Arus keluar ETF bitcoin capai US$2,1 miliar pada Juni 2026
Jumat, 12 Juni 2026
NEW YORK - Arus keluar dana dari ETF bitcoin spot di Amerika Serikat terus berlanjut sepanjang Juni di tengah tekanan pasar kripto yang dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Seperti dikutip Decrypt, data SoSoValue menunjukkan ETF bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sebesar US$2,1 miliar hingga pertengahan Juni 2026. Angka tersebut mendekati total arus keluar US$2,4 miliar yang terjadi sepanjang Mei lalu.
Pada Rabu (10/6), ETF bitcoin kembali mencatat arus keluar dana sebesar US$214 juta. Kondisi tersebut menunjukkan tren pelepasan dana masih berlanjut meskipun sempat tercatat arus masuk pada 4 Juni 2026 yang mengakhiri rentetan 13 hari arus keluar berturut-turut.
Sejak 10 Mei 2026, total aset bersih ETF bitcoin spot telah menyusut sekitar US$33 miliar, dari US$109 miliar menjadi US$77 miliar. Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan harga bitcoin sekitar 27%, dari puncaknya di US$81.443 pada 10 Mei 2026 hingga sempat menyentuh US$59.353.
Meski tren arus keluar masih berlangsung, Kepala Manajemen Aset Tesseract Group, Adam Haeems, menilai laju pelepasan dana mulai melambat secara signifikan.
"Tekanannya belum sepenuhnya stabil, tetapi arus keluar dana tampaknya mulai mereda, bukan justru semakin besar," ujarnya kepada Decrypt.
Menurut Haeems, terdapat tiga faktor utama yang mendorong arus keluar dana dari ETF bitcoin.
Menurutnya, dua faktor pertama bersifat teknis dan cenderung memiliki dampak terbatas. Sementara itu, faktor ketiga lebih mencerminkan perubahan selera risiko investor.
"Beberapa ETF lain masih mencatat arus masuk dana pada Senin. Ini menunjukkan tekanan jual tidak terjadi secara merata di seluruh pasar," katanya.
Konflik Iran dan inflasi AS
Haeems menilai ketidakpastian akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar kripto.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan itu mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Kenaikan harga energi turut memicu inflasi di Amerika Serikat. Tingkat inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2% pada Mei dari 3,8% pada bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut memperkuat tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed), yang telah mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50%-3,75% selama enam bulan terakhir.
CEO Koinly, Robin Singh, mengatakan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memang kurang mendukung aset berisiko seperti bitcoin, tetapi belum mengubah prospek pasar secara signifikan.
Menurutnya, arus keluar dana dari ETF bitcoin kemungkinan akan mereda jika permintaan terhadap bitcoin kembali meningkat dan harganya mampu kembali menembus kisaran US$70.000.
"Jika bitcoin kembali menunjukkan tren penguatan yang berkelanjutan dan menarik perhatian investor, arus dana ke ETF kemungkinan akan ikut pulih," ujarnya.
Namun, Haeems memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, penghentian arus keluar dana lebih bergantung pada sinyal kebijakan suku bunga dibandingkan kenaikan harga bitcoin semata.
Meski demikian, terdapat sedikit kabar positif dari data inflasi inti AS yang hanya naik 0,2% secara bulanan, lebih rendah dari perkiraan pasar.
Berdasarkan data CoinGecko, harga bitcoin naik sekitar 1,5% dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$62.560.
Data pasar derivatif juga menunjukkan posisi terbuka (open interest) terus meningkat setelah aksi jual pada akhir pekan lalu, yang membantu pemulihan harga bitcoin menuju level US$63.000.
Sementara itu, indeks Coinbase Premium masih berada di bawah nol, meskipun telah menunjukkan perbaikan dibandingkan posisi pada awal Juni, berdasarkan data Velo. (ARF)
NEW YORK - Arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat terus berlanjut sepanjang Juni di tengah tekanan pasar kripto yang dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Seperti dikutip Decrypt, Data SoSoValue menunjukkan ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sebesar US$2,1 miliar hingga pertengahan Juni 2026. Angka tersebut mendekati total arus keluar US$2,4 miliar yang terjadi sepanjang Mei lalu.
