Lonjakan yield AS tekan baht, dana asing keluar dari Thailand
Jumat, 12 Juni 2026
BANGKOK – Pasar keuangan dan modal Thailand saat ini tengah menghadapi tekanan berat akibat kombinasi pelemahan nilai tukar Baht serta lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
Seperti dikutip BangkokPost, kondisi ini memicu aksi penarikan modal asing (capital outflow) dari bursa saham lokal.
Menurut laporan analis, indeks utama Bursa Efek Thailand (SET) bergerak melemah setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis 1.600 poin pada hari Kamis, sebelum terkoreksi pada Jumat dan Senin.
Meski demikian, bursa sempat mengalami sedikit rebound pada Selasa sore di kisaran 1.580 poin, sejalan dengan pergerakan pasar saham Asia lainnya.
Veerawat Virojphoka, Direktur Senior Analisis Sekuritas FSS International Investment Advisory Co., menyebut meningkatnya peluang bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi menjadi faktor utama keluarnya modal dari pasar negara berkembang, termasuk Thailand.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sebesar 72% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember mendatang.
Di sisi lain, Bank of Thailand (BoT) dinilai memiliki ruang terbatas untuk menaikkan suku bunga domestik.
“Ada kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga justru dapat memukul pemulihan ekonomi Thailand yang saat ini masih rapuh,” ujar Veerawat.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun dilaporkan melonjak melampaui 4,56%. Asia Plus Securities (ASPS) mencatat kenaikan yield ini memberikan tekanan langsung terhadap pasar uang dan modal global.
Dampak nyata terlihat pada pasar obligasi Thailand. Investor asing tercatat menjual obligasi Thailand senilai total 11 miliar Baht sepanjang bulan ini (month-to-date), termasuk aksi jual bersih 6,5 miliar Baht hanya dalam satu hari pada Senin.
Aksi jual ini mendorong imbal hasil obligasi 10 tahun Thailand naik 8 basis poin ke level 2,29%.
Akibatnya, Baht sempat melemah ke level terendah dua bulan di posisi 32,92 per dolar AS pada Senin.
“Selama Baht masih terus melemah, aliran masuk dana asing (fund inflows) yang signifikan tampaknya sulit terjadi dalam jangka pendek,” tambah Veerawat.
ASPS mencatat harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat turun setelah pengumuman gencatan senjata Iran–Israel.
Hal ini memberi sedikit ruang perbaikan bagi tekanan inflasi global serta mendorong reli singkat saham berbasis teknologi dan AI.
Namun, penguatan pasar secara keseluruhan masih terbatas karena yield obligasi AS 10 tahun tetap tinggi di sekitar 4,57%, mencerminkan kekhawatiran inflasi dan kebijakan moneter jangka panjang.
Di sisi domestik, Veerawat memproyeksikan inflasi Thailand tetap tinggi dalam beberapa kuartal ke depan akibat dampak lanjutan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Meski inflasi Thailand sempat melandai di bawah 3% pada Mei, ia memperkirakan angka tersebut dapat naik hingga 4% dalam beberapa kuartal mendatang sebelum kembali turun pada kuartal kedua tahun depan. (DK)