF) and Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) adalah komponen penting dari instrumen lindung nilai kami, sekaligus alat untuk mendukung stabilitas dan penguatan nilai tukar rupiah sejalan dengan fundamental ekonomi.
Kami akan terus melakukan ini. Oleh karena itu, jika Anda memiliki eksposur di pasar dan membutuhkan lindung nilai, Anda dapat pergi ke bank atau pasar untuk melakukan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward.
Kami juga berpartisipasi aktif dalam pasar forward domestik melalui operasi DNDF. Selain itu, kami melakukan intervensi di pasar DNDF untuk memastikan pasokan yang memadai bagi kebutuhan lindung nilai, baik di pasar spot maupun di pasar forward melalui instrumen non-deliverable.
Sekali lagi, ini adalah bagian dari fungsi dan tujuan kami untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sembari mendukung pergerakannya agar sejalan dengan fundamental ekonomi.
24. Lin Jing Leong: Terima kasih Pak Perry. Dalam koordinasi BI dengan Kementerian Keuangan, apakah sudah ada pembicaraan mengenai penyesuaian jumlah penerbitan obligasi pemerintah daerah (domestik) vs penerbitan Eurobond serta repatriasi / lindung nilai dari hasil penerbitan tersebut?
Gubernur Bank Indonesia: Setiap tahun, biasanya pada bulan Januari, kami berkoordinasi mengenai rencana pembiayaan tahunan, termasuk berapa banyak Kementerian Keuangan akan menerbitkan obligasi pemerintah, baik dalam rupiah maupun mata uang asing.
Kami juga berkoordinasi mengenai waktu penerbitan tersebut. Koordinasi ini berlanjut sepanjang tahun. Kami berkoordinasi dari bulan ke bulan, bahkan dari minggu ke minggu, mengenai rencana penerbitan obligasi Kementerian Keuangan dan bagaimana penyelarasannya dengan operasi moneter kami.
Dalam pelaksanaan aktualnya, tentu saja perkembangan pasar terbaru juga menjadi pertimbangan bagi Kementerian Keuangan.
Tentu saja, jika biaya penerbitan di pasar global, khususnya di Asia, termasuk Jepang, Australia, dan Tiongkok, lebih rendah, maka wajar bagi Kementerian Keuangan untuk meningkatkan penerbitan di pasar-pasar tersebut.
Ini hanyalah bagian dari upaya memastikan pembiayaan anggaran yang memadai sekaligus mengoptimalkan biaya pendanaan, baik dari sumber domestik maupun internasional.
Pemerintah terus membandingkan biaya pendanaan di berbagai pasar yang berbeda, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.
Ketika ada permintaan yang kuat dari investor Asia dan biaya pendanaan relatif lebih rendah di kawasan tersebut, wajar bagi pemerintah untuk meningkatkan ukuran penerbitan obligasinya di pasar Asia. Ini adalah bagian dari strategi yang pruden untuk mengamankan pembiayaan dengan biaya yang paling efisien.
25. Nadia Nathania Tjondro: Selama panggilan ini, jelas bahwa BI mencoba menarik aliran masuk portofolio luar negeri. Apakah ada tingkat nominal tertentu yang ditargetkan BI atau kondisi di mana manfaatnya melebihi biayanya? Apa indikatornya?
Gubernur Bank Indonesia: Berapa banyak yang ingin Anda investasikan?
Sebanyak yang Anda inginkan. Jika Anda datang ke Indonesia dan berinvestasi di sini, Anda dapat berinvestasi sebanyak yang bersedia Anda alokasikan.
Kami akan menyediakan selisih imbal hasil yang menarik dan fasilitas lindung nilai berbiaya rendah.
Tujuannya jelas: Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang sangat kuat dan prospek yang sangat menjanjikan.
Indonesia ramah pasar dan terus menyambut aliran masuk portofolio dengan menawarkan imbal hasil yang menarik di samping pilihan lindung nilai yang relatif berbiaya rendah. Itulah tujuan dasar dan alasan di balik pendekatan kami.
Jadi, tolong beri tahu teman-teman dan klien Anda: datanglah ke Indonesia dan berinvestasi di Indonesia. Baik itu SRBI, obligasi pemerintah, atau aset investasi lainnya, kami menyambut investor yang tertarik untuk berpartisipasi dalam cerita pertumbuhan Indonesia.
Investasi apa pun yang ingin dilakukan oleh klien Anda, atau Anda sendiri di Indonesia, kami siap mendukung lingkungan investasi yang kondusif.