Pada Rabu (10/6), ETF Bitcoin kembali mencatat arus keluar dana sebesar US$214 juta. Kondisi tersebut menunjukkan tren pelepasan dana masih berlanjut meskipun sempat tercatat arus masuk pada 4 Juni 2026 yang mengakhiri rentetan 13 hari arus keluar secara berturut-turut.
Sejak 10 Mei 2026, total aset bersih ETF Bitcoin spot telah menyusut sekitar US$33 miliar, dari US$109 miliar menjadi US$77 miliar. Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan harga Bitcoin sekitar 27% dari puncaknya di US$81.443 pada 10 Mei 2026 menjadi sempat menyentuh US$59.353.
Meski tren arus keluar masih berlangsung, Kepala Manajemen Aset Tesseract Group Adam Haeems menilai laju pelepasan dana mulai melambat secara signifikan.
"Tekanannya belum sepenuhnya stabil, tetapi arus keluar dana tampaknya mulai mereda, bukan justru semakin besar," ujarnya kepada Decrypt.
Menurut Haeems, terdapat tiga faktor utama yang mendorong arus keluar dana dari ETF Bitcoin.
Pertama, sejumlah investor yang sebelumnya memanfaatkan strategi arbitrase antara ETF Bitcoin spot dan kontrak berjangka mulai menutup posisi mereka. Kedua, terjadi perpindahan dana dari ETF dengan biaya pengelolaan tertinggi ke produk lain yang lebih murah. Ketiga, sebagian investor mengalihkan dana ke saham-saham kecerdasan buatan (AI) dan penawaran saham perdana (IPO) sektor teknologi yang akan datang.
Menurutnya, dua faktor pertama bersifat teknis dan cenderung terbatas dampaknya. Sementara faktor ketiga lebih mencerminkan perubahan selera risiko investor.
"Beberapa ETF lain masih mencatat arus masuk dana pada Senin. Ini menunjukkan tekanan jual tidak terjadi secara merata di seluruh pasar," katanya.
Konflik Iran dan inflasi ASHaeems menilai ketidakpastian akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar kripto.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan itu mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Kenaikan harga energi turut memicu inflasi di Amerika Serikat. Tingkat inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2% pada Mei dari 3,8% pada bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut memperkuat tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) yang telah mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50%-3,75% selama enam bulan terakhir.
CEO Koinly Robin Singh mengatakan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memang kurang mendukung aset berisiko seperti Bitcoin, tetapi belum mengubah prospek pasar secara signifikan.
Menurutnya, arus keluar dana dari ETF Bitcoin kemungkinan akan mereda jika permintaan terhadap Bitcoin kembali meningkat dan harga mampu kembali menembus kisaran US$70.000.
"Jika Bitcoin kembali menunjukkan tren penguatan yang berkelanjutan dan menarik perhatian investor, arus dana ke ETF kemungkinan akan ikut pulih," ujarnya.
Namun Haeems memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, penghentian arus keluar dana lebih bergantung pada sinyal kebijakan suku bunga dibandingkan kenaikan harga Bitcoin semata.
Meski demikian, terdapat sedikit kabar positif dari data inflasi inti AS yang hanya naik 0,2% secara bulanan, lebih rendah dari perkiraan pasar.
Prospek BitcoinBerdasarkan data CoinGecko, harga Bitcoin naik sekitar 1,5% dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$62.560.
Data pasar derivatif juga menunjukkan posisi terbuka (open interest) terus meningkat setelah aksi jual pada akhir pekan lalu, yang membantu pemulihan harga Bitcoin menuju level US$63.000.
Sementara itu, indeks Coinbase Premium masih berada di bawah nol, meskipun telah menunjukkan perbaikan dibandingkan posisi pada awal Juni, berdasarkan data Velo. (ARF)