Modi dan Trump siap bertemu, apa agendanya?

Jumat, 12 Juni 2026

image

WASHINGTON - Kemungkinan pertemuan pekan depan antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden AS Donald Trump memberi peluang untuk mereset hubungan setelah setahun hubungan yang tegang akibat tarif, Pakistan, dan kini perang Iran.

Pasukan AS pekan ini menyerang tiga kapal berbendera awak India di wilayah Teluk Oman, menewaskan sedikitnya tiga pelaut dan memicu protes dari New Delhi.

Seperti dikutip Bloomberg, Modi dan Trump kemungkinan ingin meredam ketegangan terbaru dan menghindari terganggunya upaya memperbaiki hubungan setelah tahun yang penuh gejolak, kata para analis. 

Pertemuan yang direncanakan di sela-sela KTT G7 di Prancis pekan depan akan menjadi tatap muka pertama mereka sejak hubungan memburuk tahun lalu setelah konflik militer India–Pakistan dan kebijakan tarif Trump.

Meski penting bagi New Delhi agar AS memahami dampak serangan terbaru tersebut, “Saya tidak berpikir ini akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar,” kata Harsh Pant, wakil presiden Observer Research Foundation di New Delhi.

“Ada isu-isu yang lebih besar di meja perundingan yang harus ditangani kedua negara.”

“Dalam gambaran besar, ada pemahaman bahwa ini adalah zona perang dan kedua pihak kemungkinan akan mengabaikannya,” tambahnya.

Pertemuan yang sangat dinanti ini akan melanjutkan langkah kedua negara dalam beberapa bulan terakhir untuk memperbaiki hubungan yang sempat rusak. 

Bulan lalu, Trump mengirim Menteri Luar Negeri Marco Rubio ke India untuk kunjungan beberapa hari, bertemu sejumlah pejabat India serta utusan Jepang dan Australia dalam kelompok keamanan Quad.

Kunjungan itu, yang merupakan kunjungan tingkat tinggi pertama pejabat AS dalam lebih dari setahun, diikuti kunjungan tim perdagangan AS bulan ini untuk memajukan kesepakatan dagang yang disepakati kedua negara pada Februari.

Satu komplikasi masih ada, yakni perang AS terhadap Iran, yang dampaknya banyak dirasakan India. 

Tiga belas kapal berbendera India terjebak di Selat Hormuz sejak perang dimulai pada Februari, sementara beberapa warga India tewas. 

Gangguan pasokan minyak global turut menyebabkan kelangkaan di India dan pelemahan rekor rupee.

Juru bicara Kedutaan Besar AS di New Delhi mengatakan AS sedang berkomunikasi langsung dengan pemerintah India terkait masalah ini.

Tak lama setelah New Delhi mengumumkan pemanggilan Chargé d’Affaires AS Jason Meeks terkait serangan kapal, Trump mengunggah pesan di media sosial yang mengucapkan selamat kepada Modi atas 12 tahun masa jabatannya.

Modi membalas dengan ucapan terima kasih yang hangat.

“Hubungan ini berada pada titik yang bisa dikelola, tetapi tidak sedang sangat menguat,” kata Ashok Malik dari Asia Group. Ia menambahkan masih terlalu dini untuk memastikan apakah isu Iran akan dibahas dalam pertemuan tersebut, meski tekanan kepada Modi untuk mengangkatnya semakin besar.

Warga India sangat rentan terhadap serangan di kapal dagang. Mereka termasuk tiga besar nasionalitas awak kapal, dengan lebih dari 300.000 orang India, sekitar 12% tenaga kerja pelaut global, bekerja di industri tersebut.

Agenda Belum Jelas 

Kedua pemimpin mungkin membahas kemajuan perundingan dagang, meski belum pasti ada pengumuman kesepakatan.

Kedua negara sebelumnya menyepakati perjanjian dagang sementara pada Februari, yang awalnya dijadwalkan ditandatangani pada Maret namun tertunda akibat putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif timbal balik Trump.

Negosiator dagang India dan AS telah bertemu dua kali sejak Maret untuk menyelesaikan isu yang tersisa.

Hubungan AS-India sempat merenggang sepanjang tahun lalu setelah konflik India–Pakistan. 

Trump sempat mengklaim perannya dalam gencatan senjata, namun India membantah klaim tersebut.

Upaya memperbaiki hubungan meningkat sejak kedatangan Duta Besar AS Sergio Gor di New Delhi pada Januari, yang menjadi pendukung aktif hubungan lebih erat dengan India dan Trump. (DK)