26. Stanislav Gelfer: Berapa besar Anda memperkirakan pengeluaran di luar anggaran (off-budget spending) melalui berbagai program di bawah garis (below the line) dan dana-dana yang baru dibentuk oleh pemerintah dalam persentase terhadap PDB?
Gubernur Bank Indonesia: Pertanyaan ini seharusnya ditujukan kepada Menteri Keuangan. Saya tidak memiliki kewenangan atau informasi untuk mengomentari masalah tersebut. Oleh karena itu, saya mohon agar pertanyaan ini ditujukan kepada Menteri Keuangan. Terima kasih.
27. Parisha Saimbi: Terima kasih Pak Perry. Seberapa besar kekhawatiran Anda mengenai tinjauan MSCI terhadap saham-saham Indonesia, yang dijadwalkan selesai bulan ini?
Jika mereka menurunkan peringkat saham-saham tersebut ke status pasar perbatasan (frontier status), apakah menurut pandangan Anda hal ini menimbulkan risiko stabilitas keuangan yang signifikan?
Dan jika demikian, instrumen apa yang dapat Anda gunakan untuk mengelolanya?
Gubernur Bank Indonesia: Saya memiliki keyakinan penuh pada teman saya, Frederica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan rekan-rekan saya di Otoritas Jasa Keuangan.
Mereka telah bekerja sangat erat dan tanpa lelah, siang dan malam, termasuk dalam koordinasi erat dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Saya sangat senang dengan kerja luar biasa yang telah mereka lakukan dalam merespons kekhawatiran MSCI.
Seperti yang telah dijelaskan, mereka telah menunjukkan dengan jelas bahwa kerangka kerja pasar modal Indonesia telah selaras dengan praktik terbaik global.
Oleh karena itu, saya memiliki keyakinan penuh pada rekan-rekan saya di Otoritas Jasa Keuangan. Hal ini juga didukung oleh kerangka kerja kami yang terorganisasi dengan baik dan terkoordinasi erat untuk stabilitas sistem keuangan.
Bukan hanya Menteri Keuangan dan saya sendiri, sebagai Gubernur Bank Sentral, tetapi juga Ketua Otoritas Jasa Keuangan yang bekerja sama secara erat dalam menjaga stabilitas dan perkembangan sistem keuangan Indonesia. Saya memiliki kepercayaan penuh dan keyakinan pada rekan-rekan saya di OJK.
28. Anil Kumar: Gubernur, berapa banyak NPL bank yang diperkirakan BI akibat suku bunga yang lebih tinggi? Apa target pertumbuhan kredit baru dari Bank Indonesia? Apakah ada batas atas suku bunga di mana jika dilewati akan berdampak negatif alih-alih positif?
Gubernur Bank Indonesia: Industri perbankan kita sangat sehat dan tangguh, dan pertumbuhan penyaluran kredit terus meningkat.
Sekarang tumbuh pada tingkat dua digit, mendekati 11%. Kami mempertahankan kisaran perkiraan 8%–12%, dan kami yakin bahwa pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini akan tetap di atas 11% dan bergerak mendekati 12%.
Intermediasi keuangan terus tumbuh di Indonesia.
Para bankir kami sangat inovatif dalam mengidentifikasi sektor-sektor prospektif sembari mempertahankan risiko kredit yang dapat dikelola.
Kedua, likuiditas tetap lebih dari memadai. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga sangat tinggi, di atas 25%, dan Bank Indonesia bersama dengan Kementerian Keuangan terus memastikan likuiditas yang melimpah di dalam sistem.
Kredit bermasalah (NPL) tetap sangat rendah. NPL net berada di bawah 1%, sedangkan NPL gross juga berada pada tingkat yang rendah, didukung oleh pencadangan yang kuat dan cakupan (coverage) oleh bank.
Kita juga perlu menyadari bahwa ekonomi kita terus tumbuh. Pertumbuhan mencapai 5,6% pada kuartal pertama, dan kami memperkirakan pertumbuhan akan tetap di atas 5% pada kuartal kedua, ketiga, dan keempat.
Ini adalah perkembangan yang sangat positif. Konsumsi terus tumbuh, ekspor tetap berdaya tahan, dan investasi juga diperkirakan akan terus menguat. Secara keseluruhan, prospek makroekonomi kami tetap menguntungkan.
Pada saat yang sama, bank-bank terus berinovasi dalam mengidentifikasi peluang penyaluran kredit dan memperluas aktivitas bisnis.
