AS geser Saudi dan Rusia sebagai eksportir minyak terbesar
Jumat, 12 Juni 2026
HOUSTON - Amerika Serikat menjadi eksportir minyak terbesar di dunia, menggeser dominasi Arab Saudi dan Rusia yang telah menjadi exportir minyak terbesar selama puluhan tahun.
Perubahan tersebut memperkuat pengaruh perusahaan-perusahaan energi AS di pasar global, terutama di saat konflik antara Washington dan Iran mengubah peta perdagangan energi dunia.
Perkembangan tersebut menandai perubahan besar bagi Amerika Serikat.yang selama beberapa dekade terakhir bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah.
Pada 1973, Amerika Serikat bahkan menjadi korban embargo minyak yang diberlakukan sejumlah anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sebagai respons atas dukungan Washington terhadap Israel.
Perubahan mulai terjadi setelah 2010 ketika produksi minyak dan gas dari ladang serpih (shale) meningkat pesat. Lonjakan tersebut menjadikan Amerika Serikat sebagai produsen gas terbesar di dunia sebelum akhirnya menjadi produsen minyak terbesar di dunia.
Konflik AS-Iran yang mengganggu ekspor minyak Arab Saudi sejak Februari 2026, ditambah tekanan terhadap ekspor Rusia akibat serangan drone Ukraina dan sanksi Barat terkait perang Ukraina, semakin memperkuat posisi Amerika Serikat di pasar energi global.
Seperti dikutip Reuters, data perusahaan pelacak kapal Vortexa menunjukkan ekspor minyak mentah dan bahan bakar AS mencapai sekitar 10,5 juta barel per hari pada Mei.
Angka tersebut didukung tingginya produksi domestik serta pelepasan cadangan minyak strategis, sekaligus menjadikan Amerika Serikat eksportir minyak terbesar dunia selama tiga bulan berturut-turut.
Sebagai perbandingan, ekspor minyak Rusia pada Mei diperkirakan mencapai 7 juta barel per hari, sedangkan Arab Saudi sekitar 5,9 juta barel per hari.
Pada 2025, Arab Saudi masih mengekspor sekitar 8,1 juta barel per hari, sementara Amerika Serikat mengekspor 6,6 juta barel per hari, serta Rusia sekitar 5,8 juta barel per hari.
"Washington kini memiliki alat baru yang sebelumnya tidak mereka sadari sebelum perang Iran, yaitu ekspor energi," kata Kepala Kebijakan Kpler, Michelle Brouhard.
Dominasi baru AS berpotensi mengurangi pengaruh OPEC dan sekutunya dalam menentukan arah pasar minyak global. Presiden AS Donald Trump selama ini kerap mengkritik OPEC karena dianggap memanipulasi pasar minyak.
Organisasi tersebut juga menghadapi tantangan setelah Uni Emirat Arab, salah satu anggota terbesarnya, keluar dari OPEC pada1 Mei 2026, setelah hampir 60 tahun bergabung.
Status sebagai eksportir minyak terbesar di dunia memberikan pengaruh tambahan bagi Washington dalam bernegosiasi dengan sekutu maupun rivalnya,di samping kekuatan militernya yang dominan dan peran dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia.
"Anda bisa melihat besarnya pengaruh Amerika Serikat terhadap sejumlah negara yang bergantung pada pasokan minyak dan gas dari AS," ujar Brouhard.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat saat ini merupakan pemasok minyak mentah terbesar ke Eropa serta pemasok produk minyak sulingan terbesar kedua di kawasan tersebut.
Meski awalnya menyambut lonjakan produksi minyak dan gas AS sebagai alternatif terhadap pasokan dari Rusia dan Timur Tengah, sejumlah pejabat Uni Eropa mulai memperingatkan risiko ketergantungan yang berlebihan terhadap perusahaan energi Amerika.
Kekhawatiran tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya perbedaan pandangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat terkait tarif perdagangan serta regulasi lingkungan.
Sementara itu, Rusia mulai secara terbuka menunjukkan ketidakpuasannya terhadap perkembangan tersebut.
Amerika Paling Diuntungkan
Kepala Rosneft Igor Sechin, yang dikenal sebagai salah satu sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, mengatakan perusahaan energi AS menjadi pihak yang paling diuntungkan dari penutupan Selat Hormuz.
Namun, jauh sebelum konflik AS-Iran pecah, pertumbuhan produksi minyak Arab Saudi dan Rusia sebenarnya sudah tertinggal dibandingkan dengan Amerika Serikat.
Produksi minyak mentah dan cairan hidrokarbon AS hampir tiga kali lipat sejak 2000 menjadi sekitar 22 juta barel per hari.
Sebaliknya, produksi Arab Saudi cenderung berada di kisaran 10 juta hingga 12 juta barel per hari, tergantung kebijakan kuota OPEC.
Sementara itu, produksi minyak Rusia meningkat dari sekitar 6 juta barel per hari pada 2000 menjadi 10 juta barel per hari pada 2010. Produksi kemudian bertambah sekitar 2 juta barel per hari sepanjang dekade berikutnya, namun cenderung stagnan dan turun ke bawah 10 juta barel per hari sejak 2020.
Permintaan minyak global meningkat menjadi 104 juta barel per hari pada tahun lalu dari 87 juta barel per hari pada 2010. Sebagian besar pertumbuhan kebutuhan minyak dunia dalam 15 tahun terakhir dipenuhi oleh lonjakan produksi minyak dari Amerika Serikat.
Pada 2015, Washington mencabut larangan ekspor minyak yang telah berlaku selama 40 tahun sejak embargo minyak Arab. Kebijakan tersebut membuka jalan bagi ekspansi ekspor minyak AS ke pasar global.
Sepuluh tahun kemudian, Amerika Serikat berhasil menjadi eksportir minyak terbesar dunia, membantah anggapan bahwa pertumbuhan produksi minyak serpih hanya akan bersifat sementara.
Berbeda dengan Arab Saudi dan Rusia yang produksi dan ekspornya banyak ditentukan pemerintah, pertumbuhan sektor energi AS terutama ditopang oleh keputusan perusahaan swasta yang berorientasi pada keuntungan.
Ketika harga minyak naik, perusahaan-perusahaan AS cenderung meningkatkan produksi sehingga membantu menekan harga. Sebaliknya, saat harga melemah, mereka akan mengurangi produksi sehingga mendukung kenaikan harga.
"Dalam berbagai hal, peran tersebut mirip dengan yang selama ini dimainkan OPEC dan Arab Saudi melalui kapasitas produksi cadangan mereka. Bedanya, mekanisme di AS lebih didorong oleh pasar dibandingkan dengan pertimbangan strategis," kata Kenneth Medlock III dari Baker Institute for Public Policy.
Sejak perang Ukraina dimulai pada 2022, negara-negara Eropa semakin bergantung pada pasokan energi dari Amerika Serikat. Sekitar 47% ekspor minyak AS tahun ini dikirim ke Eropa, angka tersebut meningkat sebesar 37% dibandingkan pada tahun 2021.
Sementara itu, negara-negara Asia yang sebelumnya sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah juga mulai meningkatkan impor dari Amerika Serikat. Asia menyerap sekitar 46% ekspor minyak AS pada Me 2026i, naik dari sekitar 37% pada tahun lalu. (ARF)