Indonesia perluas impor minyak ke Afrika dan Amerika Latin
Jumat, 12 Juni 2026
JAKARTA - Indonesia sedang memperluas sumber pasokan minyak mentah dari Afrika untuk mengurangi potensi kekurangan pasokan energi akibat ketegangan yang terjadi di sekitar Selat Hormuz.
Seperti mengutip Antara News, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengatakan bahwa pemerintah tengah berupaya mencari sumber pasokan minyak dari wilayah yang tidak bergantung pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
"Saat ini kami banyak bekerja sama dengan Aljazair, Nigeria, Angola, dan sejumlah negara Afrika lainnya," kata Havas usai rapat kerja dengan Komisi I DPR di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, Afrika menjadi salah satu sumber alternatif minyak mentah yang potensial karena pengiriman dari kawasan tersebut tidak melewati Selat Hormuz.
"Kami sudah menerima banyak pasokan minyak dari Afrika. Sejauh ini tidak ada masalah," ujarnya.
Selain Afrika, Indonesia juga menjajaki peluang impor minyak dari kawasan Amerika Latin yang memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar.
"Kami melihat banyak negara di kawasan tersebut yang memiliki potensi minyak dan gas. Hampir seluruh negara di Amerika Latin memiliki potensi itu," kata Havas.
Sebelumnya pada April, PT Pertamina (Persero) menyatakan Afrika telah menjadi salah satu sumber alternatif pasokan minyak mentah Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Langkah tersebut sejalan dengan arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk mengamankan sumber pasokan minyak mentah alternatif selama Selat Hormuz masih terdampak ketegangan regional.
Pertamina juga menyatakan akan terus berupaya memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) bagi kebutuhan rumah tangga maupun industri.
Upaya diversifikasi pasokan energi dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia setelah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi tersibuk di dunia dan menjadi rute penting bagi perdagangan minyak mentah serta gas alam cair (LNG) global.
Pemerintah Indonesia terus mengkaji dampak potensial terhadap ketahanan energi nasional mengingat sekitar 20%-25% impor minyak mentah Indonesia diangkut melalui jalur tersebut.
Urgensi pencarian pasokan alternatif meningkat setelah muncul laporan bahwa dua kapal tanker yang dioperasikan Pertamina International Shipping (PIS), masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. (ARF)