Hal ini tercermin dalam pertumbuhan penyaluran kredit yang sudah di atas 10% dan terus meningkat hingga mencapai sekitar 11%. Kami yakin bahwa pertumbuhan penyaluran kredit akan tetap berada dalam kisaran perkiraan kami sebesar 8%–12%, dengan kemungkinan mencapai batas atas dari kisaran tersebut.
Secara keseluruhan, hal ini mencerminkan kekuatan dan ketangguhan industri perbankan Indonesia.
29. Stanislav Gelfer: Apa arti dari pertumbuhan PDB yang ditambahkan ke dalam mandat BI dalam mengalibrasi arah kebijakannya pada saat stabilitas valas menjadi kunci? Apa yang harus dipahami investor dari perubahan ini?
Gubernur Bank Indonesia: Kami sebenarnya sudah mempraktikkan hal ini.
Faktanya, ini adalah praktik terbaik (best practices) yang sama yang juga diikuti oleh bank-bank sentral lainnya.
Mandat utama kami adalah mendukung stabilitas dengan menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar, mendukung stabilitas sistem pembayaran, serta meningkatkan inklusi dan aksesibilitas keuangan. Semua ini membutuhkan kemampuan prakiraan yang kuat.
Hal ini sudah diamanatkan undang-undang, dan itulah yang telah kami praktikkan selama ini. Oleh karena itu, undang-undang tersebut pada dasarnya meresmikan praktik kami yang sudah ada.
Ketika menjalankan kebijakan moneter, termasuk kebijakan nilai tukar, kebijakan suku bunga, dan manajemen likuiditas, kami menyusun prakiraan untuk pertumbuhan, inflasi, nilai tukar, penyaluran kredit, dan transaksi berjalan. Ini adalah prakiraan makroekonomi yang mencakup jangka waktu dua tahun.
Berdasarkan prakiraan ini, kami menentukan lintasan nilai tukar yang tepat, suku bunga yang sesuai, dan tingkat likuiditas moneter yang tepat, termasuk uang inti.
Inilah yang telah kami lakukan selama ini. Singkatnya, undang-undang tersebut meresmikan praktik kami yang telah mapan. Kami secara konsisten mengikuti kerangka kebijakan yang pruden, sehat, dan merupakan praktik terbaik untuk kebijakan moneter, pasar keuangan, dan sistem pembayaran.
Kami memastikan pencapaian tujuan kebijakan kami dan stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi valuta asing, suku bunga, dan manajemen likuiditas.
Ini persis seperti apa yang telah kami lakukan sejauh ini, dan kami akan terus melakukannya. Sekali lagi, hal ini menunjukkan koordinasi yang erat dengan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas secara keseluruhan, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dan daya tariknya bagi investor asing.
***
Investor Asia (Rabu pagi pukul 10.00 WIB)
30. Danny Suwanapruti: Selamat pagi Pak Perry, terima kasih atas waktu dan penjelasannya. Saya memiliki dua pertanyaan.
Pertama, mengenai penurunan biaya hedging sebesar 10% yang bapak sampaikan. Bisakah dijelaskan tujuan kebijakan ini dalam konteks stabilisasi pasar valuta asing?
Jika tujuannya adalah mendorong investor asing melakukan lindung nilai penuh atas eksposur obligasi mereka, maka dampak langsungnya terhadap pasar spot tampaknya terbatas. Apa rasional di balik kebijakan tersebut?
Selain itu, jika tujuannya untuk mengompensasi beban withholding tax melalui penurunan biaya hedging, apakah pernah dibahas kemungkinan mengurangi atau menghapus withholding tax seperti yang dilakukan India?
Kedua, mengenai spread antara yield SRBI dan BI Rate. Spread tersebut telah melebar hingga sekitar 150–200 bps. Apakah BI memiliki kisaran spread yang dianggap ideal?
Kekhawatirannya, bila yield SRBI terlalu tinggi dibanding BI Rate, bank mungkin lebih memilih membeli instrumen BI daripada menyalurkan kredit ke sektor swasta.
Gubernur Bank Indonesia: Fundamental ekonomi domestik Indonesia tetap kuat.
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan 4,9–5,7% tahun ini dan 5,1–5,9% tahun depan. Inflasi tetap rendah dalam sasaran 2,5% ±1%, neraca pembayaran sehat, pertumbuhan kredit di atas 10%, dan cadangan devisa memadai.
Namun, sebagai negara berkembang yang terbuka, Indonesia rentan terhadap spillover global sehingga perlu memperkuat ketahanan eksternal.
