Pasokan minyak naik, Goldman Sachs pangkas proyeksi harga Brent
Sabtu, 13 Juni 2026
LONDON - Goldman Sachs menurunkan proyeksi rata-rata harga minyak Brent pada 2027 menjadi US$80 per barel seiring meningkatnya pasokan global dan melemahnya permintaan.
Meski demikian, bank investasi tersebut memperingatkan bahwa harga minyak masih berpotensi berfluktuasi tajam bergantung pada perkembangan geopolitik.
Seperti dikutip Reuters, dalam catatannya, Goldman menyoroti peningkatan produksi minyak dari Amerika Serikat, Brasil, Guyana, Venezuela, dan Uni Emirat Arab (UEA), serta perubahan pola permintaan energi, terutama di Tiongkok.
"Kami memperkirakan sekitar 10% pelemahan permintaan minyak akan bersifat permanen seiring percepatan adopsi kendaraan listrik di Tiongkok," tulis Goldman.
Meski memangkas proyeksi jangka panjangnya, Goldman tetap memperkirakan harga Brent rata-rata berada di level US$90 per barel pada kuartal IV 2026.
Menurut Goldman, dampak gangguan di Selat Hormuz sejauh ini relatif terbatas karena kekurangan pasokan minyak lebih kecil dari perkiraan, sementara permintaan minyak sedang melemah dan pasar sebelumnya sudah berada dalam kondisi kelebihan pasokan.
Bank tersebut menjelaskan bahwa meskipun gangguan di Selat Hormuz sempat memangkas produksi minyak Timur Tengah secara signifikan, kekurangan pasokan global pada kuartal II diperkirakan hanya berkisar 5 juta hingga 6 juta barel per hari.
Goldman kini memperkirakan ekspor minyak dari negara-negara Teluk akan kembali normal pada akhir Agustus, lebih lambat dibandingkan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan pemulihan terjadi pada akhir Juni 2026.
Bank tersebut menilai normalisasi dapat tercapai apabila arus pengiriman melalui Selat Hormuz pulih hingga sekitar 70% dari level sebelum konflik, seiring dengan pengalihan sebagian jalur pengiriman yang telah dilakukan selama periode gangguan.
Di sisi lain, Goldman juga menyoroti risiko kenaikan harga minyak apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Dalam skenario yang lebih buruk, harga Brent diperkirakan dapat bertahan di atas US$110 per barel pada akhir 2026 apabila gangguan ekspor terus berlanjut.
Sementara itu, dalam skenario yang lebih ekstrem, harga Brent berpotensi mencapai US$140 per barel pada 2027 jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung sepanjang tahun.
Sebaliknya, jika pasokan pulih lebih cepat dan permintaan melemah lebih jauh, harga Brent diperkirakan turun ke sekitar US$70 per barel pada akhir 2026 dan menjadi US$60 per barel pada 2027. (ARF)