Buy now pay later melejit saat liburan, apa risiko konsumen?

Senin, 08 Desember 2025

image

JAKARTA - Layanan buy now, pay later (BNPL) terus melonjak popularitasnya, terutama selama musim belanja akhir tahun.

Model cicilan “bayar dalam empat kali” yang biasanya tanpa bunga ini dianggap sebagai cara paling mudah bagi konsumen untuk berbelanja sekaligus mencicil.

Mengutip finance.yahoo.com (05/12), data Adobe for Business memperkirakan lebih dari US$10 miliar belanja liburan tahun ini dilakukan melalui BNPL, naik 9% dibanding tahun lalu. Survei PayPal menunjukkan 50% pembeli liburan berencana memakai BNPL, sementara 1 dari 4 Gen Z dan milenial menggunakan layanan ini secara rutin.

Menurut Kevin King, Vice President Credit Risk di LexisNexis Risk Solutions, BNPL menjadi pilihan utama bagi konsumen muda dan mereka yang memiliki riwayat kredit buruk karena memberikan akses kredit yang “lebih terjangkau” dibanding produk tradisional seperti kartu kredit. Namun, setiap transaksi BNPL dihitung sebagai pinjaman terpisah. Konsumen yang memakai layanan ini untuk banyak barang bisa memiliki banyak pinjaman sekaligus dengan tanggal jatuh tempo berbeda.

King memperingatkan bahwa hal ini menciptakan “shadow debt”, utang tersembunyi yang sulit dilacak konsumen. Ia menggambarkan risiko ketika pembayaran otomatis BNPL membuat konsumen kekurangan saldo tanpa sadar. “Mereka menemukan bahwa pembayaran sewa mereka tiba-tiba tertukar tanpa sepengetahuan konsumen, mereka memiliki tiga pembayaran beli sekarang, bayar nanti yang jatuh tempo pada pinjaman yang berbeda.”

Kekhawatiran regulator juga meningkat. Pada 1 Desember, Jaksa Agung California dan enam negara bagian lain meminta informasi resmi dari penyedia BNPL besar seperti Affirm, Klarna, dan PayPal terkait struktur produk dan biaya layanan.

Jaksa Agung California Rob Bonta menekankan risiko konsumen yang tergoda menggunakan BNPL saat tekanan ekonomi meningkat, “beli sekarang, bayar nanti menjanjikan semua yang Anda inginkan hari ini tanpa perlu membayar uang muka … janji-janji ini bisa berujung pada utang serius dan biaya yang terus meningkat.”

Para jaksa agung pun meminta konsumen lebih berhati-hati: memahami syarat pinjaman, melacak tanggal pembayaran, hingga memeriksa potensi kesalahan tagihan.

Selain BNPL, konsumen sebenarnya memiliki alternatif seperti kartu kredit 0% APR, pinjaman pribadi, memanfaatkan tabungan, hingga Payday Alternative Loan (PAL) dari credit union dengan bunga lebih rendah.(DH)