Salah satu caranya adalah menjaga agar arus modal masuk ke neraca modal dan finansial cukup untuk membiayai defisit transaksi berjalan yang relatif rendah.
Karena suku bunga global meningkat, BI perlu menyesuaikan yield instrumen domestik seperti SRBI dan SBN dengan perkembangan pasar global, terutama US Treasury dan prospek Fed Funds Rate. Tujuannya adalah menjaga daya tarik bagi investor asing and menopang stabilitas rupiah.
Pada saat yang sama, BI memastikan kebijakan tersebut tidak mengurangi likuiditas domestik. BI menyediakan likuiditas melalui operasi moneter dan membuka kembali lelang repo mingguan agar transmisi ke suku bunga deposito dan kredit tidak berlebihan.
Terkait daya tarik investasi asing, banyak investor mengusulkan pengurangan withholding tax.
Pembahasan itu tetap berjalan dengan Kementerian Keuangan. Namun, langkah yang bisa segera dilakukan adalah diskon 10% biaya hedging, yang berada dalam kewenangan BI dan secara praktis mengompensasi sebagian beban pajak investor asing.
31. Chenchao Yu: Kenapa BI mengambil keputusan off-cycle, seminggu sebelum jadwal rapat resmi?
Apakah ini berarti BI akan lebih bersifat reaktif dari hari ke hari?
Gubernur Bank Indonesia: BI menghadapi dinamika global yang berubah dari minggu ke minggu, baik dari sisi geopolitik, ekonomi, maupun pasar keuangan.
BI melakukan evaluasi mingguan dan menemukan bahwa depresiasi rupiah lebih besar dari perkiraan. Karena itu, BI bertindak cepat untuk memberikan keyakinan bahwa otoritas moneter akan responsif, pre-emptive, dan cepat. Langkah ini tidak menggantikan rapat bulanan, tetapi merupakan bagian dari praktik yang sudah diterapkan sejak UU BI 1999.
33. Trinh Nguyen - Bagaimana implementasi dan perhitungan diskon 10% biaya swap hedging?
Gubernur Bank Indonesia: Investor asing yang membeli SBN, SRBI, atau saham Indonesia cukup membawa bukti pembelian ke bank dan meminta transaksi swap hedging diteruskan ke BI. Selama terdapat underlying transaction yang sah, BI akan memberikan potongan biaya hedging sebesar 10%.
34. Ariastiadi Saleh Herutjakra: Bagaimana pandangan BI terhadap Fed Funds Rate dan dampaknya terhadap BI Rate serta SRBI?
Gubernur Bank Indonesia: BI memantau perkembangan ekonomi AS setiap bulan dan setiap minggu. Menurut penilaian terakhir, Fed Funds Rate kemungkinan tidak turun tahun ini dan bahkan masih memiliki peluang naik.
Hal tersebut tercermin dalam kenaikan yield US Treasury 2 tahun dan 10 tahun. Karena itu BI menyesuaikan yield domestik agar selisih imbal hasil tetap menarik bagi investor asing.
35. Euben Paracuelles - Mengapa BI menaikkan BI Rate 25 bps dan bukan 50 bps seperti sebelumnya?
Gubernur Bank Indonesia: Keputusan didasarkan pada kerangka proyeksi makroekonomi BI.
Sejak rapat sebelumnya, depresiasi rupiah lebih besar dari yang diperkirakan sehingga BI memutuskan menaikkan suku bunga 25 bps untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik arus modal masuk.
36. Euben Paracuelles: Apakah rapat Dewan Gubernur tanggal 18 tetap berjalan dan apakah kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin?
Gubernur Bank Indonesia: Rapat bulanan dan mingguan tetap berjalan seperti biasa. Rapat mingguan digunakan untuk mengevaluasi apakah asumsi rapat bulanan masih relevan.
BI akan terus memantau pasar dan bertindak sesuai kewenangannya bila diperlukan.
37. Heng Jiong Hong: Berapa level wajar yield IndoGB 10 tahun dan USD/IDR menurut BI?
Gubernur Bank Indonesia: BI tidak menetapkan target angka tertentu. Penilaian dilakukan berdasarkan covered dan uncovered interest parity, perbandingan terhadap US Treasury, negara sejenis, dan premi risiko. BI percaya fundamental Indonesia mendukung penguatan rupiah.
38. Michael Loh: Apakah fasilitas swap valas diskon akan masuk dalam FX forward book BI? Apakah bentuknya deliverable swap dan bukan DNDF?
