Tiongkok pangkas biaya satelit orbit rendah Qianfan hingga 96%

Jumat, 12 Juni 2026

image

BEIJING - Proyek internet satelit orbit rendah Bumi (low-Earth orbit/LEO) milik Tiongkok, Qianfan Constellation, mencatat kemajuan signifikan dengan lebih dari 200 satelit telah mengorbit pada awal Juni 2026.

Proyek tersebut juga berhasil memangkas biaya produksi satelit secara drastis dan mempercepat pengembangan jaringan internet berbasis antariksa.

Dikutip dari CNGN, Presiden Innovation Academy for Microsatellites di Chinese Academy of Sciences sekaligus komandan utama sistem satelit Qianfan, Hu Haiying, mengatakan jumlah satelit Qianfan yang telah mengorbit telah mencapai 200 unit per 5 Juni 2026.

Menurut Hu, Qianfan kini sudah  tidak lagi berada pada tahap uji coba, melainkan telah memasuki fase peluncuran berskala besar sebagai upaya dari Tiongkok  dalammembangun konstelasi internet satelit orbit rendah Bumi.

Sama seperti Starlink milik SpaceX, Qianfan beroperasi pada orbit rendah Bumi dengan ketinggian sekitar 300 hingga 2.000 kilometer dari permukaan bumi.

Pada ketinggian tersebut, satelit berfungsi layaknya stasiun pemancar di langit yang mampu menyediakan koneksi yang lebih cepat dan responsif dan membentuk jaringan komunikasi yang terdiri dari puluhan ribu satelit.

Arsitektur tersebut dirancang untuk menyediakan akses internet di wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional, seperti daerah pegunungan terpencil, lautan lepas, dan kawasan kutub.

Konstelasi satelit yang dioperasikan perusahaan asal Shanghai, Spacesail Technologies, mengandalkan model produksi industri untuk menekan biaya manufaktur satelit secara signifikan.

Jika satelit komunikasi konvensional dapat menelan biaya hingga 300 juta yuan per unit, satelit Qianfan yang menggunakan desain panel datar dan standar kini diproduksi dengan biaya sekitar 10 juta yuan per unit. Dengan demikian, biaya produksinya 96% lebih murah.

Efisiensi tersebut dicapai melalui produksi massal, desain modular, dan pendekatan pengembangan cepat yang memungkinkan pembaruan teknologi dilakukan secara lebih sering.

"Karena Tiongkok telah membangun infrastruktur 5G terbaik di dunia, kebutuhan terhadap internet satelit sebelumnya tidak terlalu mendesak. Jaringan telekomunikasi darat kami sudah sangat kuat," kata Hu.

Intensitas Peluncuran Tinggi

Pengembangan jaringan Qianfan berlangsung dengan cepat melalui skema peluncuran satu roket untuk banyak satelit sekaligus. Pada awal Juni 2026, dua peluncuran satelit berkapasitas tinggi berhasil dilakukan hanya dalam selang waktu dua hari dari pusat peluncuran Taiyuan dan Wenchang.

Tiongkok menargetkan penyelesaian jaringan awal yang terdiri dari 324 satelit pada Juli 2026 mendatang untuk menyediakan layanan internet regional.

Dalam jangka panjang, jumlah satelit Qianfan ditargetkan dapat mencapai 15.000 unit pada 2030 guna menghadirkan cakupan layanan global.

Menurut Hu, percepatan pengembangan tersebut juga didorong oleh persaingan memperebutkan slot orbit dan frekuensi yang terbatas di bawah aturan internasional yang menganut prinsip "siapa cepat dia dapat".

Dengan Starlink yang telah mengoperasikan lebih dari 12.400 satelit hingga Juni 2026, Tiongkok berupaya mengamankan posisi orbit yang masih tersedia.

"Orbit dan frekuensi merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbarui," ujar Hu.

Ia menambahkan bahwa Starlink saat ini menguasai lebih dari 60% slot satelit aktif dunia dan hampir 70% posisi orbit utama pada ketinggian 500 hingga 600 kilometer yang dianggap ideal untuk layanan komunikasi langsung ke ponsel.

"Jika kami tidak segera meluncurkan dan memanfaatkannya, maka sumber daya tersebut akan diambil pihak lain," katanya.

Pada akhir 2025, Tiongkok mengajukan permohonan kepada International Telecommunication Union (ITU) untuk lebih dari 203.000 satelit guna mengamankan kapasitas orbit di masa depan.

Dirancang Ramah Lingkungan

Menanggapi kekhawatiran internasional terkait sampah antariksa, satelit Qianfan dilengkapi sistem de-orbit yang memungkinkan satelit keluar dari orbit secara otomatis setelah masa operasionalnya berakhir.

Setiap satelit dirancang untuk memiliki masa pakai sekitar tujuh tahun. Setelah itu, satelit akan kembali memasuki atmosfer Bumi dan terbakar habis sehingga tidak meninggalkan sampah antariksa jangka panjang.

Desain baru tersebut juga memungkinkan peluncuran satelit secara bertumpuk dalam jumlah besar.

"Kami kini dapat meluncurkan hingga 18 satelit sekaligus," kata Hu.

Menurutnya, mekanisme tersebut bekerja dengan memanfaatkan gaya sentrifugal sehingga satelit dapat dilepaskan satu per satu tanpa saling bertabrakan.

Selain menyediakan layanan internet, Qianfan juga dipandang penting bagi pengembangan komputasi berbasis antariksa, yakni pemrosesan data yang dilakukan di luar angkasa dengan memanfaatkan energi surya dan suhu rendah alami di ruang hampa.

Konsep tersebut dinilai berpotensi menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan energi komputasi kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat.

Ke depan, Spacesail menargetkan layanan internet satelit menjadi infrastruktur publik global yang terjangkau dan mudah diakses, termasuk untuk kapal laut, penerbangan komersial, serta wilayah terpencil, terutama di negara berkembang.

Apabila target tersebut tercapai, jaringan Qianfan berpotensi membantu mengurangi kesenjangan digital di berbagai wilayah yang masih sulit dijangkau jaringan serat optik maupun menara telekomunikasi konvensional. (ARF)