Piala Dunia 2026 jadi ujian kebangkitan Nike di tengah dominasi Adidas

Jumat, 12 Juni 2026

image

JAKARTA - Piala Dunia 2026 menjadi ujian penting bagi Nike dalam upayanya memulihkan pertumbuhan bisnis yang melambat dan merebut kembali pangsa pasar dari rival utamanya, Adidas.

Seperti dikutip Reuters, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu hadir pada saat Nike masih menghadapi tekanan kinerja.

Di bawah kepemimpinan CEO Elliott Hill, perusahaan tengah menjalankan strategi turnaround setelah kehilangan sebagian pangsa pasar dan menghadapi pelemahan penjualan.

Nike memperkirakan pendapatan kuartal berjalan turun 2%-4%, sementara harga sahamnya telah terkoreksi lebih dari 30% sepanjang tahun ini.

Manajemen berharap Piala Dunia dapat menjadi katalis untuk memperkuat citra merek sekaligus mendorong penjualan produk sepak bola.

Nike menggelontorkan investasi pemasaran melalui kampanye global "Rip the Script", meluncurkan produk baru, serta memperluas distribusi merchandise melalui jaringan toko sendiri dan mitra ritel.

"Sepak bola memungkinkan kita menjangkau begitu banyak orang yang berbeda," kata Wakil Presiden Global Sepak Bola Nike, Camilo Andrade.

Selain memperkuat pemasaran, Nike juga berupaya memperbaiki hubungan dengan jaringan ritel yang sempat terganggu akibat strategi penjualan langsung ke konsumen pada era manajemen sebelumnya.

"Dalam hal bekerja sama dengan pengecer grosir, strategi utamanya adalah memastikan bahwa kita memulihkan hubungan tersebut," ujar Andrade.

Meski agresif berinvestasi, Nike menghadapi posisi yang tidak mudah. Adidas masih mempertahankan dominasinya di industri sepak bola global melalui status sebagai sponsor resmi Piala Dunia 2026.

Perusahaan asal Jerman tersebut memasok bola resmi pertandingan dan menjadi sponsor bagi 14 tim peserta, lebih banyak dibandingkan Nike yang mendukung 12 tim nasional.

Keunggulan Adidas juga tercermin dari performa penjualan produk selama periode turnamen. Peritel olahraga JD Sports melaporkan jersey Argentina dan Meksiko menjadi produk tim nasional yang paling banyak diburu konsumen. Kedua tim tersebut merupakan mitra Adidas.

Bagi analis, Piala Dunia memang dapat meningkatkan eksposur merek dan penjualan jangka pendek. Namun, turnamen ini belum tentu mampu menyelesaikan persoalan fundamental yang masih dihadapi Nike.

RBC Capital Markets bahkan menurunkan rekomendasi saham Nike sehari sebelum laga pembuka Piala Dunia.

Analis RBC Piral Dadhania menilai pemulihan bisnis perusahaan berlangsung lebih lambat dari ekspektasi pasar, sementara peluncuran produk baru dan momentum turnamen belum cukup untuk mengimbangi tantangan operasional yang masih berlangsung.

"Masalah yang dihadapi Nike tidak akan hilang begitu saja karena Piala Dunia," kata analis Morningstar, David Swartz.

"Namun, ini tentu saja merupakan kesempatan untuk mengembalikan citra merek di mata publik."

Sejumlah analis ritel juga mencatat produk Adidas saat ini memiliki visibilitas yang lebih kuat di sejumlah jaringan toko olahraga besar seperti Dick's Sporting Goods dan Foot Locker.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persaingan merebut belanja konsumen selama Piala Dunia tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga di rak-rak ritel global.(DH)