Gubernur Bank Indonesia: Ya, fasilitas ini merupakan swap hedging berbasis underlying investment. Investor membawa dokumen aset dasar ke bank, lalu bank meneruskan transaksi ke BI. Fasilitas ini bukan DNDF standar.
39. Kaimin Khaw - Apakah saldo kas pemerintah di bank BUMN akan dikembalikan ke BI?
Gubernur Bank Indonesia: Proses tersebut sudah berlangsung bertahap oleh Kementerian Keuangan. Sebagai kompensasi, BI membuka kembali lelang repo mingguan agar likuiditas perbankan tetap memadai.
40. Chow Yang Ang: Apa prioritas BI saat ini: menjaga likuiditas rupiah atau menarik investor asing melalui yield yang lebih tinggi?
Gubernur Bank Indonesia: BI memiliki beberapa tujuan sekaligus.
Prioritas saat ini adalah memperkuat rupiah dan ketahanan eksternal melalui peningkatan yield differential dan penurunan biaya hedging, sambil tetap memastikan likuiditas domestik cukup untuk mendukung pertumbuhan kredit.
41. Shaoyu Guo: Apakah fasilitas swap valas diskon tersedia untuk bank offshore?
Gubernur Bank Indonesia: Ya. Investor asing dapat menggunakan bank luar negeri, yang kemudian meneruskan transaksi melalui bank domestik ke BI. Selama terdapat bukti underlying investment, fasilitas dapat digunakan.
42. Brian Lee: Bagaimana prospek pertumbuhan kredit setelah kenaikan suku bunga?
Gubernur Bank Indonesia: BI tidak memperkirakan kenaikan suku bunga akan menghambat kredit.
Pertumbuhan kredit saat ini mendekati 11% dan diperkirakan tetap berada dalam target 8–12%, didukung likuiditas dan insentif makroprudensial.
43. Leo Rivera: Apakah ada level USD/IDR tertentu yang akan memicu intervensi tambahan?
Gubernur Bank Indonesia: BI tidak menargetkan level kurs tertentu. Yang dinilai adalah konsistensi nilai tukar dengan fundamental makroekonomi dan hasil stress test yang diperbarui secara berkala.
44. Michael Isprihanto: Apakah BI masih melakukan operation twist dan apakah akan diperluas ke tenor panjang?
Gubernur Bank Indonesia: BI dan Kementerian Keuangan membiarkan yield tenor panjang menyesuaikan melalui mekanisme pasar. BI menahan diri untuk membeli obligasi pemerintah tenor panjang dan lebih mengandalkan operasi repo.
45. Michael Wan: Bagaimana dampak potensi kenaikan harga BBM terhadap kebijakan BI?
Gubernur Bank Indonesia: Risiko kenaikan harga minyak dan komoditas global sudah dimasukkan dalam proyeksi inflasi dan menjadi salah satu dasar penyesuaian suku bunga agar inflasi 2026–2027 tetap dalam target.
46. Rina Jio: Ketika Anda menyebutkan rupiah (IDR) akan menguat, apakah Anda memiliki asumsi implisit terhadap DXY? Jika rupiah terdepresiasi sejalan dengan DXY yang menguat, apakah Anda akan mengabaikan (overlook) hal tersebut? Terima kasih.?
Gubernur Bank Indonesia: Kami melakukan penilaian, bulan demi bulan dan minggu demi minggu, kami memantau dengan erat perkembangan global.
Kami melihat imbal hasil (yield) US Treasury, baik acuan bertenor 2 tahun maupun 10 tahun, serta proyeksi suku bunga The Fed (Federal Funds Rate) dan pergerakan DXY.
Kami juga mengukur kekuatan DXY terhadap mata uang negara maju lainnya dan mata uang Asia.
Ini adalah bagian dari kerangka kerja praktik terbaik yang kami ikuti. Kami mengevaluasi perkembangan nilai tukar, termasuk nilai tukar riil, terhadap proyeksi makroekonomi kami.
Kami menggunakan berbagai model untuk memperkirakan dan menilai konsistensi pergerakan nilai tukar dengan fundamental ekonomi yang mendasarinya.
Saya tidak dapat mengungkapkan level atau target nilai tukar yang spesifik, dan juga tidak tepat jika dikatakan bahwa kami menargetkan level tertentu.
Fokus kami adalah menjaga stabilitas nilai tukar dengan cara yang konsisten, dari waktu ke waktu, dengan prospek makroekonomi dan fundamental ekonomi kita.
Ini adalah basis fundamental dan kerangka kerja analitis yang memandu keputusan kebijakan kami. (ARF/MT)