Hampir separuh warga AS merasa kondisi keuangannya memburuk

Sabtu, 13 Juni 2026

image

WASHINGTON - Hampir separuh warga Amerika Serikat menilai kondisi keuangan mereka saat ini lebih buruk dibandingkan setahun yang lalu. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya tekanan inflasi dan biaya hidup.

Dikutip dari CBS News, berdasarkan Survei Ekspektasi Konsumen yang dirilis Federal Reserve Bank of New York, sekitar 48% responden menyatakan kondisi keuangan mereka pada 2026 Mei lebih buruk dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan persentase tertinggi sejak Januari 2023.

Survei tersebut menunjukkan masyarakat semakin pesimis terhadap prospek keuangan mereka. Survei juga menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi keuangan mereka dalam setahun ke depan terus melemah dan berada di level terendah sejak Oktober 2022.

Temuan tersebut muncul di tengah lonjakan inflasi yang dipicu konflik Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak dan gas.

Data Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (8/6)  diperkirakan menunjukkan inflasi tahunan AS meningkat menjadi 4,2%. Menurut perusahaan penyedia data keuangan FactSet. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Survei tersebut juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap prospek pasar tenaga kerja.

Sekitar 15% responden memperkirakan mereka berisiko kehilangan pekerjaan dalam 12 bulan ke depan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata setahun terakhir.

Di saat yang sama, keyakinan untuk memperoleh pekerjaan baru juga melemah dan turun ke level terendah sejak Desember 2025.

 

Meski menghadapi tekanan dari tarif impor dan kenaikan harga bahan bakar, tingkat belanja konsumen di AS masih bertahan dan perekrutan tenaga kerja meningkat dalam tiga bulan terakhir.

Meski belanja konsumen masih bertahan, tingginya harga energi mulai membebani keuangan rumah tangga.

Sebagai contoh, upah meningkat 3,4% secara tahunan pada Mei 2026. Namun, inflasi pada bulan sebelumnya tercatat sebesar 3,8%, sehingga mengurangi daya beli masyarakat.

Survei CBS News menunjukkan sekitar 75% warga AS menilai kenaikan upah belum mampu mengejar laju inflasi.

Di sisi lain, tingkat tunggakan kartu kredit di AS telah mencapai level tertinggi sejak 2011, ketika ekonomi negara itu masih dalam tahap pemulihan pascakrisis keuangan global.

Menurut data Federal Reserve Bank of New York, lonjakan tunggakan tersebut menjadi sinyal bahwa semakin banyak konsumen mengalami kesulitan memenuhi kewajiban keuangan mereka. (ARF)