Baterai solid-state mulai ujian 'mengaspal' di Amerika Utara
Jumat, 12 Juni 2026
NEW YORK - Teknologi baterai solid-state untuk kendaraan listrik (EV) kini mulai memasuki tahap penggunaan di dunia nyata.
Untuk pertama kalinya di Amerika Utara, baterai jenis ini diuji langsung di jalan raya dan digadang-gadang mampu menghadirkan jarak tempuh lebih jauh, pengisian daya lebih cepat, serta biaya yang lebih efisien.
Stellantis, induk merek Jeep dan Dodge, bersama perusahaan teknologi baterai asal Amerika Serikat, Factorial Energy, resmi memulai uji coba jalan raya baterai solid-state pada kendaraan pengembangan Dodge Charger Daytona.
Seperti dikutip electrek, langkah ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan teknologi baterai generasi berikutnya.
Baterai yang digunakan adalah sel FEST (Factorial Electrolyte System Technology) berkapasitas 77Ah.
Pada April lalu, Stellantis dan Factorial berhasil memvalidasi bahwa sel tersebut mampu mencapai kepadatan energi sebesar 375 Wh/kg dengan daya tahan lebih dari 600 siklus pengisian.
Selain memiliki kepadatan energi tinggi, baterai FEST juga menawarkan kemampuan pengisian cepat. Baterai ini dapat diisi dari 15% hingga 90% hanya dalam waktu 18 menit.
Kinerjanya juga tetap optimal pada suhu ekstrem, mulai dari -30 derajat Celsius hingga 45 derajat Celsius, dengan laju pelepasan daya (discharge rate) mencapai 4C.
Meski menjanjikan, proses membawa teknologi solid-state dari laboratorium ke kendaraan produksi bukanlah hal mudah.
Stellantis menyebut integrasi baterai tersebut ke dalam kendaraan membutuhkan solusi rekayasa tingkat lanjut dari kedua perusahaan.
Sel baterai FEST diintegrasikan ke dalam platform STLA Large milik Stellantis. Para insinyur juga melakukan modifikasi pada sistem kontrol dan desain paket baterai guna mengoptimalkan aspek keselamatan serta performa kendaraan.
Setelah proses pengembangan dan integrasi selesai, kedua perusahaan kini mulai melakukan pengujian di jalan raya.
"Apa yang telah kami bangun bersama, mulai dari kimia sel hingga arsitektur paket baterai untuk memungkinkan uji coba jalan raya di dunia nyata, adalah jenis kolaborasi mendalam dan menyeluruh yang memang selalu dibutuhkan oleh teknologi solid-state," kata CEO Factorial Energy, Siyu Huang.
Menurut Huang, pencapaian tersebut tidak hanya membuktikan kemampuan teknologi FEST, tetapi juga menetapkan standar baru bagi baterai solid-state kelas otomotif.
"Ini menetapkan standar baru untuk apa yang dapat diberikan oleh baterai solid-state kelas otomotif, sekaligus mendukung pengembangan kendaraan masa depan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengemudi yang terus berkembang," ujarnya.
Saat ini Factorial bekerja sama dengan sejumlah produsen otomotif global, termasuk Mercedes-Benz, Hyundai, Kia, dan Stellantis, untuk mempercepat komersialisasi baterai solid-state.
Pada September tahun lalu, Mercedes-Benz menguji kendaraan EQS yang dimodifikasi menggunakan baterai solid-state Factorial dan berhasil menempuh jarak lebih dari 1.200 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Kepala Teknologi Mercedes-Benz, Markus Schäfer, bahkan menyebut teknologi tersebut berpotensi menjadi game changer bagi industri kendaraan listrik.
Tak hanya untuk otomotif, Factorial juga berencana memperluas penggunaan teknologi baterainya ke sektor robotika, kedirgantaraan, hingga pertahanan.
Perusahaan mengklaim baterai solid-state yang dikembangkannya mampu meningkatkan jarak tempuh kendaraan hingga 50%, dengan potensi menempuh lebih dari 600 mil atau sekitar 965 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Di sisi korporasi, Factorial baru saja melantai di bursa Nasdaq dengan kode saham FAC setelah menyelesaikan merger dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC), Cartesian Growth Corp III.
Transaksi tersebut menilai perusahaan sekitar US$1,3 miliar dan memberikan tambahan pendanaan sekitar US$110 juta untuk mendukung komersialisasi teknologi baterai generasi masa depan. (DK)