Bank sentral China minta bank-bank besar kurangi pinjaman

Jumat, 12 Juni 2026

image

JAKARTA - Bank sentral China (PBOC) meminta sejumlah bank besar milik negara mengurangi aktivitas pinjaman di pasar antarbank sebagai upaya menjaga biaya pendanaan jangka pendek tetap sejalan dengan suku bunga kebijakan.

Seperti dikutip Bloomberg, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, PBOC telah menginstruksikan sejumlah lembaga keuangan, termasuk policy bank, untuk mengendalikan secara ketat posisi net lending kepada bank lain.

Langkah tersebut bertujuan mengoreksi ekspektasi pasar terkait ketersediaan likuiditas sekaligus menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Kebijakan ini menandakan otoritas moneter China mulai mengurangi toleransi terhadap suku bunga pasar uang yang dinilai terlalu rendah. Dalam beberapa bulan terakhir, likuiditas berlimpah di sistem perbankan telah menekan biaya pendanaan ke level terendah dalam beberapa tahun dan mendorong reli pasar obligasi.

Melalui pendekatan yang dikenal sebagai window guidance, PBOC kerap menggunakan arahan informal kepada pelaku keuangan untuk mengendalikan volatilitas pasar maupun mengatur laju ekspansi kredit.

Dalam beberapa pekan terakhir, bank sentral juga mulai menyerap sebagian kelebihan likuiditas yang beredar di sistem keuangan.

Suku bunga repo overnight kini naik ke level 1,4%, sejalan dengan suku bunga kebijakan yang berlaku, setelah sempat berada di sekitar 1,2% pada April lalu. Suku bunga tersebut menjadi indikator utama biaya pendanaan jangka pendek berbasis obligasi yang kini berfungsi sebagai target kebijakan implisit PBOC.

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah China tenor 10 tahun juga meningkat menjadi 1,75% dari sekitar 1,7% pada awal bulan ini.

Kebijakan terbaru PBOC mencerminkan upaya menyeimbangkan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi dengan risiko stabilitas keuangan.

Di satu sisi, bank sentral perlu memastikan likuiditas tetap memadai untuk mendukung aktivitas ekonomi. Namun di sisi lain, otoritas juga berupaya mencegah dana murah hanya berputar di sektor keuangan dan memicu pembentukan gelembung aset, terutama di pasar obligasi pemerintah.

Permintaan kredit yang masih lemah dari sektor rumah tangga dan dunia usaha membuat perbankan lebih banyak menyalurkan dana ke bank lain atau meningkatkan kepemilikan obligasi.

Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan kredit China melambat ke level terlemah dalam sejarah dan memicu kelebihan likuiditas di sistem keuangan.

Tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi juga mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter. Sejumlah ekonom kini memperkirakan PBOC baru akan memangkas suku bunga kembali pada 2027.

Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan likuiditas longgar untuk menopang pertumbuhan ekonomi apabila pemangkasan suku bunga tidak dilakukan.

Awal bulan ini, PBOC juga memangkas volume operasi pasar terbuka harian ke level terendah sepanjang sejarah. Pada saat yang sama, bank-bank China tercatat menjadi peminjam bersih dana jangka pendek untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir, mengindikasikan kelebihan likuiditas mulai berkurang.(DH)