Bank dunia pangkas proyeksi ekonomi global jadi 2,5% pada 2026

Jumat, 12 Juni 2026

image

NEW YORK - Bank Dunia pada Kamis memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 2,5% akibat perang di Timur Tengah, serta memperingatkan bahwa pertumbuhan bisa melambat hingga hanya 1,3% jika gangguan pasokan energi memburuk dan disertai tekanan besar di pasar keuangan.

Pertumbuhan global tercatat 2,9% pada 2025, menurut laporan semi-tahunan Global Economic Prospects, naik 0,2 poin persentase dari estimasi Januari. 

Seperti dikutip Reuters, namun, proyeksi 2026 justru turun 0,1 poin dan menjadi level terendah sejak pandemi COVID-19 yang dimulai akhir 2019.

Bank tersebut memangkas proyeksi untuk dua pertiga negara akibat perang, dengan pemotongan terbesar terjadi pada Uni Emirat Arab, Irak, dan negara Timur Tengah lain yang ekspor energinya terdampak konflik.

Prospek suram ini muncul ketika perang yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari memasuki bulan keempat. 

Konflik tersebut mendorong kenaikan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz, memicu inflasi global, serta meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di banyak negara. 

Harga pupuk juga melonjak, memicu kekhawatiran krisis pangan.

Harga minyak naik hampir US$2 pada Rabu setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan AS akan menyerang Iran “sangat keras” jika tidak ada kesepakatan damai, menyusul salah satu eskalasi terbesar sejak gencatan senjata April.

Bank Dunia mengasumsikan harga rata-rata minyak Brent sebesar US$94 per barel pada 2026, naik 36% dari 2025, dengan gangguan energi mereda pada akhir Juli, serta inflasi global 4%.

Dalam skenario terburuk, jika harga minyak rata-rata US$115 per barel, pertumbuhan global bisa turun menjadi 2,1% dengan inflasi 4,4%. 

Jika gangguan energi merembet ke pasar keuangan, pertumbuhan bisa anjlok ke 1,3% akibat volatilitas dan turunnya kepercayaan.

Bank Dunia juga memperingatkan bahwa ekonomi global kini kurang tangguh dibanding 2008 maupun 2018, dengan tekanan dari ketidakpastian kebijakan, inflasi, dan suku bunga tinggi.

Negara berkembang disebut paling terdampak, dengan pertumbuhan hanya 3,6% pada 2026—terendah pascapandemi. 

Beberapa negara bahkan menghadapi “dekade hilang” karena gagal mengejar ketertinggalan pendapatan dari negara maju.

AS diproyeksikan tumbuh 2,2% pada 2026, zona euro 0,8%, Jepang 0,7%, dan China 4,2%. 

India tetap menjadi ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat sebesar 6,6%.

Di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, Afghanistan, dan Pakistan, pertumbuhan dipangkas tajam menjadi 1,6% pada 2026 dari 4% pada 2025, dengan Uni Emirat Arab paling terdampak.(DK)