Mata uang Asia berjuang melawan tekanan di pasar offshore

Jumat, 12 Juni 2026

image

JAKARTA - Sejumlah bank sentral di Asia meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan valuta asing (valas) offshore di tengah tekanan yang terus menghantam mata uang regional akibat penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, dan arus keluar modal asing.

Seperti dikutip Theedgemalaysia, otoritas moneter di Korea Selatan, India, Filipina, dan Indonesia mulai mengambil langkah untuk membatasi spekulasi di pasar valas luar negeri yang dinilai memperburuk pelemahan mata uang domestik.

Kementerian Keuangan Korea Selatan mengumumkan peningkatan pengawasan terhadap transaksi derivatif mata uang offshore.

Filipina meminta perbankan memastikan kontrak non-deliverable forward (NDF) hanya digunakan untuk kebutuhan ekonomi riil, sementara India memperketat batas posisi devisa terbuka perbankan menjadi US$100 juta.

Indonesia mengambil langkah yang lebih agresif. Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan pekan ini dan menegaskan keterlibatannya dalam pasar valuta asing global untuk menjaga stabilitas rupiah.

Tekanan terhadap mata uang Asia meningkat setelah konflik Amerika Serikat dan Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara pengimpor energi di kawasan.

Rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, won Korea Selatan jatuh ke level terendah sejak krisis keuangan global, sementara rupee India dan peso Filipina mencetak rekor pelemahan baru terhadap dolar AS.

Meski demikian, sejumlah analis menilai pengawasan terhadap pasar valas offshore tidak cukup untuk membalikkan tren pelemahan mata uang tanpa dukungan perbaikan fundamental ekonomi.

“Hal itu mungkin akan berdampak, tetapi pada akhirnya agar langkah tersebut berhasil, perlu ada perubahan mendasar juga,” kata Analis Mata Uang Senior MUFG Bank, Michael Wan.

Pasar NDF menjadi perhatian utama regulator karena memungkinkan investor melakukan lindung nilai maupun spekulasi terhadap mata uang tanpa harus bertransaksi langsung di pasar domestik.

Meski hanya menyumbang sekitar 4% dari transaksi harian pasar valas global yang mencapai US$10 triliun, instrumen tersebut memiliki pengaruh besar di Asia yang masih menerapkan berbagai pembatasan konvertibilitas mata uang.

Akibatnya, aktivitas perdagangan dari pusat keuangan global seperti Singapura, London, dan New York dapat memengaruhi pergerakan mata uang di pasar domestik.

Sejumlah negara sebelumnya telah berupaya mengurangi ketergantungan pada pasar offshore.

India membuka akses bank domestik ke pasar NDF sejak 2020 dan berupaya menarik aktivitas perdagangan ke pusat keuangan GIFT City. Korea Selatan membuka akses pasar valas bagi investor asing dan memperpanjang jam perdagangan, sementara Thailand melonggarkan akses likuiditas baht bagi investor nonresiden.

“Alasan pasar NDF ada adalah karena adanya pembatasan di pasar domestik,” kata Kepala Riset Asia Grup Perbankan Australia & Selandia Baru, Khoon Goh.

“Jika pembatasan tersebut dilonggarkan dan likuiditas mencukupi, kebutuhan akan NDF akan berangsur-angsur hilang,” tambahnya.

Namun tekanan akibat gejolak geopolitik memaksa sejumlah bank sentral kembali aktif melakukan intervensi di pasar offshore yang sebelumnya berusaha mereka kurangi pengaruhnya.

Bank Sentral India dilaporkan menjual dolar AS dalam jumlah besar, terutama pada kontrak jangka pendek, untuk menopang rupee. Posisi short dollar book bank sentral tersebut diperkirakan meningkat hingga sekitar US$115 miliar.

Bank Indonesia juga tercatat melakukan penjualan dolar di pasar luar negeri guna menstabilkan rupiah.

Meski intervensi membantu meredam tekanan jangka pendek, sejumlah investor menilai pelemahan mata uang di kawasan lebih banyak dipicu persoalan fundamental masing-masing negara.

India menghadapi arus keluar modal yang besar setelah investor global menarik dana sekitar US$30 miliar dari pasar saham sepanjang tahun ini.

Indonesia menghadapi kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi dan arah fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. [Baca: Investor global 'cecar' Gubernur BI soal rupiah, simak jawabannya)  

Filipina berhadapan dengan ancaman inflasi akibat kenaikan harga energi, sementara Korea Selatan mencatat arus keluar investasi asing lebih dari US$78 miliar dari pasar saham sepanjang 2026.

Senior Economist Oversea-Chinese Banking Corp, Lavanya Venkateswaran, menilai langkah bank sentral saat ini bertujuan membatasi volatilitas pasar yang lebih tajam.

“Kami masih berpendapat bahwa kenaikan suku bungaakan terjadi untuk India, Filipina, dan Indonesia,” katanya.(DH)