Jaga stabilitas rupiah, Indonesia dan China perkuat currency swap

Jumat, 12 Juni 2026

image

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) meningkatkan kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA), dalam upaya memperkuat stabilitas nilai tukar dan ketahanan sektor keuangan masing-masing negara.

Kesepakatan itu dibuat usai Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng bertemu pada Kamis (11/6) di Shanghai, China.

Perry menilai kerja sama ini akan memperkuat transaksi bilateral antara Indonesia dan China, menggunakan masing-masing mata uang. “Serta memperluas kerja sama antarbank sentral, termasuk pembentukan RMB Clearing Bank di Indonesia,” kata Perry.

Sementara Gongsheng menambahkan bahwa Indonesia dan China telah menjadi mitra strategis di kawasan, serta bertanggung jawab dalam memperdalam kerja sama ekonomi dan keuangan bilateral.

“Penguatan kerja sama ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap kemakmuran dan stabilitas kawasan,” jelas Gongsheng.

Selain membahas peningkatan nilai currency swap, kedua bank sentral juga akan memperkuat kerangka Local Currency Transaction (LCT), konektivitas sistem pembayaran lintas batas, serta pengembangan infrastruktur keuangan.

Terkait pembentukan RMB Clearing, kedua bank sentral ini juga telah menandatangani nota kesepahaman, untuk mendukung pengembangan ekosistem dan likuiditas mata uang renminbi yang mendukung aktivitas keuangan di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, BI dan PBOC juga meluncurkan implementasi pembayaran QR lintas batas. Implementasi ini memungkinkan transaksi antarnegara menggunakan kode QR, yang didukung 191 penyedia di China dan 24 penyedia di Indonesia.

Dalam laporan IDNFinancials.com sebelumnya, BI memang telah melakukan sejumlah upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Beberapa langkah yang diambil termasuk peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra, agar mengurangi penggunaan dolar Amerika Serikat. (KR)