Bitcoin dekati level dasar pasar bearish, apa selanjutnya?

Jumat, 12 Juni 2026

image

NEW YORK - Bitcoin memasuki zona valuasi yang secara historis hanya muncul pada fase akhir pasar bearish. Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa pemulihan harga kemungkinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Dikutip dari CoinDesk, Data Checkonchain menunjukkan Bitcoin (BTC) bergerak mendekati rata-rata pergerakan 200 minggu (200-week moving average), indikator yang kerap digunakan investor jangka panjang untuk mengukur valuasi aset.

Berdasarkan model tersebut, Bitcoin kini berada di sekitar 10% terbawah dari rentang valuasi historisnya, level yang sebelumnya hanya muncul saat pasar kripto mengalami tekanan paling dalam.

Tekanan juga terlihat dari sisi sentimen pasar. Indeks Crypto Fear and Greed, yang mengukur sentimen investor berdasarkan volatilitas, aktivitas media sosial, dan volume perdagangan, turun ke level 9 atau berada di wilayah "ketakutan ekstrem".

Angka tersebut menunjukkan sentimen pasar terus melemah, dari level 48 sebulan lalu menjadi 11 pekan lalu dan kini hanya berada di level 9.

Kondisi tersebut umumnya menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar sensitif terhadap pergerakan harga telah melakukan aksi jual.

Namun, Checkonchain mengingatkan bahwa pembentukan titik terendah pasar biasanya berlangsung dalam proses yang panjang, dimulai dari kapitulasi investor dan diikuti oleh periode pergerakan harga yang cenderung datar selama berbulan-bulan.

Bitcoin sempat turun di bawah US$60.000 untuk pertama kalinya sejak 2024 sebelum kembali diperdagangkan di kisaran US$62.623 pada Kamis, naik 1,9% secara harian.

Meski demikian, harga Bitcoin masih mencatat penurunan dalam sepekan terakhir di tengah arus keluar dana dari ETF Bitcoin yang terus berlanjut.

Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah aset kripto utama lainnya, meski masih terbatas. Ether naik 1,4% menjadi US$1.651, BNB menguat 1,3% ke US$595, Solana naik 0,9% menjadi US$65, sementara Dogecoin bertambah 1,1% ke US$0,085.

Sebaliknya, XRP turun 0,3% ke US$1,12. Secara mingguan, seluruh aset kripto utama tersebut masih berada di zona negatif, dipimpin oleh Ether yang turun 6,5% dan XRP yang melemah 7,5%.

Tekanan terhadap pasar kripto juga datang dari faktor makroekonomi.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,5% secara bulanan pada Mei 2026 dan meningkat 4,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi laju inflasi tahunan tercepat sejak awal 2023 dan dipicu oleh lonjakan biaya energi akibat konflik Iran.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi hanya naik 0,2%, sedikit lebih rendah dari perkiraan ekonom.

Kepala Trading Wirex, Yves Renno, mengatakan harapan pasar terhadap kepastian regulasi kripto di Amerika Serikat kembali memudar. Menurutnya, peluang pengesahan Clarity Act pada 2026 berdasarkan prediksi Polymarket turun menjadi 48% dari sebelumnya 62%.

"Perhatian pasar kini tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni. Sikap Ketua The Fed Kevin Warsh akan menjadi faktor penentu apakah Bitcoin mampu pulih menuju kisaran US$68.000-US$72.000 atau justru kembali menembus level US$60.000," ujarnya.

Tekanan terhadap pasar juga tidak hanya terjadi di sektor kripto. Pasar saham global turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan setelah aksi jual saham teknologi meningkat dan militer AS melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran.

Indeks MSCI All Country World Index turun ke level terendah sejak 5 Mei 2026 lalu, sementara indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,8% ke posisi terendah dalam tiga pekan terakhir.

Di sisi lain, harga minyak Brent naik 1,8% ke sekitar US$95 per barel.Selain itu,  Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak September 2023. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama. (ARF)