BOJ diperkirakan naikkan suku bunga ke level tertinggidalam 31 tahun

Sabtu, 13 Juni 2026

image

TOKYO - Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) diperkirakan akan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir pada pekan depan.

Kenaikan suku bunga tersebut juga memberi sinyal bahwa pengetatan kebijakan moneter masih akan berlanjut di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

Seperti dikutip CNA, langkah tersebut akan membuat BOJ sejalan dengan sejumlah bank sentral utama lainnya yang mulai memperketat kebijakan moneter, termasuk Bank Sentral Eropa (ECB) yang pada Kamis (11/6) menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi pasar.

Gubernur BOJ,Kazuo Ueda, dipastikan akan absen dalam rapat kebijakan dua hari yang berakhir pada 16 Juni 2026 karena sedang menjalani perawatan selama dua pekan akibat infeksi kista hati.

Meski demikian, delapan anggota dewan kebijakan BOJ lainnya diperkirakan tetap menaikkan suku bunga acuan menjadi 1% dari 0,75%, level tertinggi sejak 1995.

"Absennya Ueda tidak akan mengubah arah kebijakan BOJ yang saat ini lebih berfokus pada risiko inflasi dibandingkan risiko perlambatan ekonomi akibat konflik di Timur Tengah," kata Ekonom Senior Mizuho Research Institute Saisuke Sakai.

Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama sejak Desember 2025  dan menandai pergeseran fokus BOJ dari upaya mengakhiri kebijakan stimulus besar-besaran menuju pengendalian inflasi.

Dengan kenaikan suku bunga pekan depan yang hampir sepenuhnya telah diperhitungkan pasar, perhatian investor kini beralih pada waktu dan kecepatan kenaikan suku bunga berikutnya.

Survei Reuters menunjukkan bahwa para ekonom memperkirakan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga menjadi 1,25% pada kuartal IV tahun ini setelah kenaikan menjadi 1% pada Juni 2026.

Salah satu tantangan bagi investor adalah membandingkan nada pernyataan Ueda sebelumnya dengan Wakil Gubernur BOJ Shinichi Uchida yang akan memimpin konferensi pers pascarapat menggantikan Ueda.

Investor akan mencermati apakah Uchida memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi yang semakin meluas dapat mendorong BOJ mempercepat kenaikan suku bunga.

BOJ diperkirakan akan menegaskan komitmennya untuk terus menaikkan suku bunga seiring meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi, kenaikan biaya impor akibat pelemahan yen, dan kondisi pasar tenaga kerja yang ketat.

Namun sejumlah sumber Reuters mengatakan BOJ belum melihat kebutuhan untuk mempercepat atau melakukan kenaikan suku bunga secara beruntun karena masih adanya ketidakpastian dampak ekonomi dari konflik Iran.

"Meskipun Uchida dikenal sebagai salah satu anggota dewan yang cenderung dovish, ia kemungkinan akan menyampaikan nada yang cukup hawkish agar tidak memicu pelemahan yen yang tidak diinginkan," kata Kepala Ekonom Rakuten Securities Economic Research Institute Nobuyasu Atago.

"Ini menjadi dilema. BOJ tidak ingin terlalu dini memberikan petunjuk mengenai waktu kenaikan berikutnya di tengah ketidakpastian yang tinggi. Namun, jika terdengar terlalu hati-hati, yen bisa melemah, harga-harga naik, dan BOJ berisiko tertinggal dalam mengendalikan inflasi," ujarnya.

Kenaikan suku bunga ke level 1% juga akan membawa suku bunga kebijakan BOJ mendekati batas bawah kisaran suku bunga netral yang diperkirakan berada pada level 1,1%-2,5%, sehingga bank sentral diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati.

Meski demikian, lambatnya kenaikan suku bunga BOJ selama ini dianggap menjadi salah satu penyebab pelemahan yen yang kini bergerak di sekitar level 160 yen per dolar AS, level yang meningkatkan kemungkinan intervensi pasar valuta asing oleh otoritas Jepang.

Tinjau Pembelian Obligasi

Dalam rapat pekan depan, BOJ juga akan meninjau rencana pengurangan pembelian obligasi yang berlaku hingga Maret tahun depan sekaligus menyusun rencana baru untuk tahun fiskal 2027 dan seterusnya.

Menurut sumber Reuters, BOJ mempertimbangkan untuk mempertahankan laju pembelian obligasi saat ini setelah tahun fiskal berikutnya guna menjaga stabilitas pasar obligasi yang mulai bergejolak akibat meningkatnya risiko inflasi dari konflik di Timur Tengah.

Data menunjukkan harga grosir Jepang naik 6,3% pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu, laju tercepat dalam tiga tahun, karena perusahaan terus meneruskan kenaikan biaya akibat lonjakan harga energi.

Analis memperkirakan tekanan harga tersebut akan mendorong inflasi inti konsumen kembali naik dan melampaui target BOJ sebesar 2% pada akhir tahun ini, setelah sebelumnya sempat turun di bawah target akibat kebijakan subsidi pemerintah. (ARF)