China dan India tetap borong CPO RI meski aturan ekspor berubah

Sabtu, 13 Juni 2026

image

JAKARTA - Pembeli minyak sawit global masih terus mengamankan pasokan dari Indonesia untuk pengiriman beberapa bulan ke depan meskipun pemerintah menerapkan kebijakan baru yang memusatkan ekspor komoditas strategis melalui satu pintu.

Pelaku pasar menilai masa transisi yang diberikan pemerintah memungkinkan arus perdagangan tetap berjalan sambil menunggu kejelasan implementasi aturan baru tersebut.

Sejak kebijakan berlaku pada tahap awal bulan ini, aktivitas ekspor minyak sawit relatif tidak mengalami gangguan berarti. Importir utama dari India dan China tetap melakukan pemesanan untuk kebutuhan jangka menengah hingga akhir tahun.

Pembeli India saat ini fokus mengamankan pasokan untuk beberapa bulan mendatang, sementara importir China mulai memesan kargo hingga periode pengiriman Desember 2026.

“Saat ini semuanya masih berjalan seperti biasa dan masih lancar,” kata Presiden dan Chief Executive Officer Grup SD Guthrie Bhd, Mohd Haris Mohd Arshad, seperti dikutip Theedgemalaysia

“Orang-orang menjalaninya hari demi hari, dan melihat apa yang akan terjadi,”.

Indonesia sebelumnya mengejutkan pasar setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pengawasan terpusat terhadap ekspor sejumlah komoditas utama melalui entitas yang didukung negara. Kebijakan tersebut bertujuan menutup potensi kebocoran penerimaan negara dari perdagangan komoditas.

Sebagai produsen dan eksportir minyak sawit terbesar dunia, setiap perubahan kebijakan ekspor Indonesia berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan global.

Pasar minyak nabati saat ini juga menghadapi risiko pengetatan pasokan akibat potensi fenomena super El Niño serta rencana peningkatan mandat biodiesel Indonesia yang dijadwalkan berlaku mulai bulan depan.

Pemerintah kini tengah mengkaji berbagai skema yang memungkinkan sebagian pelaku usaha memperoleh pengecualian tertentu dari aturan baru, termasuk melalui komitmen investasi dan kerja sama dengan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), entitas baru yang dibentuk untuk mendukung tata kelola ekspor komoditas.

Sejumlah pelaku industri masih menunggu kejelasan mengenai mekanisme kontrak, penetapan harga, sistem pembayaran, hingga peran DSI dalam transaksi perdagangan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pembeli justru memanfaatkan penurunan harga yang terjadi setelah pengumuman kebijakan baru. Importir China tercatat meningkatkan pembelian palm olein dalam jumlah besar, terutama untuk kebutuhan minyak goreng.

Posisi dominan Indonesia di pasar global juga membuat importir kesulitan mencari alternatif pasokan dalam jangka pendek. Indonesia memasok sekitar 25 juta ton minyak sawit ke pasar dunia setiap tahun dengan India, China, dan Pakistan sebagai pembeli utama.

“Sepertinya ini adalah situasi menunggu dan mengamati sampai ada kejelasan,” kata Kepala Strategi Perdagangan dan Lindung Nilai Kaleesuwari Intercontinental, Gnanasekar Thiagarajan.

Meski demikian, apabila pemerintah gagal memberikan kepastian setelah evaluasi kebijakan dalam tiga bulan ke depan, sebagian pembeli mulai mempertimbangkan diversifikasi sumber pasokan.

Importir India, misalnya, telah meningkatkan pembelian minyak sawit dari Amerika Latin untuk mengurangi ketergantungan terhadap Indonesia.

Presiden dan Head of Trading Emami Agrotech Ltd, Mayur Toshniwal, mengatakan perusahaan-perusahaan India telah membeli lebih dari 100.000 ton minyak sawit dari negara-negara seperti Kolombia, Ekuador, Kosta Rika, dan Honduras sejak Oktober tahun lalu.(DH)