Trump mencintai inflasi, konsumen AS yang bayar harganya
Jumat, 12 Juni 2026
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut positif data inflasi terbaru, sementara banyak rumah tangga AS justru semakin terbebani oleh kenaikan harga.
Seperti dikutip CNBC, inflasi tahunan AS melampaui 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun setelah lonjakan harga energi akibat konflik Iran mendorong kenaikan harga berbagai barang dan jasa.
"Anda tahu apa yang benar-benar saya sukai? Saya suka inflasi," kata Trump kepada wartawan di Oval Office pada Rabu (10/6) menanggapi data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
Trump menilai data inflasi tersebut menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.
"Angkanya sangat baik," ujarnya.
Namun, sejumlah ekonom menilai masyarakat AS tidak merasakan optimisme yang sama.
Survei bulanan Federal Reserve Bank of New York menunjukkan persentase responden yang menilai kondisi keuangan mereka saat ini "jauh lebih buruk" dibandingkan setahun sebelumnya mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah turut menambah tekanan pada konsumen yang sebelumnya sudah menghadapi tingginya biaya hidup.
Komite Ekonomi Gabungan Kongres AS dari kubu Partai Demokrat memperkirakan bahwa kebijakan tarif impor dan konflik Iran telah menambah beban biaya lebih dari US$3.100 bagi setiap rumah tangga AS sejak 2025 hingga Mei 2026.
Menanggapi permintaan komentar CNBC, juru bicara Gedung Putih merujuk pada wawancara Trump dengan New York Post.
Dalam wawancara tersebut, Trump menjelaskan bahwa yang ia maksud adalah inflasi saat ini tidak meningkat lebih tinggi dari perkiraan pasar.
"Saya menyukai fakta bahwa inflasi tidak lebih tinggi. Angkanya jauh lebih rendah dari yang diperkirakan," kata Trump kepada New York Post pada Rabu (10/6). (ARF)